Locita

Pram dalam Ingatan dan Perbuatan

MANUSIA dilahirkan dengan tubuh yang beraksara. Bahwa semesta ini telah dilengkapi bacaan-bacaan yang menuntut manusia mewujudkan kemampuannya sebagai pembaca. Pembacaan ini tentu amat sukar kita gapai sebelum sampai pada pembacaan yang lebih sederhana.

Bahwa leluhur-leluhur kita adalah pembaca ulung, mereka menjadi anak-anak alam yang selalu membaca apa yang dilakoninya. Nenek moyang kita berlaut dengan membaca arah angin, membaca pergerakan ombak dan rotasi bintang.

Membaca padi yang mulai ranum, membaca pergantian musim, membaca tubuh sendiri dan tubuh yang lain. Hingga mereka menyatu dan bacaan-bacaan itu mengantarkannya pada pembacaan kepada ilahi.

***

Menulis dan membaca menjadi ikhtiar bagi Pram untuk menjalankan tugasnya sebagai manusia. Setidaknya, ikhtiar terendah yang bisa dilakukan oleh manusia adalah membaca dan menulis buku. Hal serupa yang berusaha juga ditunaikan bagi mereka yang mengambil jalan menulis dan membaca sebagai penyadaran diri di depan Ilahi.

Namun, kita mungkin akan sulit menemukan lagi saat ini (bukannya tidak ada) sosok lain sebagaimana Pram yang tekun dan konsisten dalam laku membuku. Dia ulet dan giat dalam memberikan catatan disetiap buku dan peristiwa yang dibacanya. Lalu menuliskanya kembali, mengkliping dan mengarsipkannya. Bahkan, bagi Pram surat undangan pernikahan penting untuk disimpan dan dijadikan arsip.

Suatu waktu, kritikus sastra yang memiliki puluhan ribu koleksi buku, surat kabar, dan majalah dari mutakhir hingga lawas, Bandung Mawardi bertanya kepada saya. “Apakah saya telah menjadi pembaca?”

Saat itu saya frontal menjawab, “tidak”. Meskipun puluhan ribu buku telah dikhatamkannya, Bandung Mawardi belum berhak mendapatkan julukan pembaca. Membaca bagi Bandung Mawardi dan santri-santrinya memberikan makna yang lebih luas dari teks-teks di atas kertas.

Langit, hujan, putik bunga, Mustakim, Anwar Suram, pucuk-pucuk daun markisa adalah bacaan-bacaan yang terlalu rumit kita seleksi dalam diri sebelum sampai pada pembacaan teks. Kita tidak lekas bisa memahaminya tanpa pembacaan tentang yang paling rendah. Yaitu teks itu sendiri.

Pram menjerumuskan kita pada pemaknaan bahwa menyetujui diri menjadi manusia memerlukan tanggung jawab ber-iqra. Seperti perintah Tuhan “iqra” dalam kitab sucinya. Pram sudah melalui pembacaan huruf, angka, dan teks-teksnya. Saatnya kita berikhtiar membaca teks sebelum sombong mendaku diri mampu membaca konteks, keadaan, apalagi sampai pada level membaca diri dan orang lain.

Pram lahir dalam ingatan kita sebagai manusia masa kini untuk membaca dan menulis buku. Di tengah sengatan dan euforia gerakan literasi, Pram telah diresmikan menjadi idola para intelektual muda-mudi sekalipun mereka yang baru tersengat gerakan literasi. Akan tetapi, butuh kekuatan dan keberanian untuk mencoba atau sekedar masuk dalam dunia kebukuan Pram. Mengidolakan tentu adalah jalan paling mudah dan pintas.

Pram menghabiskan waktunya hingga berhari-hari di ruang kerjanya, membuka buku, membaca lagi dan menulis terus. Tidak pernah ia berhenti meski dibuang ke pulau buru. Pram masih menghasilkan buku yang kita kenal dengan tetralogi pulau buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Rumah Kaca, dan Jejak Langkah).

Pengalaman lain dalam berbuku juga dituangkan Knut Hamsun dalam bukunya yang berjudul Lapar. Pembaca digiring untuk ikut merasakan gelora menulis Knut Hamsun, ia menulis dan tubuhnya diabaikan. Tidak ada harta yang dimilikinya selain sebatang pena yang ia gunakan untuk menulis bahkan disaat tubuhnya sudah tak berenergi karna hanya memakan kulit jari-jarinya.

Kegilaan berbuku juga bisa kita jumpai dalam novel tipis dan menginggit karya penulis Amerika Latin, Carlos Mario Dominguez, Rumah Kertas. Brauer berumah dalam buku seperti dikisahkan Jorge Dinarli: “Sepanjang umurnya membangun koleksi yang penting. Pecinta buku tulen, yang sanggup mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk buku yang akan menyita waktu mereka berjam-jam, tanpa kebutuhan lain kecuali untuk mempelajari dan memahaminya.”

Perjalanan lain pernah dituangkan oleh James Murray dalam buku The Professor and The Madman. Kedalaman kerja Murray membuatnya berdesakan dengan naskah-naskah lama dan buku-buku lawas. Murray menjadi salah satu kontributor yang memberikan sumbangan paling besar dalam perumusan kamus Oxford English Dictionary.

Sebagaimana Pram, Knut Hamsun, Carlos Brauer, James Murray, Bandung Mawardi dan orang-orang yang menyadari usaha berbuku dan menulis adalah jalan mewariskan kebertuhanan dalam diri. Semoga kita tidak hanya sibuk mengisahkan dan bahwa ada sosok sastrawan dunia yang sangat melegenda yaitu Pramoedya Ananta Toer untuk dijadikan sebagai atribut kebanggaan.

Pram tidak perlu dipuji sebagaimana penjara tidak membuatnya berhenti sejengkalpun untuk menulis. Dari tangannya lahir 50 karya dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 42 bahasa asing. Karena kiprahnya di gelanggang sastra dan kebudayaan, pelbagai penghargaan international telah diraihnya. Hingga akhir hidupnya, ia adalah satu-satunya wakil Indonesia yang namanya berkali-kali masuk dalam daftar Kandidat Pemenang Nobel Sastra.

Lebih dari itu bagi saya Pram sudah berhasil menjadi manusia yang membaca dan menulis, yang akan terus hidup. Raganya kita jumpai disetiap bunyi lembaran buku yang kita buka.

 

Selamat Ulang Tahun Pram.

Ais Nurbiyah Al-Jum’ah

Ukhti Garis Seberang.

Add comment

Tentang Penulis

Ais Nurbiyah Al-Jum’ah

Ukhti Garis Seberang.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.