Locita

Praktik Sosial Pasca Kenormalan Baru: Donasi Bodong, Tarung Jalanan, dan Aksi Seleb Berbikini

Dalam waktu sepekan lebih belakangan ini, warga +62 dihebohkan dengan tiga kejadian viral di jagad maya yang cukup menarik banyak perhatian, yaitu donasi bodong 2 triliun, pesta tarung jalanan, dan aksi protes seleb berbikini di trotoar. Hal menariknya adalah bagaimana motif dan cara para pelaku yang nampaknya ingin menguak suatu kebenaran dengan pembenarannya masing-masing. Apa mungkin ini adalah bagian dari dampak pasca masa kenormalan baru? Perubahan sosial masyarakat kian mantap menyampingkan stigma dan kenormalan pada umumnya.

Mempertontonkan kekonyolan ke hadapan publik dengan sengaja dan terencana, tentunya bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan dan diterima oleh kebanyakan orang. Pasalnya tindakan tersebut dapat berujung ke sanksi sosial, dan tentunya menjadi perkara hukum yang menyusahkan. Tidak banyak orang yang nekad melakukannya jika bukan tanpa keberanian dan alasan yang kuat.

Kejadian viral itupun tampak seperti hal yang lumrah sebagai praktik sosial pasca masa kenormalan baru, yang merefleksi dan merespon keadaan pandemi. Masa kenormalan baru telah berlalu, berbagai persoalan terlewatkan. Mulai dari perdebatan kebijakan dan definisi kenormalan baru, ketimpangan norma sosial masyarakat dalam menjalani protokol kesehatan, hingga kasus korupsi bantuan sosial yang seketika memperkeruh situasi dan membuat kecarut-marutan di tengah masyarakat terhadap keadaan pandemi.

Kenormalan baru telah digaungkan dan diartikan sebagai suatu keadaan normal yang baru. Walaupun secara harfiah diambil dari terjemahan, “New Normal”, yang mana itu istilah dalam bisnis dan ekonomi dengan merujuk pada kondisi usai krisis keuangan dan resesi global 2007-2012 silam. Namun kini istilah itu kembali digunakan, kenormalan baru, berarti hal yang sebelumnya dianggap tidak normal atau tidak lazim, bisa menjadi umum dilakukan. Karena itu sejumlah perubahan terjadi, yang juga mungkin termasuk menjadi lazim bagi masyarakat untuk melakukan donasi bodong, pesta tarung jalanan, hingga aksi berbikini di trotoar.

Ketiga kejadian tersebut dapat disebut sebagai bentuk praktik sosial karena adanya habitus yang terbentuk dalam waktu tertentu. Dalam pandangan seorang Sosiolog, Pierre Bordieu, mengatakan bahwa individu bertindak dalam kehidupannya sehari-hari dipengaruhi oleh struktur atau aturan yang ada dalam masyarakat. Namun individu dalam tindakannya bukan seperti boneka yang bergerak sesuai dengan aturan yang menggerakkan. Sebaliknya, individu dalam tindakannya bukan bertindak sesuka hatinya tanpa diatur oleh rambu-rambu yang ada dalam hal ini adalah aturan atau budaya.

Dalam hal ini para pelaku pun secara sengaja dan terencana melakukan tindakannya, sehingga segala konsekuensi jelas harus dapat diterima dan dipersiapkan dengan mempertaruhkan dirinya sendiri. Tentunya tindakan itu dilakukan bukan tanpa alasan yang kuat. Jika dilihat jauh lebih dalam pandangan subjektif, ketiganya memiliki kesamaan refleksi dan respon yang dapat dipandang sebagai kritik sosial dalam konteks kenormalan baru. Walupun itu tidak dapat dibenarkan, tetapi juga memiliki kebenaran dan pembenarannya sendiri.

Upaya kritik yang paling jelas dilakukan adalah aksi protes seleb yang berbikini di trotoar sambil membawa sebuah papan bertuliskan, “saya stres karena PPKM diperpanjang”. ‘Kegilaan’ itu dianggapnya sebagai hal yang lumrah dengan menggunakan sumberdaya seksualitas personal untuk memanifestasi budaya dalam ranahnya. Jika hanya dengan cara itu kritik dapat dilakukan, maka mungkin itulah kebenaran dan pembenaran yang mencerminkan bahwa ranah personalnya sedang mengalami situasi yang sulit dan cukup ekstrim. Namun tentunya jgua tidak serta-merta dapat diterima secara umum kecuali hanya pada golongannya saja.

Dalam kasus lain, pesta tarung jalanan, berpandangan bahwa perlu adanya upaya alternative-kolektif untuk memenuhi kebutuhan hidup dalam situasi sulit saat ini, kendati itu melakukan pertarungan dan pertaruhan dengan peraturan yang tentunya berlaku dalam ranahnya. Tarung jalan juga dianggap sebagai gagasan untuk mengatasi ketidakteraturan kriminalitas jalanan, seperti pembegalan dan sebagainya, yang dianggap itu ‘tidak lebih baik’ daripada tarung jalanan. Hal itu menunjukan bahwa ketidaklaziman juga bisa menjadi umum dilakukan jika terdapat keteraturan yang disepakati bersama.
Sementara itu pada kasus donasi bodong 2 triliun secara khusus menjadi yang paling menarik banyak perhatian publik. Pasalnya donasi itu dimaksudkan untuk bantuan COVID-19, yang notabene pada saat ini banyak orang yang terdampak oleh pandemi dan menanti-nantikan adanya bantuan. Sebenarnya donasi adalah hal yang biasa di Indonesia, dengan begitu banyaknya informasi kedermawanan seseorang, lembaga/yayasan, ataupun korporat yang diekspos sebagai bentuk kepedulian sosialnya.

Donasi bodong 2 triliun ini dilakukan dengan cara yang cukup ekstrim. Secara terbuka pelaku melakukan pembohongan publik, memberikan donasi dengan mendatangi pihak kepolisian setempat. Nahasnya, ketika ditindaklanjuti dengan pemeriksaan oleh Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), hasilnya ternyata nihil. Uang tersebut tidak ada. Sungguh aneh bin ajaib.

Menurut PPATK keanehan kasus ini jelas dilihat dari jumlah uang yang didonasikan cukup besar sementara profil sosok yang memberikan donasi terbilang misterius. Ditambahkan juga bahwa pelaku tidak masuk dalam catatan orang terkaya di Indonesia. Jadi bagaimana bisa orang tersebut dapat memberikan donasi sebanyak itu sementara kekayaannya tidak masuk dalam catatan.

Dari pandangan awam secara positif penulis melihat adanya niat baik dari pelaku karena ingin berdonasi, tetapi tentunya tindakan pembohongan publik itu jelas bukanlah hal yang pantas, apalagi dengan atas nama donasi bantuan untuk masyarakat. Di balik kejadian ini tentunya ada motif yang tersembunyi. Pasalnya bagaimana mungkin seseorang serta-merta dapat mencelupkan diri bahkan keluarganya masuk dalam sebuah perkara publik? Asumsi awam penulis memandang ini semacam kamuflase kritik sosial gaya kenormalan baru yang memiliki perencanaan dengan sangat baik.

Melihat ketiga kejadian ini kita perlu memperhatikan bagaimana habitus individu atau pelaku dalam melakukan pembatinan nilai-nilai sosial budaya yang beragam dan adanya rasa permainan (feel for the game), sehingga melahirkan bermacam gerakan yang disesuaikan dengan permainan yang sedang atau ingin dilakukan. Artinya bisa saja para pelaku beranggapan bahwa keberadaaanya saat ini adalah bagian dari sebuah permainan dari hasil internalisasi struktur dunia sosialnya atau struktur sosial yang dibatinkan sendiri selama ini. Perpaduan pengaruh internal ataupun eksternal individu juga menjadi pertimbangan lain yang tentunya membuat segala kemungkinan dapat terjadi dengan ketersediannya sebuah arena khusus, ruang publik maya.
**

Agung Ramadhan

Agung Ramadhan

Hamba Allah

Tentang Penulis

Agung Ramadhan

Agung Ramadhan

Hamba Allah

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.