Locita

Prabowo Harusnya Mengutip Novel Tere Liye bukan Ghost Fleet

Ilustrasi: Luki Ahmadi Hari Wardoyo

“GAMBAR-gambar pendiri bangsa masih ada di sini, tapi di negara lain mereka sudah bikin kajian-kajian di mana Republik Indonesia sudah dinyatakan tidak ada lagi tahun 2030.”

Prabowo mengucapkan itu dengan semangat berapi-api dan telunjuk yang senantiasa teracung. Pernyataan itu diutarakannya dalam sebuah video yang diunggah di media sosial milik partainya, Gerindra.

Sontak pernyataan ini membuat riuh netizen. Beberapa mencibir sikapnya. Tak lepas juga Presiden Jokowi, yang tertawa oleh statemen tersebut. Nyatanya kutipan tersebut diambil dari salah satu novel berjudul Ghost Fleet: a Novel of The Next World War.

Konon katanya novel yang ditulis oleh Peter Warren Singer dan August Cole, ini memicu perhatian di dunia persilatan militer Amerika Serikat. Konon (lagi) katanya novel ini menjadi blue print untuk memahami perang di masa depan. Lagi-lagi saat mendengar itu saya membayangkan bagaimana kedahsyatan yang juga diutarakan oleh Tom Clancy dengan novel-novel genre militernya, atau yang lebih canggih Jules Verne dengan prediksinya akan teknologi masa depan. Yah, lagi-lagi ini mi karena kebodohan karena tidak membaca novelnya.

Sebenarnya Prabowo sah-sah saja ji iya, kalau misalnya mengutip fiksi dalam bahan orasi politiknya. Banyak ji tokoh politik yang menjadikan novel sebagai referensi ataupun kutipan-kutipan yang menunjang agitasinya. Prabowo mungkin mengikuti apa yang  politisi Inggris, Jeremy Corbyn lakukan di tahun 2015 silam.

Saat di sebuah konfrensi Partai Buruh. Di sana, sang kosong satu partai mengutarakan hasil bacaannya akan novel The Famished Road karya penulis Nigeria, Ben Okri. Namun bedanya, The Famished Road diproduksi massal di negaranya, beda dengan Ghost Fleet yang masih susah didapat di negeri Pak Prabowo.

Pak Prabowo harus tahu, terkadang mengutip karya sastra bisa membuat kita menjadi literary snob, sikap seakan intelek dan berselera tinggi dalam bacaan, bisa jadi terjebak pada sikap seakan maha tahu. Sudah jelas publik tentu lebih menyukai sosok yang merakyat dan dangkal. Apalagi masih banyak yang belum membaca novel Ghost Fleet.

Indikator saya jelas, anak sastra macam Ais Nurbiyah dan pemakan buku, Yusran Darmawan konon belum membaca ini. Kita tidak tahu bagaimana konteks kutipan Indonesia bubar tahun 2030 itu. Apalagi bubarnya Indonesia itu, merujuk ke Wikipedia, tidak masuk alur besar dalam novel itu.

Lantas kenapa harus Ghost Fleet?

Di situ saya juga heran. Sebenarnya Indonesia tidak kehabisan ji stok penulis-penulis dengan gaya kritik terhadap nasionalis dan konspirasi kok. Apalagi aneh saja, ketika Prabowo mengungkapkan ucapan khas nasionalismenya: pemilikan masyarakat akan tanah, penguasaan aset, dan eksploitasi sumber daya alam.

Bukankah kesemua pernyataan tersebut seakan menolak invasi asing. Lantas kenapa pula Pak Bowo ini menggunakan novel asing? Apa penulis-penulis Indonesia sudah kehabisan ide tentang prediksi akan kehancuran Indonesia? Tidak lah.

Kalau memang ingin mengangkat isu nasionalisme bukankah sudah ada Pramoedya Ananta Toer atau bisa juga Mas Marco.

Kalau mau yang lebih kekinian, ada Es Ito dengan Negara Kelima yang sangat kuat dengan jargon, “Bubarkan Indonesia, bebaskan Nusantara, bentuk negara kelima.” Novel ini memang lebih menggali sejarah alternatif. Kalau mau yang unsur-unsur klenik dan kejawen ada Dharmasasangka dengan novel Dharmagandul.

Tapi yah, memang iya menggunakan nama-nama di atas memang berbahaya. Bisa-bisa Gerindra dikaitkan lagi dengan komunis dan antek-antek kaveer. Bisa-bisa cita-cita luhur Prabowo untuk menyalip elektabilitas Jokowi gagal dan harus tiarap lagi untuk kesekian kali di 2019.

Nah, untuk itu salah satu nama alternatif adalah sapa lagi kalau bukan pengarang hebat Indonesia, Tere Liye. Nah, nama ini kan lebih jelas dan lebih famous. Bukunya gampang di dapat di Gramedia dan produk bajakannya mudah didapat.

Tahu kan kalau Tere Liye itu pernah membuat novel yang hampir serupa dengan pidato dan harapan Prabowo akan kutipannya. Judulnya Negeri di Ujung Tanduk dan Negeri Para Bedebah. Apalagi topik yang disinggung di dwilogi novel tersebut bisa dibilang terkait salah satu skandal keuangan terbesar di bangsa ini yang belum selesai.

Kutipannya? Jangan ragukan Tere Liye dalam meracik kutipan-kutipan.

Jika kita memilih tidak peduli, lebih sibuk dengan urusan masing-masing, nasib negeri ini persis seperti sekeranjang telur di ujung tanduk, hanya soal waktu akan pecah berantakan. — Negeri Di Ujung Tanduk

Ketika satu kota dipenuhi orang miskin, kejahatan yang terjadi hanya level rendah, perampokan, mabuk-mabukan, atau tawuran. Kaum proletar seperti ini mudah diatasi, tidak sistematis dan jelas tidak memiliki visi misi, tinggal digertak, beres. Bayangkan ketika kota dipenuhi orang yang terlalu kaya, dan terus rakus menelan sumber daya di sekitarnya. Mereka sistematis, bisa membayar siapa saja untuk menjadi kepanjangan tangan, tidak takut dengan apapun. Sungguh tidak ada yang bisa menghentikan mereka selain sistem itu sendiri yang merusak mereka. — Negeri Para Bedebah

Kutipan-kutipan di atas sangat cocok bersanding dengan pidato Prabowo saat itu. Bahkan terasa lebih dekat, karena ditulis oleh orang Indonesia dan diproduksi massal. Sehingga ketika Prabowo lovers yang luar biasa mengkultuskannya, ketika telah mendengar pidato itu. Mereka dapat langsung mendapatkan kutipan-kutipan tersebut di toko-toko buku kesayangannya. Dibandingkan harus mencari novel Ghost Fleet yang harganya memberatkan kantong dan belum ada terjemahannya.

Kalau soal kemampuan akademik, Tere Liye juga tak kalah kok dari PW Singer dan August Cole. Tere Liye ini seorang sejarawan ulung. Dia mampu merekonstruksi sejarah bangsa dan mengetahui sapa saja yang berperan untuk kemerdekaan untuk bangsa ini.

Sumber: brilio.net

Hitung-hitung kalau misalnya dengan menjadikan novel Tere Liye menjadi kutipan, mungkin ada mi lagi tawwa semangatnya Si Mas Darwis ini untuk menulis lagi, setelah protesnya terhadap honor horor para penulis.

Oh iya, jangan lupa Mas Darwis ini semacam menjadi tokoh sentrum dibalik protes terkait pajak para penulis. Bayangkan kalau misalnya Tere Liye ikut-ikutan bicara seperti halnya Peter Warren Singer yang mengunggah foto Prabowo. Wah, bisa-bisa elektabilitasnya meningkat kan? Dengan didukung oleh para penulis yang dikebiri pajak tentunya.

Pak Prabowo, kalau memang prediksi Indonesia bubar di tahun 2030 benar adanya. Ada baiknya raihlah kursi kepresidenan di 2019. Tentu dengan mengutip novel yang tepat dari para pribumi dan penulis yang karyanya diproduksi massal dan lebih dikenal di negeri sendiri tentunya.

Plus ikuti kata Nick Hornby, kalau mau mendapatkan popularitas ya, jangan jadi literary snob.

Dhihram Tenrisau

Dokter gigi di klinik BPJS

1 comment

Tentang Penulis

Dhihram Tenrisau

Dokter gigi di klinik BPJS

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.