Esai

Politik Selebriti Ala Deddy Mizwar Terbukti Berhasil

POLITIK dipandang sebagai cara untuk memperoleh kekuasan. Ada kepuasan tersendiri ketika seseorang mampu menduduki kursi tertinggi dan berpengaruh bagi banyak orang. Tak heran jika banyak yang hendak merebut kursi kepala daerah di negeri ini. Tercatat di tahun 2018 saja ada 171 daerah yang akan melaksanakan pemilihan.

Di Indonesia, perebutan kekuasaan dianggap wajar jika diperebutkan oleh kalangan militer. Orang-orang militer yang terjun ke politik dianggap lumrah. Namun, tiba-tiba sebuah fenomena mengusik ketenangan masyarakat Indonesia. Fenomena artis yang mencalonkan diri sebagai pemimpin daerah, dipandang sebagai hal yang tidak biasa.

Mengapa hal tersebut bukan sesuatu yang wajar. Bukankah inti dari demokrasi ialah dari rakyat, untuk rakyat dan oleh rakyat?

Di Amerika Serikat, fenomena artis terjun ke dunia politik telah terjadi sejak lama. Bahkan Ronald Reagan yang merupakan artis televisi dan radio pernah menjadi presiden. Reagen yang kala itu berusia 69 tahun, menjabat presiden AS hingga dua periode dari 1981 hingga 1989. Di tingkat gubernur, ada Arnold Schwarzenegger menjadi gubernur California dari 2003-2011. Di Asia Tenggara, kita mengenal Joseph Estrada yang menjadi Presiden Filipina dari tahun 1998-2001, meskipun kepemimpinannya banyak dihujat.

Saya mengira artis yang menjadi pemenang sebuah pertarungan di sebuah daerah tentu karena ia memiliki kapibilitas dan kapasitas. Tak sedikit calon kepala daerah atau legislatif yang harus gigit jari karena tak dipercaya oleh masyarakat.

Fenomena artis dalam dunia politik, disampaikan oleh Darrell West, dalam bukunya Celebrity Politics yang terbit pada 2003. West menulis bahwa artis dan pelawak tergiur terjun ke jabatan publik, akibat perkembangan media, khususnya televisi, dan demokrasi.

Televisi seakan menjadi medium yang sempurna bagi selebiriti untuk mendulang kemasyhuran dan citra diri. Celebrity Politics mulai dikenal dalam terminologi Ilmu Politik Amerika setelah para bintang film, pemain sinetron, komedian, dan penyanyi terjun ke dunia politik, tidak hanya sebagai penghibur panggung kampanye atau pengumpul suara.

Di Indonesia Indra J. Piliang dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS) pernah merisetnya pada pemilu 2009. Tahun itulah, artis mulai banyak yang terjun ke dunia politik, tidak hanya sebagai calon legislatif, tapi juga kepala daerah. Hal ini juga didukung dengan sistem pemilihan langsung yang diterapkan.

Indra menyebut artis ngebet jadi politisi atau sebaliknya sebagai hal yang akan biasa saja, seperti militer ke dunia politik. Hal itu disebabkan karena artis dianggap potensial sebagai ‘vote getter’ oleh partai. Ada harapan dari masyarakat, untuk munculnya tokoh-tokoh alternatif, dan dianggap membawa perubahan.

Jika fenomena artis yang berhasil memenangkan pertarungan terjadi. Berarti ini sebuah kritikan juga untuk partai politik kita. Mengapa masyarakat lebih memilih artis yang notabene tidak dibesarkan oleh partai mampu meraup suara yang signifikan dan mengalahkan calon dari partai.

Pilkada Jabar

Pilkada Jabar adalah contoh konkret bagaimana masyarakat lebih memilih artis ketimbang tokoh lain. Pada 23 April 2008, masyarakat dan elit politik di Jawa Barat dikagetkan dengan terpilihnya pasangan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf sebagai gubernur dan wakil gubernur. Pasangan ini meperoleh 42% suara, unggul dari dua pasangan lainnya yang masing-masing hanya memperoleh 33% dan 24% suara.

Pasangan ini mengalahkan dua pasangan lainnya yang lebih diunggulkan dan merupakan Incumbent yakni pasangan Danni-Iwan. Danni adalah adalah gubernur Jawa Barat, dan berpasangan dengan Iwan yang berlatar belakang militer. Iwan merupakan mantan Panglima Kodam Siliwangi Jawa Barat. Mereka didukung Golkar.

Contoh berikutnya ialah ketika Ahmad Heryawan menggandeng Deddy Mizwar di periode berikutnya. Mereka dipilih sebanyak 32,39 % pemilih dan menang satu putaran.

Kini di ujung kepemimpinan mereka, ternyata pasangan ini dianggap berhasil oleh masyarakat Jabar. Terkait dengan penilaian kinerja pemerintah, Poltracking Indonesia memetakan kepuasan masyarakat Jabar terhadap kinerja Pemprov pada Mei 2017 lalu.

Persentase kepuasan terhadap Aher sebesar 64,26%. secara kuantitatif, angka kepuasan relatif tinggi karena berada di atas 50%. Demikian pula penilaian terhadap Deddy Mizwar, publik yang puas dengan kinerjanya sebesar 52,38%.

“Secara kuantitatif, kepuasan terhadap Deddy masih relatif cukup baik karena di atas 50%,” kata Direktur Eksekutif Poltracking, Hanta Yudha.

Hanta Yudha juga menjelaskan dari riset tersebut ada empat indikator penilaian yang didapatkan, yakni pelayanan kesehatan yang terjangkau (63,75%), pendidikan yang terjangkau (61,13%), pembangunan infrastruktur jalan raya (57,13%), dan pelayanan publik (46,13%).

Naga Bonar Jadi Gubernur

Artis Deddy Mizwar salah satu yang paling menonjol dari sosok pemimpin daerah yang berasal dari kalangan artis. Tak sedikit penolakan terhadapnya.

Artis yang beken lewat film Naga Bonar di tahun 80-an ini memang kembali mencalonkan diri sebagai pemimpin daerah tahun ini. Sebelumnya, berpasangan dengan Ahmad Heryawan (Aher) ia berhasil memenangkan palagan Pilkada Jabar 2013 lalu. Demiz –demikian panggilan akrabnya- kini mencoba peruntungan sebagai gubernur Jabar periode 2018-2023.

Menurut beberapa survei, Deddy Mizwar memiliki kans menjadi Guberur Jawa Barat. Hal ini berdasarkan survei terbaru Indonesia Network Election Survei atau INES. Direktur INES, Sutisna mengatakan, lembaga itu menggelar menggelar riset untuk mengetahui tingkat elektabilitas dari 5 tokoh yang mencuat dalam kontestasi kali ini, yakni Wakil Gubernur Jabar saat ini Deddy Mizwar, Wali Kota Bandung Ridwan Kamil, Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi, Ketua Komisi X DPR RI dari Fraksi Demokrat Dede Yusuf, dan Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan Rieke Diah Pitaloka.

Berdasarkan sruvei, Deddy Mizwar memiliki tingkat popularitas yang paling tinggi dengan 79,2% disusul, Rieke Dyah Pitaloka 70,2%, Dede Yusuf 70,1%, Dedi Mulyadi 56,7%, dan Ridwan Kamil 53,8%,” ujarnya, Sabtu (9/9/2017).

Deddy juga menempati urutan teratas tingkat keterpilihan dengan pilihan 82,4% responden yang menganggap dia mampu pimpin Jabar. Disusul Rieke Dyah Pitaloka dengan 75,2%.
“Posisi setelah Ryeke ada Dedi Mulyadi dengan 73,5%, Dede Yusuf 70,7% dan terakhir Ridwan Kamil dengan 67,9%,” lanjutnya.

Untuk tingkat penerimaan, Deddy Mizwar dianggap mampu merangkul dan berdiri diatas semua golongan dengan pilihan responden sebanyak 89,3%, Rieke Dyah Pitaloka 70,2%, Dede Yusuf 68,2%, Dedi Mulyadi 67,4%, dan Ridwan Kamil 64,3%.

Para responden juga ditanya tentang tokoh yang mereka anggap paling berintegritas dengan indikatornya adalah bermoral, satu dalam kata dan perbuatan, bersih dari cacat moral, etik dan hukum,” ucap Sutisna.

Lagi-lagi, lanjutnya, Deddy Mizwar dinilai sebagai tokoh yang paling berintegritas dengan raihan 89,3%. Selanjutnya Dedi Mulyadi 71,2%, Dede Yusuf 69,4%.

Pada akhirnya semua terpulang pada masyarakat. Demiz pernah mengatakan bahwa jika seorang mantan narapidana saja bisa mencalonkan diri sebagai artis. Mengapa ada masalah jika artis terjun ke dunia politik? Sepertinya hal ini benar. Toh mereka berhak diberi kesempatan. Apalagi jika mereka ternyata berhasil dan memiliki kompetensi sebagai pemimpin.

Baiknya popularitas artis dalam dunia politik  menjadi ujian bagi negara kita. Apakah kualitas demokrasi menjadi lebih baik, ataukah fenomena tersebut malah memperburuk kualitas demokrasi. Hal ini dapat terlihat dari kualitas para artis ketika mentas di panggung kepemimpinan, tak seperti di televisi yang penuh ilusi, dan Deddy Mizwar memberi bukti artis pun punya kemampuan memimpin.

Aco Pamatte

Aco Pamatte

Penyintas yang menyukai kecap dan literasi.

Previous post

Di Balik Foto-Foto Keren Mahasiswa Luar Negeri

Next post

Budidaya Udang Vannamei Kian Memikat di Sulselbar