Locita

Politainment: Epos Baru Dalam Media

SEJAK tahun 2014, artis layar kaca berbondong-bondong menjadi politisi. Sejak 2014 pula, politisi berbondong-bondong menjadi artis yang memenuhi layar kaca.

Setiap harinya, layar kaca Indonesia dipenuhi dengan adegan-adegan yang dilakonkan oleh politisi negeri. Layaknya artis, mereka berusaha memainkan perannya dengan baik, agar para penonton (calon pemilih) dapat terpukau.

Justus Nieland menyebut fenomena di atas sebagai fenomena Politainment. Fenomena yang memadukan antara politik dan entertainment.

Fenomena yang mengemas konten politik menjadi hiburan. Sebut saja adegan Sandiaga Uno memakai lip balm, drama papa Setya Novanto mulai dari terbaring di rumah sakit.

Hingga tragedi menabrak tiang listrik, statement tenggelamkan dari Menteri Susi, santap siang presiden Jokowi dan Raja Salman menjadi sebuah tontonan yang menghibur bagi publik. Apalagi ketika konten-konten politik dikemas dalam meme-meme yang lucu.

Beberapa waktu yang lalu, “Politainment: Epos Baru Dalam Media menjadi topik pada salah satu rangkaian agenda Communication Fair 2018 yang diselenggarakan Korps Mahasiswa Ilmu Komunikasi (KOSMIK) UNHAS.

Dr.Dadang Rahmat hidayat (Dekan Fikom UNPAD), Dr.H.M. Iqbal Sultan (ketua  departemen Ilmu Komunikasi UNHAS), Prof Judhariksawan (Ketua KPI Pusat 2013-2016/Akademisi Hukum Media), dan Yovantra Arief (peneliti Remotivi) berkolaborasi sebagai pembicara.

Dr. Dadang Rahmat menyampaikan bahwa perkembangan media penyiaran telah mempengaruhi perilaku politik. Media dipandang sebagai alat yang sangat efektif untuk mempengaruhi. Media televisi dimanfaatkan sebagai peluang untuk meningkatkan elektoral. Hanya saja media pertelevisian cenderung dikuasai oleh elite saja.

Tentu masih jelas dalam ingatan ketika Wiranto dan Hary Tanoe mendeklarasikan diri sebagai capres dan cawapres 2014 lalu. Mereka kerap hadir di layar kaca dengan berbagai adegan.

Mulai dari menyamar menjadi kakek-kakek pengemis, tukang becak dan adegan lainnya. Sorot media mencoba mengonstruksi pemikiran pemirsa bahwa keduanya adalah tokoh yang sangat merakyat. Bahkan keduanya sempat muncul pada salah satu episode Tukang Bubur Naik Haji.

Namun, perkembangan media digital telah membuat arena pertarungan politik semakin luas. Pada media digital, semua orang punya kesempatan untuk menjadi komunikator politik. Ruang apresiasi hingga kritik, terbuka bebas kepada setiap orang.

Setiap orang bisa menyampaikan informasi yang mencitrakan atau menyerang tokoh tertentu. Bahkan mencitrakan diri sendiri adalah sebuah keabsahan pada ruang ini.

Hal tersebut dibenarkan oleh Yovantra bahwa kekuatan media digita/sosial membuat segala sesuatunya menjadi cair. Kehadiran media digital telah memberikan kesempatan kepada setiap kelompok untuk berjejaring yang berujung pada viral.

Viral-nya sebuah informasi menurut Yovantra telah membuat kita begitu dekat dengan peristiwa yang tersampaikan melalui informasi. Dalam tulisan “Politainment Gubernur Baru Jakarta”, Yovanka menjelaskan peran media dalam memberitakan pelantikan Anies-Sandi. Rentetan berita demi berita yang disajikan telah mengajak penonton ikut mengalami dan merayakan pelantikan tersebut.

Dr. Iqbal Sultan melanjutkan, bahwa persentuhan antara politik dan media membuat politik tidak lagi terbahasakan secara kaku dan formal. Politik sudah dapat dibahasakan dengan bahasa-bahasa simbol melalui media.

Hal itu bisa kita lihat dari aktivitas Jokowi yang terekam media saat berlatih tinju. Saat itu, Jokowi terlihat sedang mengenakan sarung tinju dan dilatih oleh pelatih profesional. Dr. Iqbal menganggap bahwa adegan tersebut merupakan bentuk bahasa politik secara simbolik.

Tinju adalah sebuah pertandingan yang memberikan ruang kepada dua orang untuk saling berhadap-hadapan dan berduel. Menurutnya, latihan tinju Jokowi adalah bentuk sikap politiknya yang siap untuk bertarung atau berhadap-hadapan pada pilpres mendatang.

Tentu juga masih segar dalam ingatan, aksi Zaadit yang memberikan kartu kuning  kepada Jokowi. Aksi ini kemudian diikuti oleh Fadli Zon dengan memberikan kartu merah sebagai tanda cukup Jokowi satu periode saja.

Namun, ruang bebas yang tersedia pada media digital tetap saja memberikan kekhawatiran. Pasalnya media ini juga berpotensi dikuasai oleh elite tertentu, sehingga yang muncul pada media adalah politik penampilan “seolah-olah”. Atau bisa saja terjadi monopol informasi. Oleh karena itu, regulasi sangat dibutuhkan menurut Dr. Dadang.

Prof. Judhariksawan sebagai akademisi hukum media dan selaku mantan ketua KPI pusat membenarkan bahwa regulasi sangat dibutuhkan dalam perkembangan media.

Hanya saja, keberadaan hukum mengikuti perkembangan manusia. Selama ini politainment belum memilki hukum karena bisa saja tidak dianggap sebagai sebuah masalah oleh masyarakat.

Tampilnya politik pada panggung media tidak bisa dikategorikan sebagai pelanggaran. Karena belum ada regulasi yang melarang komunikasi politik di media. Yang diatur selama ini adalah penyebaran ujaran kebencian, pencemaran nama baik dan fitnah.

Memasuki tahun politik, masyarakat akan berada dalam kepungan informasi. Dan tidak jarang infromasi antara media yang satu dengan media yang lainnya berbeda.

Kita masih mengingat dua kontestan pilpres 2014 mendeklarasikan diri sebagai pemenang pada media yang berbeda. Hal ini tentu membuat masyarakat menjadi kebingungan.

Oleh karena itu Dr. Dadang berpesan kepada seluruh peserta diskusi bahwa apapun yang tampil pada media, merupakan fakta media. Bukan fakta lapangan. Oleh karena itu dibutuhkan kecerdasan dan kearifan dalam menyikapi setiap informasi.

Tampilnya para politisi di layar kaca belum tentu mengindikasikan mereka berbicara kepentingan rakyat. Akan tetapi bisa saja ini bagian dari proses untuk menjadi bintang. Karena tak dikenal, tak dipilih.

A.Achmad Fauzi Rafsanjani

Ketua Umum Rumpun Pemuda Wajo yang nongkrong di Lingkar Mahasiswa Islam Untuk Perubahan (LISAN) Cabang Makassar. Sedang berjuang mengenakan toga di Politeknik Negeri Ujung Pandang.

1 comment

Tentang Penulis

A.Achmad Fauzi Rafsanjani

Ketua Umum Rumpun Pemuda Wajo yang nongkrong di Lingkar Mahasiswa Islam Untuk Perubahan (LISAN) Cabang Makassar. Sedang berjuang mengenakan toga di Politeknik Negeri Ujung Pandang.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.