Locita

PII dalam Pusaran Liberalisasi, Sekularisasi, dan Syiah

PEMIKIR Amerika Ralph Waldo Emerson pernah menuliskan kata-kata seperti ini, “Apakah demikian buruknya untuk disalahpahami? Phytagoras pernah disalahpahami, demikian pula Socrates, Yesus, Luther, Copernicus, Galileo, Newton, dan setiap spirit murni dan bijak yang berdaging. Untuk menjadi agung adalah untuk disalahpahami.”

Mungkin setiap pemikir memang diseleksi oleh alam dengan cara yang sunyi, jauh dari kerumunan. Mereka lahir dari lompatan berpikir yang jauh ke depan mengangkangi kelaziman pemikiran arus utama. Terjun bersama ego sekaligus kegilaan mengambil keputusan justru dilalui untuk melepaskan diri dari keumuman yang jumud.

***

Salah satu mantan Ketua PB HMI pernah berkata kepada saya, “Pelajar Islam Indonesia (PII) sekarang sudah banyak orang liberal dan syi’ahnya yah.” Kata-katanya ini tentu dilontarkan dengan nada bercanda tapi sebenarnya serius.

Sebagai orang yang merasakan proses training dan struktural di PII dari Pengurus Komisariat (PK) hingga Pengurus Besar (PB) saya tidak heran mengapa ada pernyataan yang demikian.  Di sisi lain saya juga menyadari bahwa sebagai organisasi Islam pelajar tertua di Indonesia, PII telah melewati rekam sejarah dengan banyak warna pemikiran dan ideologi yang membuat PII sampai pada titik ini.

Akan tetapi saya juga susah menyangkal jika liberalisasi, sekularisasi, dan syi’ah adalah hal yang tabu bahkan sangat tersisihkan di PII. Hal ini juga berlaku untuk setingkat Pengurus Pusat. Dengan sungguh-sungguh saya harus mengatakan itu, sangat disayangkan PII masih memegang eksklusivitasnya untuk menerima paradigma sekularisasi, liberalisasi dan utamanya kelompok syi’ah bahkan di usianya yang hampir satu abad.

Seringkali saya dan beberapa teman yang terendus memiliki pemikiran atau katakanlah yang dianggap pro terhadap pemikiran-pemikiran tersebut mendapatkan komentar nyinyir. Seorang kader pernah bercerita jika ada KB PII yang tidak ingin membantu adik-adiknya jika gerakan dan pemikiran keIslamannya berseberangan dengan apa yang dianut oleh mayoritas di PII.

Saya juga pernah mendapatkan kiriman di Group WA “PII Wati Nusantara” yang menginstruksikan agar berhati-hati dengan gerakan kelompok syi’ah yang menurut kiriman itu sudah mulai masuk ke perguruan-perguruan tinggi. Saya tentu teramat sedih setelah mendapatkan pesan itu.

Dimana kesatuan imamah dan ukhuwah islamiyah yang selama ini kita dengungkan? Sudah sedemikian kroposnyakah keluhuran kita sebagai abdi Allah?

PII adalah organisasi yang kaya dan terbuka, para pengurus dan kadernyalah yang membatasi dan membentangkan jarak dengan pandangan-pandangan lain.

Saya banyak bertemu dengan kader yang gemar melakukan kajian Marxist, kajian gender, dan feminist hingga kajian sastra dan seni. Mereka lebih rajin membuka buku bahkan membuat lapakan buku yang justru sangat mendorong program prioritas PB PII tahun ini yaitu gerakan literasi. Tulisan-tulisan mereka bertebaran di media cetak dan online. Kelompok diskusi dan kajian rutin mereka lakukan setiap hari, membedah buku bersama, berdebat, hingga harus bertengkar beberapa saat.

Saya pikir dinamika inilah yang perlu dibangun PII untuk saat ini, melarikan diri dari sikap ekslusif dan egois. Utamanya bagi pengurus yang telah ada di tingkat Pengurus Pusat atau Pengurus Besar.

***

Gagasan sekularisasi dan liberalisasi bukanlah hal yang baru di setiap gerakan organisasi Islam di Indonesia. Kita tentu mengenal Nurcholis Madjid atau yang akrap disapa Cak Nur sebagai pelopor gerakan pembaharuan sejak 1970-an.

Tonggak pembaharuannya dimulai sejak ia mengungkapkan pemikiran-pemikiran dalam ceramah halal bi  halal di Jakarta, tepat pada tanggal 3 Januari 1970. Dalam acara yang dihadiri oleh HMI, PII, dan GPI itu, Cak Nur menyampaikan makalahnya yang berjudul “Keharusan Pembaharuan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Umat”

Dalam makalah yang cukup menghebohkan itu, Cak Nur menawarkan sekularisasi dan liberalisasi pemikiran Islam sebagai pandangan baru dalam pembaharuan gerakan dan paradigma berislam. Setelah penyampaian makalah  itu, banyak aktivis, pemikir, dan intelektual yang juga mencoba menjawab dan mengkritik gagasan liberalisasi dan sekularisasi yang disampaikan Cak Nur. Apalagi hal itu disampikan di depan tiga organisasi besar HMI, PII, dan GPI.

Sejak meluncurkan gagasannya itu pula sebagai intelektual, pemikiran Cak Nur banyak dikaji dan dibahas dalam konteks hubungan dan dinamika keislaman, kemodernan, dan keindonesiaan. Dia bahkan dijuluki sebagai “lokomotif kaum pembaharu” yang dimasukkan dalam aliran neo-modernis Islam bersama Harun Nasution, Abdurrahman Wahid, Jalaluddin Rakhmat, dan lainnya.

Dalam acara pembukaan Rapat Pimpinan Nasional Pelajar Islam Indonesia (RAPIMNAS PII) 2018 di Aula Kemendikbud RI tanggal 25 Januari lalu, seorang Keluarga Besar (KB) PII melontarkan satu pernyataan yang buat saya pribadi, pernyataan itu sungguh dan teramat membahagiakan.

Abduh Zen yang merupakan Wakil KB PII Bidang Pendidikan di sela-sela membawa materi literasi di depan pelajar dan peserta RAPIMNAS yang datang dari seluruh wilayah Indonesia berkata seperti ini, “PII itu tidak ada orang yang radikal, yang ada hanya liberal dan moderat,” sontak saya tertawa, dan Sekjend PB PII yang duduk di samping saya tiba-tiba berkata, “Nah Ais, kamu liberal, saya yang saleh.”

Ais Nurbiyah Al-Jum’ah

Ais Nurbiyah Al-Jum’ah

Ukhti Garis Seberang.

Add comment

Tentang Penulis

Ais Nurbiyah Al-Jum’ah

Ais Nurbiyah Al-Jum’ah

Ukhti Garis Seberang.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.