Locita

Perjuangan Kampus Rasa Pabrik Lebih Keren dari Zaadit

Demo mahasiswa Unhas menuntut pencabutan skorsing Fiqri dan Rezki (sumber foto: tirto.id)

DI linimasa berseliweran foto jas merah, Unhas. Almamater kebanggan saya. Mereka berjejer di hadapan rektorat kampus ayam jago ini. Mereka berbaris mengangkat TOA, di situ saya merasakan ada gelora semangat meledak-ledak, meletup-letup, dan menggebu-gebu.

Aksi ini sebagai bentuk protes, membela kedua rekanan mereka yang diskorsing terkait dugaan vandalisme lewat penempelan poster “Kampus Rasa Pabrik” dan coretan pada dinding kampus.

Gelora yang sama, saya rasakan ketika menyaksikan program Mata Najwa beberapa waktu lalu, di mana Zaadit tokoh pemberi kartu kuning kepada Presiden Joko Widodo. Dia seolah unjuk gigi mengutarakan argumennya. Turut hadir pula para mantan aktivis 98, Adian Napitupulu dan Desmond, juga Moeldoko. Spektakuler!

Di sini Zaadit, Obed (Ketua BEM UGM) dan rekan-rekannya sesama perwakilan BEM mendapat panggung untuk menguliti problematika bangsa dan negara ini dari kacamata mereka.

Kedua peristiwa itu pada bagaimana definisi mahasiswa yang selalu diagung-agungkan: moral force, agent of change, dan agent of control. Masa mahasiswa memang enak, Bung. Masa ini ibarat sebuah ledakan. Ledakan itu melesak dalam pikiran dan tindakan.

Terlebih sudah belajar di pelatihan-pelatihan kepemimpinan, membaca buku, berdiskusi, hingga menutup jalan atau membakar ban saat demonstrasi.

Menjadi mahasiswa adalah masa kita merasa gagah berteriak atas nama negara. Merasa bisa memahami permasalahan bangsa ini, masa di mana kita tidak berdiri di menara gading, di mana kita seakan turut serta dalam permasalahan masyarakat kecil.

Kedua peristiwa itu sekilas sama namun berbeda. Peristiwa pertama adalah aksi yang melihat, mendengar, dan merasakan apa yang ada di lingkungannya. Lingkungan terdekat dari seorang mahasiswa: kampus. Kurang heroik dan publisitas.

Berbeda dengan yang kedua, lebih merespon isu yang tidak dekat dari orang yang memrotes. Tapi yang kedua ini glorifikasi dan euforianya membesar berkat publisitas yang berlebih. Wajarlah, yang satu internal kampus dan satunya lagi menghajar orang nomor satu negara ini.

Tidak ada yang salah memang. Namun secara pribadi saya selalu percaya bahwa sikap kritis dan aktivisme tidaklah harus muluk-muluk. Kalau seandainya lingkungan terdekat kita saja terjadi penindasan, pelarangan, dan ketidakbebasan berekspresi; apa perlu kita jauh-jauh melihat dan mengangkat tendangan kita lebih tinggi?

Kadangkala tendangan terlalu tinggi membuat kita tidak bisa bercermin dan mengalihkan hal yang harusnya lebih utama kita teriakkan.

Saya heran saja, di mana Zaadit dan BEM UI saat kasus Krimi merebak? Apakah Zaadit sudah berteriak untuk pelarangan berdiskusi di kampusnya? Apakah Zaadit sudah berkaca pada hasil penelitian Setara Institute kampusnya adalah sarang radikalisme?

Untuk Obed yang dipuja-puja para netizen, apakah Obed sudah mengkiritisi Sri Sultan Hamengkubuwono untuk penggusuran Kulon Progo dan pelarangan baksos?

Untuk hal ini saya harus mengacungkan jempol saya untuk mahasiswa Unhas. Mulai dari aksi penempelan poster yang mewakili kegelisahan saya ketika mendengar celoteh dari teman-teman mahasiswa, hingga gerakan untuk membela rekannya yang diskorsing.

Mereka setidaknya tak lupa akan saudara-saudara mereka, tidak lupa akan lingkungan kampus. Demonstrasi 100 mahasiswa itu memahami bahwa kampus dan perkuliahan saat itu menjadi lebih penting dan lebih dekat, dibanding harus mengurus kebijakan negara.

Bagi saya itu lebih nyata dan dapat terukur. Alhamdulillah skorsing itu dicabut. Dan saya yakin itu lebih jelas, dibandingkan aksi nasional yang heboh nan eksploitatif namun hasil masih menerawang. Perlawanan memang harus dikobarkan dari lingkungan terkecil ke lingkungan yang lebih besar.

Gerakan bukanlah panggung individu, melainkan panggung kolektif. Begitulah kira-kira yang biasa disebut gerakan sosial baru.

Di situ saya tidak ragu, kalaupun berhadapan dengan Presiden Joko Widodo, mereka pasti akan lebih militan dan berani dari sekedar mengacungkan kartu kuning.

Sekalipun saya tahu, mereka mungkin tidak sepadan dengan Zaadit dkk yang (mungkin) lebih dieksploitasi oleh pelbagai kepentingan. Sayang sekali, juga mereka tidak diundang di Mata Najwa, padahal saya yakin ketika berbicara mereka tidak kalah artikulatifnya dan militannya dibandingkan rekan-rekan pimpinan mahasiswa universitas-universitas tersebut.

Lagi-lagi saya ini hanya mantan mahasiswa yang melihat dari jauh. Mantan mahasiswa yang sebenarnya cukup skeptis akan idealisme dan gerakan mahasiswa.

Ya sudahlah, benar atau salahnya rekan-rekan mahasiswa, begitulah memang mahasiswa. Lagi-lagi saya ingat tuturan seorang dosen, “Kalau kita tidak berani atau beriak di masa muda. Bagaimana sepenakutnya kita di masa tua kelak?”

Apapun metode gerakanmu, saya ucapkan selamat untuk Zaadit, Obed, Fiqri, Rezki, dan mahasiswa-mahasiswa lainnya yang masih bergerak. Berhati-hatilah kawan, panggung ketenaran untuk menjadi SJW memang penuh jebakan.

Apapun yang kalian perjuangkan, perjuangkanlah. Kelak waktu dan pilihan-pilihan akan menguji ji, sampai di mana militansi dan kritisme. Semoga kelak mereka tidak mengikuti jejak senior-senior di kursi kekuasaan yang pakappala tallang, penipu rakyat.

Dhihram Tenrisau

Dokter gigi di klinik BPJS

Add comment

Tentang Penulis

Dhihram Tenrisau

Dokter gigi di klinik BPJS

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.