Locita

Perempuan : Dari Fitrah ke Kiprah Sebuah Perenungan Memaknai Tubuh dan Rumah

Pengurus Besar (PB) Pelajar Islam Indonesia (PII) melalui Badan Otonom Koordinator Pusat (BO KORPUS) PII Wati merefleksikan satu gagasan besar saat momentum Sidang Dewan Pleno Nasional (SDPN) Periode 2015/2017. Gagasan yang kemudian discripta kan dengan perempuan “Dari Fitrah ke Kiprah”.

Konsep itu diharapkan menjadi bahan rekomendasi strategis dalam gerak PII ke-depan. Selain itu dalam taraf eksternal, konsep ini dianggap mampu menjatidirikan perempuan masa kini ditengah masih maraknya celotehan persamaan hak. Ketidakadilan terhadap perempuan baik di keluarga maupun di media.

Hingga dari hal yang paling klise kita dengar abad 21 “Perempuan bisa berkarir tapi jangan melupakan kewajibannya di rumah”.
Sebagai perempuan dan juga kader PII saya merasa memiliki kewajiban menginterpretasikan makna dari fitrah ke kiprah itu.

Apakah hal tersebut telah sesuai dengan tafsiran yang jamak diyakini masyarakat saat ini. Atau ada ruang baru yang sebenarnya perlu ditafsirkan berbeda dari kata fitrah dan kiprah.

Fitrah perempuan sejogyanya adalah hal kodrati dan paling mendasar dimiliki semua perempuan. Kita seringkali menegasikannya dengan Ibu dan rumah. Maka kemudian kita mengenal istilah perempuan berkarir tanpa melupakan kodratnya sebagai isteri dan Ibu.

Kedua hal tersebut tentunya akan dihubungkan pada pekerjaan rumahan. Sehingga perempuan ideal adalah mereka yang bisa bekerja di luar rumah namun sanggup menjadi Ibu dan Isteri. Begitu.

Bagi saya tentu tidak ada hal yang lebih penting dari keduanya. Tapi mari kita menarik kata rumah dalam konsep ideal ini. Apakah rumah disini hanyalah sebuah bangunan fisik ? Memiliki jendela dan atap? Bagi saya, rumah lebih daripada itu. lebih dari sekedar penggambaran arsitektur.

Rumah dalam bahasa inggris bisa berarti house dan home. House dalam kelas kata bahasa inggris adalah kata benda yang berarti building made for people to live in, usu for one family…. dan Home dalam kelas kata, kata benda berarti place where you live (diambil dari kamus Oxford Learner’s Pocket Dictionary).

Keduanya sama-sama menunggangi kata live atau tinggal. Namun secara nilai mereka berbeda makna. House adalah sebuah bangunan, atap, jendela, dan kasur. Sementara home adalah tempat dimana kita menjadikan bangunan itu hidup, menjiwai setiap sudut, dan menyelenggarakan kehangatan di dalamnya.

Oleh sebab itu kita mengenal adagium “Home Sweet Home” bukan “House Sweet House”. Terlebih dahulu sebaiknya kita simak puisi “Tentang Rumah Kita” dari Arie Boediman La Ede:

Ini rumah kita,
Tempat kita berbagi sendawa
Dalam senyawa semesta kecil
Memainkan dawai-dawai, menderu, bersama

Seakan tak akan lekang oleh masa.
Kita rumah, rumah kita adalah batang tubuh
Membungkus jiwa
Yang duduk, berlari, sesekali berdiri ngungun
Tak acuh pada rasa yang mengering.
Disini,

Kita menghamparkan rasa
Tak pernah ingin mati muda
Selalu berharap abadi padahal tak abadi
Sementara, takdir datang seperti bayangan
Rumah kita memang di sini
Kamar tidur kita tak bersekat
Tidak sebagaimana hati kita
Yang selalu tersekat-sekat
Diantara ruang benci dan rindu yang tersesat

Metafora “berbagi sendawa,”semesta kecil,” dan “rumah kita adalah batang tubuh, membungkus jiwa” menegaskan bahwa rumah disini adalah home dan bukan house. Dalam suguhan puisi diatas saya juga mendapati dan merasakan “konteks” yang koheren dengan peran laki-laki dan perempuan.

Membicarakan kedua hal itu, kita tidak akan berlepas dari pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan. Sugihastuti dalam bukunya “Gender & Inferioritas Perempuan” membahasnya. Laki-laki, pada sebagian besar budaya memiliki akses pada posisi publik. Berkaitan dengan pengaruh dan kekuatan. Lebih kuat dibanding perempuan.

Sedangkan bagi perempuan, pengaruhnya lebih cenderung pada wilayah domestik dan non publik. Pada keduanya pengaruh yang ada dibatasi wilayah masing-masing.

Batas atau pembagian kerja tersebut bukan karena potensialitas reproduksi. Tentu diluar dari pekerjaan perempuan melahirkan dan menyusui.Tidak bisa diterima jika perempuan dijauhkan dari pekerjaan tertentu yang membutuhkan kekuatan fisik.

Meskipun ada juga perbedaan keseimbangan jenis kelamin pada alokasi kerja karena keseimbangan ini dibutuhkan demi mencapai maksud yang diinginkan. Namun ada pekerjaan tertentu yang membutuhkan kemampuan fisik di luar kebiasaan akan dikenakan pada orang-orang kuat. Seringkali laki-laki, tetapi ada pula yang perempuan.

Mungkinkah tidak ada korelasi pembagian kerja secara seksual dengan aktivitas reproduksi dan ukuran tubuh. Eksistensi pembagian kerja bersifat universal, tetapi tidak bagi detail pembagiannya. Apa yang dikatakan sebagai pekerjaan atau peran laki-laki di suatu masyarakat dapat dianggap sebagai milik perempuan juga.
***
Perempuan bagi saya adalah rumah itu sendiri. Bahwa setiap perempuan harus membangun rumah di dalam tubuhnya. Rumah yang menjunjung nilai-nilai luhur, gairah memimpin tubuhnya, suami, anak-anak, dan bangsanya. Bahwa di semesta dirinya mereka memiliki kekhasan tersendiri.

Perempuan, sebuah bangunan besar yang harus diisi dengan perabotan ilmu dan seni.
Setiap perempuan penting mengenal dan memaknai tubuhnya sendiri.

Meskipun perjuangan ideologis perempuan telah sampai pada penghargaan di tempat kerja. Seperti yang telah banyak kita temukan hari ini. Toh masih banyak kelompok sosial yang melangsungkan proses marginalisasi atas kaum perempuan.

Setidaknya penelitian Celia E Marther, Industrialization in Tanggerang Regency of West Java, 1982 dan penelitian aktivis Yasanti, Jogjakarta, mengenai kondisi buruh perempuan Jawa Tengah memperlihatkan ketimpangan itu. Kita diberi tahu bahwa pada intinya, di hampir semua sektor kehidupan. Posisi perempuan dikesampingkan oleh proses yang sudah lama mengendap dan mapan.

Tapi apapun itu jika setiap perempuan mampu memaknai, “Perempuan: Dari Fitrah ke Kiprah” maka sejatinya perempuan akan siap menjadi rumah yang bisa dikunjungi oleh siapapun dan kapanpun.

Rumah yang rela dijadikan tempat berteduh. Lahan berkebun, merebus wortel, tempat mengenalkan aksara, memotong tomat, mendongengkan pengetahuan, berhitung hingga mengemas bekal. Rumah yang didalamnya lahir anak-anak bangsa yang merdeka. Disitulah perempuan bisa dikatakan telah berkiprah.

Ais Nurbiyah Al-Jum’ah

Ais Nurbiyah Al-Jum’ah

Ukhti Garis Seberang.

Tentang Penulis

Ais Nurbiyah Al-Jum’ah

Ais Nurbiyah Al-Jum’ah

Ukhti Garis Seberang.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.