EsaiFeatured

Perang Kanda di Arena Kongres HmI

SEORANG kandidat terlihat mengerutkan dahi, di sebuah senja di warung kopi di Ambon, Rabu (21/2/2018). Wajahnya terlihat kelimpungan dan lesu sambil menatap gawai.

“Habis amunisi ini. Ada lagi kandidat yang lari,” tuturnya kepada saya dan beberapa orang yang berada di dekatnya. Amunisi ini merupakan metafora untuk salah satu ujung tombak dalam perhelatan politik ini: uang. Sedangkan lari ini merujuk pada perpindahan pemilik suara dalam hal ini cabang-cabang HmI se-Indonesia ke kandidat lain.

Sudah bukan rahasia lagi kalau memang perhelatan politik mahasiswa ini memang cukup menguras materi dan energi.

Bayangkan saja dari hotel sebagai tempat tinggal, konsumsi selama perhelatan, tiket pesawat, hingga istilah “uang kopi” dan “uang rokok” para peserta Kongres ini. Begitulah politik, deritanya tiada pernah berakhir *fuuhhh.

Saya iseng kemudian bertanya mengenai biaya yang dia butuhkan untuk me-maintenance satu cabang.

“Paling sedikit satu cabang itu dua juta, Bro,” tuturnya kepada saya. Dia kemudian menyebutkan bahwa sejumlah itu digunakan untuk biaya harian dari konsumsi, konsolidasi di warkop, hingga transportasi.

Saya kemudian membayangkan, di HmI yang bertotal 198 cabang dikalikan dua juta. Berapa totalnya coba? *sembari membelalakkan mata.

Di dalam politik memang ada terma yang disebut cost politics. Ini mencakup pembiyaan politik, dan beberapa pakar politik menyebut cost politics ini sebagai perihal yang wajar, selama tidak bentuk penyuapan suara dan transaksional dalam membeli suara. Lantas, dari manakah para kandidat ini mendapatkan uang?

Si kandidat ini kemudian menyebutkan bahwa senior adalah kunci dalam membuka keran-keran donor keuangan mereka. Mereka adalah kanda-kanda yang telah memiliki posisi kekuasaan dan pengusaha. Beberapa “kanda” lainnya adalah penghubung dari “dinda” yang menjadi calon Ketua PB HmI ini dengan para senior founder ini. Relasi ini kemudian membentuk tali temali yang selalu mengaitkan kedekatan HmI dan kekuasaan.

Keresahan ini turut pula disebutkan oleh Agus Salim Sitompul dalam bukunya 44 Kemunduran HmI, di pasal ke-40, Ketika pemilihan Ketua Umum PB HMI berlangsung di Kongres HMI, nampak gejala terjadi main duit atau money politics yang sangat merusak moral dan akhlak kepemimpinan serta citra HMI di mata anggota dan masyarakat luas.

Kedua argumen menempatkan proses ini sebagai money politics dan cost politics memang cukup bisa diperdebatkan. Keduanya memang ibarat selapis tipis tirai, samar dan butuh kejelian.

Keduanya memang tak terlepas dari sudut pandang kita melihat apakah proses politik itu secara naif atau memang itu proses pendewasaan dalam berpolitik.

Di satu masa, saya adalah orang yang bisa dibilang berpandangan cukup sumir sekaligus nyinyir pada proses tersebut. Namun, kini bisa dibilang saya cukup membuka diri bahwa itu adalah begitulah kelebihan anak HmI yang tidak dimiliki oleh para pemuda yang berproses di luar organisasi formal.

Anak-anak muda yang mengklaim diri sebagai generasi progresif dan seakan suci dari politik. Kader-kader yang besar di organisasi formal biasanya lebih terbiasa diculasi, tabah, dan tidak kaget dengan perubahan. Dan utamanya peran para “kanda” ini.

Perang Kongres di HmI adalah perang-perang para “kanda” yang mengawal kandidat yang notabene merupakan dinda-dindanya. Sebuah simulasi dari politik yang kini dijalankan pada pelaku-pelaku politik elit hari ini.

Saya harus mengakui bahwa meniti jalan politik tidaklah gampang. Seorang “kanda” haruslah meniti karir dari nol, semisal membuatkan kopi atau menjadi supir untuk “kanda-kanda” lainnya. Kemudian, menjadi senior level menengah yang tugasnya memerintah junior-junior baru.

Hingga ketika kesuksesan dalam politik menghampiri “kanda-kanda” tersebut, jadilah mereka don, sebuah terma yang menjelaskan posisi tertinggi dari “kanda” ini. Sebutan untuk kanda-kanda yangsudah bisa mengatur skema politik, membaca peluang negosiasi, membuka jejaring “amunisi”, hingga memberikan opsional terbaik untuk kandidat. Persis seperti seorang don dalam film The Godfather–minus pistol dan peluru.

Melewati fase itu tentu tidak gampang. Butuh proses dan kematangan politik. Makian dan tekanan dari lingkungan mereka yang tidak paham politik tentu sering terjadi, utamanya orang-orang yang menganggap mereka benalu, tidak jelas pekerjaannya, dan tukang nongkrong di warung kopi.

Maintenance jaringan dan membentuk jejaring tidak mudah cuy. Butuh kesabaran dan sikap lapang dada. Tak jarang beberapa orang suka mencari jalan pintas untuk itu. Hasilnya, klaim-klaim sepihak dan tipu-tipu.

Hingga hari ini HmI telah mencetak ratusan kanda-kanda dari yang KWI hingga KW super. Salah satunya bisa jadi kandidat Pilkada. Itu tuh, yang mengklaim HmI bingits di salah satu koran. *geleng-geleng kepala.

Beberapa menit berlalu, seorang “kanda” sang kandidat datang ke warkop kami.

“Ada perintah, Kanda?” tutur sang kandidat yang masih terlihat lesu.

Sang “kanda” ini menyimpulkan senyum di wajahnya.

“Alhamdulillah, ada lagi amunisi, sudah di transfer,” balasnya sembari menggesek jempol dan jari telunjuknya ini.

Kelabu di wajah sang kandidat terganti dengan rona merah. Sang “kanda” kemudian menyebutkan sejumlah angka dan nama figur seorang pengusaha terkenal yang sering nampil di televisi. Matanya kemudian beralih pada saya. Kanda tersebut kemudian terlihat bingung saat menatap saya.

Ente kandidatnya siapa? Sudah berapa cabang?” tuturnya kecut kepada saya. Di situ saya berusaha menghubungi “kanda” saya lewat telepon. Saat bertanya panjang lebar tentang pertemuan saya rekanan tersebut dengan sedikit sok tahu akan skema politik. Saya kemudian bertanya, “Jadi ada petunjuk, Kanda?”

“Ikuti ajaran Islam dan Sunnah Rasul,” tegas kandaku itu.

Dhihram Tenrisau

Dhihram Tenrisau

Dokter gigi di klinik BPJS

Previous post

Saat Jusuf Kalla Gertak Laskar Jihad

Next post

Kembalikan Media Sosialku yang Dulu