EsaiFeatured

Penyerangan Gereja Santa Lidwina dan Pikiran Buya Syafii Maarif

GEREJA Santa Lidwina Bedog, Sleman, Yogyakarta diserang. Di antara korbannya adalah seorang Pastor yang sedang memberikan pencerahan kepada para jemaatnya. Respon dari beberapa kalangan langsung mengecam kejadian ini.

Di salah satu grup WhatsApp, Juventus, Ketua Formatur Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia, langsung menyiarkan sikapnya. Pada grup lain tersiar kabar bahwa Ketua Umum GP Anshor juga melakukan hal serupa terhadap kejadian ini. Guru bangsa, Buya Syafii Ma’arif, langsung datang ke lokasi dan meminta maaf kepada para jemaat.

Kejadian penyerangan Gereja Santa Lidwina ini merupakan peristiwa yang keempat tahun ini. Sebelumnya, ada tiga kejadian yang juga menyerang tokoh agama. Akhir Januari, seorang Kyai diserang setelah salat Subuh. Awal Februari, Ustadz Prawoto dari Persatuan Islam (Persis) juga meninggal dianiaya oleh orang tak dikenal. Dan ketiga, ada kasus biksu yang terpaksa menandatangani surat perjanjian untuk tidak beribadah di kampungnya sendiri.

Peristiwa demi peristiwa tersebut seakan merusak kebhinnekaan yang telah terjalin lama di republik ini. Tampaknya ada orang yang sengaja ingin merusak tatanan kebangsaan yang telah ada. Orang menjadi ribut, sebab yang diserang adalah tokoh agama dan representasi afiliasi kegamaan mereka.

Situasi ini membuat saya kembali membuka makalah Buya Syafii Ma’arif yang dikirimkan beliau beberapa tahun yang lalu. Judulnya Persaudaraan Sejati Umat Manusia. Pada tulisan itu, Buya Syafii mengutip Al Quran Surat Al Hajj ayat 40 yang terjemahannya:

“Dan sekiranya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia atas sebagian yang lain, tentulah telah dihancurkan biara-biara umat Kristen, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid yang di dalamnya banyak disebut nama Allah.”

Menurut Buya Syafii, ayat di atas dengan jelas melarang siapa saja yang menghancurkan tempat ibadat siapapun. Para perusak yang menghancurkan tempat ibadah adalah orang yang merasa benar di jalan yang sesat. Pernyataan tokoh Muhammadiyah ini patut direnungkan.

Penyerangan terhadap rumah ibadah ataupun tokoh agama memang tidak patut dibenarkan atas dasar apapun. Apalagi dalam situasi damai yang tidak ada sangkut pautnya dengan konflik antar agama. Semua orang seharusnya berhak menjalankan agamanya masing-masing.

Efek sosial dari beberapa kasus di atas cukup berbahaya kalau tidak dicegah sedari dini. Di luar konteks hukum, para jemaat, ataupun anggota dari kelompok agama yang tokohnya diserang, tentu akan mengidentifikasi siapa yang melakukannya. Termasuk afiliasi keagamaan si pelaku. Akibatnya, memunculkan ketegangan baru, perselisihan antar kelompok yang berbahaya bagi kehidupan bangsa.

Pada titik ini identifikasi motif pelaku sebagai individu menjadi penting. Apakah dia melakukan perilaku diluar norma itu disebabkan kebencian yang ada pada dirinya atau memang berkaitan dengan pemahamannya mengenai agama. Dan yang paling urgen, bagaimana dia mendefinisikan agamanya atau kelompok keagamaan yang berbeda dengan dirinya.

Jika masalahnya adalah pemahamaan keagamaan, saya bersepakat dengan Buya Syafii bahwa mereka adalah perusak yang merasa benar. Alasannya, perbedaan dalam agama dan juga afiliasi keagamaan adalah fakta objektif dalam kehidupan bangsa. Seseorang tidak dapat memaksakan kebenaran yang dianutnya pada orang lain. Apalagi dengan melakukan penyerangan terhadap rumah ibadah dan juga para tokoh agama.

Perbedaan yang ada itu memiliki dasar sosiologis dan juga teologis. Secara umum, kalau seseorang ditanya, mengapa dia menganut agamanya, dia akan menjawab orang tuanyalah yang mengajarkan kepadanya. Ajaran tersebut semakin menguat apabila dia bertemu dengan kawan seagama dengannya. Jadilah agama tersebut melekat dan mengental pada dirinya, dan dianggap sebuah kebenaran.

Akan halnya pada posisi teologis, seseorang akan mengambil dari berbagai pilihan yang tersedia baginya. Mana yang paling masuk akal dan paling benar baginya. Dalam proses ini, seseorang bisa jadi mengalami perbedaan dengan keluarga ataupun lingkungannya. Sehingga dapat dilihat konversi agama ataupun konversi aliran keagamaan.

Dalam hal ini dapat kita temukan, orang yang besar dalam lingkungan Kristiani bisa menjadi Muslim ataupun sebaliknya. Contoh lainnya, orang yang dibesarkan secara Asy’ari kemudian berganti Salafi. Atau seorang Muhammadiyah berkonversi menjadi Syiah.

Perlu diingat bahwa dalam mencari kebenaran ini ada proses belajar yang dilalui. Termasuk juga faktor lingkungan dimana ia mendapatkan kajian agama menjadi determinan untuk mendapatkan pemahaman keagamaan yang benar menurut dirinya.

Perjalanan hidup di atas dan proses pencarian kebenaran adalah hal yang lumrah bagi manusia beragama. Sebab orang yang belajar agama akan menyadari bahwa kebenaran itu bukanlah sosiologis namun teologis. Harus ada legitimasi dari Tuhan atas segala sesuatu yang dilakukan di muka bumi.

Konsep Persaudaraan Sejati Umat Manusia yang ditawarkan Buya Syafii Ma’arif menjadi relevan terkait hal ini. Sebagai Muslim, beliau mendasarkan pandangan ini pada surat Al Baqarah ayat 213 bahwa manusia adalah umat yang tunggal. Karena itu, antara sesama manusia lainnya mestinya saling mengasihi. Alih-alih menghakimi, semua orang justru harus saling menghargai.

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

M Farid Salman Alfarisi RM

Pengamat Psikologi Sosial dan Penikmat Studi Islam

Previous post

Panggung dan Sorotan Kamera Pemegang Kartu Kuning Jokowi

Next post

Angin Segar LGBT Bernama RKUHP