Locita

Pentingnya Berpikir Ala Petinggi Sunda Empire dan ‘Raja-Raja’ Baru Lainnya Mereka memiliki rasa percaya diri dan sikap optimisme di atas rata-rata

ilustrasi (foto: Kompas TV)

Totok Santoso Hadiningrat mengklaim diri sebagai Raja Keraton Agung Sejagat. Beberapa waktu kemudian muncul Rangga Sasana mengklaim diri sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) Sunda Empire. Tak hanya itu, ada juga Rohidin sebagai pimpinan Kesultanan Selaco.

Saya menggunakan kata “mengklaim” sebab pengakuan itu semata-mata klaim mereka sendiri. Tidak peduli seberapa resmi pun mereka mengklaim dirinya.

Pertanyannya, apakah ini berkaitan dengan motif-motif tertentu, oleh pihak-pihak tertentu, dan untuk kepentingan-kepentingan tertentu? Mungkin saja! Tetapi tentu tulisan ini tidak akan mengulik ke sana sebab keterbatasan wawasan saya. Juga betapa membosankannya jika segala hal hanya selalu dikaitkan dengan politik.

Setiap hari kita selalu membincangkan topik politik (dan agama) hingga pada tingkatan tertentu rasa-rasanya kita menjadi overdosis lalu mabuk lalu segalanya seperti kabur dan lupa tertawa betapa lucunya negeri ini. Bahkan dalam beberapa hal, saya merasa harus belajar dari para pimpinan yang saya sebutkan pada paragraf awal esai ini.

TotoSantoso, oh beliau ingin dipanggil Sang Sinuhun, tampil memberikan konferensi pers dengan percaya diri. Sang Sinuhun duduk berdampingan dengan sang permaisuri. Dan di keratonnya ada puluhan orang yang menjadi pengikutnya. Dan tidak sekadar menjadi pengikut karena gratis –sebagaimana kesukaan masyarakat—tetapi mereka diharuskan membayar iuran. Iurannya tidak sedikit dan mereka yah mau saja. Lah saya ini disuruh bayar parkir motor tiga ribu saja kadang ngotot mau berkelahi dengan tukang parkir.

Sunda Empire dan Kesultanan Selaco juga memiliki sejumlah pengikut. Mereka, pengikutnya, melakukan apa yang diperintahkan pimpinannya dan mereka yah mau-mau saja. Tentu karena mereka percaya kata-kata pimpinan mereka. Dan mereka mengimani kata-kata rajanya sebagai titah. Dalam kata-kata yang lain, raja dan pimpinan mereka memiliki kekuatan mempersuasi atau mempengaruhi yang luar biasa. Bisa jadi kekuatan persuasinya lebih hebat dari para motivator, bahkan seperti Mario Teguh.

Saya bisa membayangkan jika saya memiliki kekuatan serupa. Padahal jika dibandingkan dengan Totok eh Sang Sinuhun, Rangga A2DC eh Rangga Sasana dan Rohidin, ya Rohidin saja, saya merasa lebih memiliki kekuatan untuk itu. Seorang alumni dari perguruan tinggi di Amerika Serikat dan mengambil jurusan kajian bahasa yang tahu kata-kata apa yang memiliki daya mempengaruhi, saya gagal menggunakan “privilise” dan kekuatan itu. Jangan kan untuk membentuk kerajaan, untuk mendapatkan pengikut pun saya merasa payah.

Hal lain, jika dibandingkan dengan saya dan mungkin juga Anda, Rohidin diwawancarai tv sekelas TvOne, Rangga Sasana diundang di program sekeren Indonesia Lawyers Club, dan Totok Santoso eh tidak jadi ding, keburu ditangkap polisi.

Rangga Sasana diberi waktu berbicara lima belas menit. Ia menjelaskan dengan lancar dan penuh percaya diri. Bahkan dengan meyakinkan, ia meminta eh menyuruh para profesor, sejarawan, dan budayawan untuk belajar lagi sejarah jika tidak sejarah PBB yang sebenarnya lahir di Bandung.

Siapa yang selama ini berani menyuruh profesor seperti Prof. Salim Said dan Prof. Anhar Gonggong belajar lagi? Mahasiswa mereka pun, jangan kan menyuruh, membantah pun bisa segan. Rangga bahkan melakukannya di hadapan banyak orang dan disiarkan ke seluruh penjuru Nusantara meski belum bisa disaksikan di seluruh wilayah kekuasaan Sunda Empire yang meliputi seluruh wilayah bumi.

Dan pelajaran penting terakhir adalah manajemen organisasi. Saat masih berstatus mahasiswa, saya terlibat dan mengambil posisi penting di beberapa organisasi tetapi tata kelola dan manajemen organisasinya tidak serapi Sunda Empire atau Keraton Agung Sejagat.

Eh saya lupa kalau mereka ini negara bahkan imprerium dunia. Tetapi juga justru karena itu, pola organisasi mereka sangat mengagumkan. Mereka juga memiliki seragam dengan desain bukan desain kaleng-kaleng. Desainnya memang diambil dari beberapa desain seragam polisi dan tentara tetapi sisanya adalah desain mereka sendiri. Lah saya di organisasi desain PDH saja kadang harus rapat seharian itu pun biasanya harus ditunda beberapa hari lagi. Malah bisa tidak jadi-jadi.

Sungguh, kita bisa belajar beberapa hal dari mereka. Mereka memiliki pikiran optimis tanpa peduli dengan latar belakangnya.
Hormat saya paduka raja!

Avatar

Arief Balla

Sedang menempuh studi master TESOL and Applied Linguistics di Southern Illinois University Carbondale, Amerika Serikat dengan beasiswa Fulbright.

Tentang Penulis

Avatar

Arief Balla

Sedang menempuh studi master TESOL and Applied Linguistics di Southern Illinois University Carbondale, Amerika Serikat dengan beasiswa Fulbright.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.