Locita

Penghancuran Nusantara dari Masa ke Masa

Ilustrasi (Sumber foto: panoramio.com)

“PENJAJAH tidak akan punah dan tidak sudi enyah dari muka bumi Indonesia ini, meskipun pada tanggal 17 Agustus 1945 telah kita proklamasikan kemerdekaan Indonesia!” (Soekarno)

Pada mulanya, Indonesia adalah jajaran pulau yang subur. Saking suburnya biji tanaman yang di buang pun akan tumbuh kembali membawa buah kehidupan. Pada mulanya, Indonesia adalah nusantara yang orang-orangnya rukun, dan setara. Pada mulanya Indonesia adalah nusantara yang ber-Tuhan.

Melalui serial animasi Moana (2016), kita dikabarkan akan suatu bangsa yang dijauhkan dari sejarah dan leluhurnya. Rahasia itu mulai diungkap oleh Moana, seorang anak kepala suku yang berjuang demi menyelamatkan bangsanya. Moana mengembalikan ingatan dan akar sejarah bahwa ternyata leluhurnya adalah seorang pelaut.

Cerita itu tidak hanya terjadi di serial animasi atau dongeng-dongeng pengantar tidur. Sebuah negeri yang bernama Indonesia juga pernah memiliki tanah yang terberkati. Lalu bencana alam, gempa, kecelakaan darat dan laut, serta musibah-musibah lainnya menimpa negeri ini.

Barangkali kita juga perlu membongkar rahasia, seperti tokoh Moana dalam serial animasi diatas.

***

Seorang teman pernah bertanya kepada saya, katanya apa yang paling saya rindukan di masa kecil. Lalu saya menjawab, hal yang paling saya rindukan adalah makan tai minya (ampas kelapa yang diolah menjadi minyak kelapa atau minyak goreng).

Saat kecil Nenek saya sering membuat minyak goreng yang ia olah untuk dijual di pasar. Kelapa masih subur dan kualitasnya sangat bagus kala itu. Saya selalu kebagian mengambil tai minya nya. Itu adalah makanan yang sangat lezat setelah barongko tentunya.

Hal lain yang paling melekat dalam nostalgia di masa kecil adalah Nenek yang setiap pagi dan sore menyeruput kopi hitam pekat, kopi itu selalu ditemani dengan rokok yang kala itu masih berbentuk isyo.

Peristiwa-peristiwa tersebut sudah tidak pernah saya jumpai lagi, Nenek lebih memilih membeli minyak goreng berbungkus plastik, produsen isyo di pasar yang juga tetangga saya sudah meninggal dunia. Tidak ada lagi yang melanjutkannya.

Ritual memanjat kelapa, memarut, memeras, hingga menggorengnya menjadi minyak menggunakan kayu bakar sudah tidak dijumpai lagi. Nenek yang selalu sehat dengan kopi hitam dan isyo nya sudah mulai mengurangi mengkonsumsi kopi. Bagaimanapun kita dianjurkan untuk manut terhadap klaim kesehatan bahwa rokok dan kopi itu berpotensi menimbulkan banyak penyakit.

Dalam buku Membunuh Indonesia (2011), kita disadarkan jika penjajahan yang kita alami saat ini tidak sekedar angkat senjata tetapi juga angkat sendok. Bahwa penjajahan itu bisa melalui perang Anti-Kelapa, perang gula, perang garam, perang jamu dan perang kretek.

Seperti lonceng kematian usaha minyak goreng tidak hanya dialami oleh Nenek saya, Puang Sirajuddin, dan Puang Kasim.  Buku tersebut menyatakan, “Ada satu ancaman yang sudah lama menjadi momok bagi petani kelapa di Indonesia dan negara-negara tropis penghasil kelapa lainnya: perang anti kelapa yang dilancarkan negara penghasil minyak nabati lain. Salah satu negara yang paling getol memerangi kelapa adalah Amerika Serikat, produsen minyak goreng kedelai nomor wahid dunia.”

Kita mungkin masih mengingat himbauan dari pemerintah dan dunia kesehatan untuk berhati-hati dalam mengkonsumsi minyak. Minyak mengandung lemak jenuh yang bisa menyebabkan kolesterol. Mereka datang menempelkan citra buruk terhadap minyak goreng dan menggantinya dengan minyak olahan mereka.

Citra buruk terhadap minyak kelapa menggempur para petani kelapa. Kita sulit mengkritisi industri minyak yang memperkaya negara lain di balik klaim kesehatan. Padahal fakta sejarah menunjukkan, leluhur kita, nenek-nenek kita, baik-baik saja dengan mengonsumsi minyak kelapa.

Padahal kelapa pernah menjadi komoditas dagang utama sejak abad ke-18. Ketika itu kopra nusantara merajai pusat-pusat perdagangan komoditas dunia. Bahkan hingga sekarang Indonesia masih menduduki peringkat pertama produsen kelapa/kopra terbesar dunia. Luas areal tanaman kelapa rakyat mencapai 3,8 juta ha, yang terbesar di 33 provinsi dan melibatkan 7,13 rumah tangga petani.

Ismail Marzuki bahkan melambangkan kecintaannya terhadap negeri ini melalui lagu Rayuan Pulau Kelapa.

Tanah airku Indonesia
Negeri elok amat kucinta
Tanah tumpah darahku yang mulia
Yang kupuja sepanjang masa

Tanah airku aman dan makmur
Pulau kelapa yang amat subur
Pulau melati pujaan bangsa
Sejak dulu kala

Melambai-lambai
Nyiur di pantai
Berbisik-bisik
Raja Kelana

Memuja pulau
Nan indah permai
Tanah Airku
Indonesia

Selain kelapa, Indonesia pernah berjaya melalui produksi gula dan garamnya. Di masa jayanya, jumlah pabrik yang berpotensi di negeri ini sebanyak 179 pabrik gula. Saat ini, Indonesia justru menjadi pengimpor gula terbesar. Begitu pun dengan produksi garam.

Sejak anak-anak kita sudah dijejali pola hidup sehat. Kita mengenal istilah garam beryodium sebagai zat yang aman dan mencerdaskan otak anak. Orang tua lekas berganti dari garam biasa yang diproduksi oleh petani lokal menjadi garam beryodium.

Fatwa tersebut tidak lain adalah klaim kesehatan dari UNICEF dan PBB yang menangani masalah anak-anak bahwa salah satu asupan penting di masa persiapan tumbuh kembang anak sejak dalam kandungan adalah garam beryodium.

Lagi-lagi manusia modern keracunan klaim kesehatan, padahal dibalik itu kita bisa melihat perlahan ketahanan pangan kita diruntuhkan. Agenda besar yang memelopori penghancuran nusantara. Benarlah kata-kata Soekarno perjuangan kemerdekaan Indonesia hanya mengantarkan kita ke depan pintu gerbang kemerdekaan. Kitalah yang membuat keputusan apakah akan masuk atau hanya sampai di pintu gerbang tersebut.

Ais Nurbiyah Al-Jum’ah

Ukhti Garis Seberang.

Add comment

Tentang Penulis

Ais Nurbiyah Al-Jum’ah

Ukhti Garis Seberang.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.