Locita

Penderitaan Imigran Asia Tenggara di Jerman Kemunculan Rasisme dan Gerakan Sayap Kanan di Jerman

Sumber Gambar: Red Ice

Jerman terkenal sebagai liberalis, namun angka serangan rasis terhadap Muslim dan Asia kian meningkat. Penduduk Asia Tenggara di Berlin membuka mulut tentang partai-partai sayap kanan, sentimen anti-imigran, dan tanggapan tentang nasib mereka di masa yang akan datang.

Tepat di luar Berlin terdapat Kota Stahnsdorf yang tampak sangat indah bagi Arianna Feldmann ketika dia dan suaminya yang berkebangsaan Jerman, Werner, tiba pada tahun 1990-an. Rumah bagi populasi sekitar 15.000 jiwa, daerah sepi yang menawarkan pasangan tersebut sebuah lingkungan ideal untuk membesarkan anak-anak mereka.

Atau begitulah yang mereka kira. ”Ketika putra saya masih di sekolah menengah, anak-anak lain mengejek warna kulitnya,” kenang Feldmann, yang lahir di Filipina dan meminta untuk menggunakan nama palsu untuk menyembunyikan identitasnya.

“Suatu kali, mereka mencengkeram kerah bajunya dan baru melepaskannya ketika salah satu dari anak-anak tersebut mengenalinya dan memberi tahu yang lain bahwa dia adalah orang Jerman.” Namun, pelecehan itu menjadi hal yang biasa, sampai pada titik dimana Feldmann mulai menjemput putranya dari sekolah pada malam hari karena dia tidak ingin anaknya berjalan pulang ke rumah sendirian.

Sekarang, 20 tahun kemudian, dia lebih peduli tentang kebangkitan rasisme di seluruh Jerman. Feldmann mengatakan telah terjadi peningkatan sentimen anti-imigran di negara itu. “Saya menjadi khawatir, terutama untuk anak-anak saya,” katanya.

Berlin membanggakan status multikulturalnya, tetapi munculnya kembali dan pertumbuhan sayap kanan di Jerman membuat para migran Asia Tenggara dan warga Jerman keturunan Asia Tenggara mengkhawatirkan keselamatan diri mereka.

Pada 2017, sebuah partai politik sayap kanan the Alternative for Germany (AfD), memenangkan 94 kursi di Bundestag, parlemen federal Jerman. Para kritikus mengatakan partai tersebut mengumpulkan dukungan dengan memicu kebencian rasial dan Islamophobia secara sengaja.

Bagi Susanne Kaiser, seorang penulis dan pakar Islam di Jerman, ada hubungan langsung antara pertumbuhan AfD dan kebijakan pengungsi yang diumumkan pada 2015 oleh Kanselir Angela Merkel, yang menyambut hampir satu juta pengungsi dan migran di negara tersebut, sebagian besar di antaranya pengungsi dari perang saudara Suriah. Meskipun pada awalnya Jerman mendukung sikap Merkel, politisi sayap kanan mengeksploitasi kejahatan yang dilakukan oleh geng asing untuk menjelek-jelekkan para imigran.

“Masalah pengungsi ini sangat emosional karena kita, sebagai orang Eropa, memikul tanggung jawab bersama. Tetapi pada saat yang sama kita tidak ingin menghadapi ancaman terhadap kemakmuran dan ‘budaya’ kita – apa pun itu artinya,” kata Kaiser.

“Politisi AfD tidak pernah bosan mengatakan bahwa ‘Islam bukan milik Jerman’.” Kaiser menambahkan, dulu Jerman sangat berhati-hati menghadapi isu-isu seperti sentimen anti-asing karena munculnya Nazisme pada 1930-an yang menyebabkan Perang Dunia II dan Holocaust. Pejabat dari partai AfD, termasuk Alexander Gauland salah satu pendirinya, bagaimanapun telah berusaha untuk mengecilkan arti penting Nazisme dalam sejarah negara itu.

Meskipun AfD dikenal khususnya karena sikap anti-Islamnya, kekerasan terhadap sejumlah besar kelompok minoritas di negara ini telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Menurut ReachOut, sebuah pusat konseling untuk korban kekerasan rasis di ibu kota, Berlin, jumlah serangan sayap kanan dan anti-Semit yang ekstrem di kota itu meningkat 8 persen selama setahun terakhir; tercatat 42 tindak kekerasan terkait ras terjadi di kota ini sejak 2017.

Penduduk Berlin Hai-Dang Phan menceritakan rasisme yang ia saksikan di Jerman. Tahun 1990-an terdapat serentetan serangan rasis terhadap migran Vietnam di Jerman timur, dan sebagai remaja campuran ras Asia, Phan mendapati dirinya dalam perkelahian jalanan dengan neo-Nazi.

“Konfrontasi tatap muka akan lepas kendali dan berubah menjadi perkelahian besar-besaran melawan tiga, bahkan enam orang sekaligus,” katanya. Phan lahir di Berlin pada tahun 1976 dari ayah Vietnam dan ibu Korea Selatan. Sekarang berusia 43 tahun dan seorang konsultan perekrutan TI, ia yakin situasi para migran sekarang semakin berbahaya.

Ketegangan sangat tinggi di bagian timur negara itu, katanya, di mana AfD telah menjadi salah satu pihak terkuat. “Di beberapa daerah, saya sadar bahwa orang-orang melihat dan memperlakukan saya secara berbeda. Itu membuat saya tidak nyaman dan saya khawatir tentang masa depan. Sementara saya baik-baik saja saat ini, suasana di lingkungan sejatinya telah berubah, ”katanya.

Menurut Kaiser, sementara AfD menekankan antipati terhadap Islam, sikap partai tersebut menempatkan minoritas lain dalam bahaya. “Ada perbedaan yang jelas oleh AfD antara Muslim dan migran lain, tetapi hanya untuk alasan eksploitatif,” kata Kaiser. “Migran dari Asia atau Asia Tenggara dianggap sebagai contoh utama dari integrasi.

Politisi ‘membela hak-hak perempuan’ melawan Islam di parlemen Jerman, sementara 20 tahun yang lalu orang yang sama menentang perubahan hukum yang akan mengkriminalkan perkosaan dalam perkawinan. Pada kenyataannya, politisi sayap kanan ini tidak benar-benar mendukung hak-hak perempuan, dan mereka tidak kalah rasis terhadap orang Jerman keturunan Asia. ”

Bagi Hannah, seorang mahasiswa seni di Berlin yang tumbuh dalam keluarga Muslim yang ketat di Bandung, Indonesia, situasi politik Jerman telah menempatkannya di antara apa yang ia anggap sebagai dua budaya ekstrem.

Sebagai seorang anak dari orang tua yang terlibat aktif dalam komunitas Islam, Hannah (yang meminta anonimitas untuk melindungi privasinya) tahu bahwa begitu ia mendapatkan menstruasi pertamanya, sudah saatnya untuk mengenakan jilbab.

“Saya tidak mempertanyakannya saat itu”, kenang perempuan berusia 29 tahun itu. “Begitulah adanya. Paman saya memberi tahu saya bahwa jilbab akan menjaga saya tetap aman.”

Namun ketika mengenakan jilbabnya sebagai seorang mahasiswa di Bandung, ia mengalami pelecehan seksual – sebuah pengalaman yang mengubah caranya memandang dunia. “Saya tidak memberi tahu siapa pun apa yang terjadi, tetapi saya menyadari bahwa keluarga saya telah membohongi saya. Jilbab tidak membuat saya aman, ”katanya.

Seiring waktu berlalu, kebenciannya kian bertumbuh. Sebuah perjalanan ke Munich pada Juli 2016 bertepatan dengan penembakan massal di kota itu, di mana seorang pria bersenjata berusia 18 tahun menembak sembilan orang tewas dan kemudian dirinya sendiri.

Banyak orang melompat ke kesimpulan yang salah bahwa serangan itu dilakukan oleh kelompok Islam radikal. “Saya berada di metro ketika dua pria, terlepas dari satu sama lain, meneriaki hinaan rasis pada saya dan menunjuk jilbab saya,” kenang Hannah.

Itu adalah yang terakhir kali bagi Hannah: ia berhenti mengenakan jilbab dan pada bulan-bulan berikutnya mulai berpaling dari Islam. Sekarang, setelah meninggalkan kehidupan lamanya, ia mengamati hubungan Jerman dengan migran dan Islam dengan wujud keprihatinan yang nyata. “Bagi saya, setiap ekstremisme adalah bentuk teror. Saya sangat khawatir dengan perkembangan akhir-akhir ini, ”katanya. “Di mata saya, ekstrimisme kulit putih tidak jauh berbeda dengan Islam radikal.”

Namun terlepas dari segala ketakutan ini, banyak migran Asia Tenggara di Jerman menemukan negara itu menawarkan kebebasan dan peluang. Rangga Eka Saputra yang berusia tiga puluh tahun, dari ibukota Indonesia, Jakarta, mengunjungi Jerman tahun lalu sebagai bagian dari studi banding untuk mengamati kehidupan umat Islam di negara itu, yang diselenggarakan oleh lembaga budaya Jerman Goethe-Institut.

“Saya terkesan dengan keharmonisan di antara komunitas-komunitas keagamaan, yang menjadi paling jelas di House of One, di Berlin, tempat ibadah yang akan terdiri dari sebuah gereja, masjid, dan sinagog,” kata Rangga. “Proyek-proyek seperti ini berkontribusi pada penguatan kerukunan umat beragama di masyarakat.” Bagi Rangga, tur tersebut adalah titik mula untuk melanjutkan studi pascasarjana, dan sejak itu ia telah berhasil menerapkan studi Asia di Universitas Hamburg.

Sambil menyadari bahwa ini berarti ia akan menjadi bagian dari kelompok minoritas di Jerman, Rangga mengatakan ia memiliki keyakinan pada pendekatan negara ini terhadap multikulturalisme. “Negara ini memperlakukan semua warga negara secara setara tanpa memberikan supremasi khusus kepada agama tertentu,” katanya.

“Berdasarkan kunjungan saya tahun lalu, saya mengamati bahwa umat Islam dapat dengan bebas mengekspresikan dan menjalankan kepercayaan agama mereka.” Dengan mengatakan itu, Rangga menambahkan bahwa pengalamannya mungkin berbeda jika ia dilahirkan sebagai seorang wanita.

“Identitas saya sebagai seorang Muslim di muka umum tidak dapat dilihat dan diketahui secara instan. Mungkin berbeda untuk wanita Muslim, yang mengenakan jilbab. ”

=======

Diterjemahkan dari “How Southeast Asians in Germany suffer abuse with the rise of racism and the far right oleh Katrin Figge, South China Morning Post. 2 Juli 2019.

farraaziza

Tentang Penulis

farraaziza

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.