Locita

Pemuda dan Transformasi Konflik

Ilustrasi (sumber foto: Merdeka.com)

KEMARIN, saya berkesempatan nimbrung pada kegiatan workshop, “Transformasi Konflik untuk Pemuda dan Perdamaian” yang diselenggarakan oleh Solo Interfaith Peace Institute (SIPI) bekerjasama dengan Peace Institute South Sulawesi (PISS).

Sebuah kegiatan, yang menurut saya, untuk menginisiasi jejaring pemuda yang peduli pada perdamaian. Semacam visi yang melampaui kepentingan – kepentingan pribadi dan iman yang formil.

Serta usaha untuk menumbuhkan kembali ruh kerja – kerja sosial dengan semangat konsisten pada kepentingan stabilitas yang semakin mencemaskan.

Kerja semacam ini urgent. Semakin menjamurnya persoalan-persoalan kekerasan di masyarakat baik verbal ataupun nonverbal yang berujung pada konflik fisik yang destruktif, menjadikan kegiatan ini sangat untuk diapresiasi. Apalagi buat anak muda (seperti saya).

Tak banyak loh yang ngomong perdamaian ketika dunia sedang dirundung duka perang. Tak banyak yang bicara perdamaian ketika konflik antar agama, etnis, dan golongan merebak seperti rumput liar dalam musim politik sakarang. Semua kadang serba ignorant, tak peduli.

***

Well, ada banyak hal yang saya dapatkan pada workshop kemarin. Meskipun beberapa diantaranya pernah saya baca sih lewat pikiran – pikirannya Haryatmoko, Hanna Arendt, Eric Fromm, ataupun F. Budi Hardiman. Namun, tetap saja ada cara baca yang berbeda ketika materi itu secara langsung berhadapan dengan diri sendiri.

Beberapa di antaranya tentang ‘segitiga kekerasan’ dan ‘lingkaran kekerasan’. Yang pertama menjelaskan tiga macam kekerasan yang sering terjadi disekitar kita, yakni kekerasan struktural (jalan yang rusak, birokrasi rumah sakit yang ribet dan menyusahkan), kekerasan kultural yang sering dilakukan oleh para pemuka agama-agama, dan kekerasan langsung atau direct violence yang sangat visible.

Jenis yang terakhir ini yang kadang menghasilkan trauma pada korban.

Modal sosial yang kadang dimiliki seseorang juga bisa menjadi sebuah awal dari sikap destruktif ini. Seorang ‘dosen’. misalnya yang memaksa mahasiswanya untuk membeli bukunya ataupun para pejabat struktural yang memaksakan aturan pada rakyatnya adalah jenis kekerasan yang kadang tidak disadari.

Sebuah dominasi penuh muslihat kata Haryatmoko. Korban dibuat tak sadar akan perilaku kekerasan yang demikian. Juga, seseorang yang dengan segala kecerdasan dan pengetahuannya yang dia gunakan (secara sengaja) untuk merekayasa kelompok-kelompok tertentu untuk sebuah kepentingan politik golongan atau menjadikan dirinya sebagai satu-satunya sumber kebenaran dalam dialektika pengetahuan adalah  jenis kekerasan epistemik yang juga berbahaya.

Milenial yang Terlibat

Sebagai seorang anak muda milenial yang kadang tak dibatasi lagi oleh sekat-sekat agama ataupun golongan, pemuda harusnya terlibat pada kerja kerja yang lebih luhur ; membangun perdamaian. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi tensi atau ketegangan di masyarakat saat ini.

Sepanjang ingatan dan catatan saya, misalnya menanamkan imajinasi tentang mimpi masa depan pada setiap generasi yang sedang menumbuh.

Sebuah imajinasi tentang perdamaian, cita cita kemajuan, dan tentu saja perubahan yang lebih baik. Memberi teladan dengan perilaku belas kasih juga akan mengurangi tensi konflik dan kekerasan dalam masyarakat.

Konfusius adalah guru bijak pertama dalam sejarah yang mewartakan demikian. “Jangan pernah melakukan kepada orang lain apa apa yang kau tidak ingin mereka lakukan untukmu,” begitu katanya.

Dan dia menyebutnya sebagai sebuah Jalan (dao) yang tengu saja tak mudah. Bagaimana mempersamakan diri sendiri dengan orang lain. Namun, kita mengenal beberapa orang semacam Quaker Elizabeth Fry, reformis rumah sakit Florence Nightingale ataupun Dorothy Day yang menjadi pendiri gerakan pekerja Katolik. Keduanya adalah perempuan yang menjadikan belas kasih sebagai idealisasi kekuatan untuk perubahan.

Lalu, bagaimana seorang anak muda harus memosisikan diri di tengah konflik masyarakat? Jawaban ini sekaligus menjadi poin yang paling ditekankan dalam kegiatan workshop kemarin. Setiap dari kita harus menjadi ‘Third Party’ atau orang ketiga, kata Mbak Zon Vanel.

Orang ketiga disini tentu saja dalam pengertian yang positif. Seorang yang bertindak sebagai mediator. Yang menjadi jembatan penghubung antara dua pihak yang saling bersikukuh.

Seorang mediator harus netral dari segala unsur kepentingan kedua belah pihak. Tugas seorang mediator bukanlah memberikan solusi, tetapi hanya menjadi pendamping untuk mempertemukan dua pihak yang sedang bersengketa.

Tetapi menjadi seorang mediator tidaklah mudah. Butuh sikap sabar dan rendah hati tingkat tinggi. Melepaskan segala ego demi kepentingan orang lain atau masyarakat. Hal ini butuh latihan dan pembiasaan. Juga butuh keterbukaan pada perbedaan.

Demikianlah catatan singkat yang bisa saya ingat dan eksplorasi buat teman-teman pemuda. Masih banyak materi yang terlewatkan. Juga beberapa materi yang masih butuh penajaman dan pendalaman.

Namun, selalu ada tempus waktu yang tak cukup untuk pengetahuan yang lebih. Semoga masih bisa bersua pada momen yang lain. Amin.

Syahrul Al-Farabi

Lelaki yang menyukai buku dan kopi. Aktif di Muhammadiyah dan JIMM Takalar. Cp Fb. Syahrul Al Farabi.
Email. Syahrulalfarabiarul@yahoo.co.id

Add comment

Tentang Penulis

Syahrul Al-Farabi

Lelaki yang menyukai buku dan kopi. Aktif di Muhammadiyah dan JIMM Takalar. Cp Fb. Syahrul Al Farabi.
Email. Syahrulalfarabiarul@yahoo.co.id

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.