Locita

Pemerintah dan Perayaan Tahun Baru yang Islami Nilai-nilai Islami seharusnya terwujud dalam pelayanan publik, tidak sekadar seremonial belaka

Beberapa tahun terakhir, ada sedikit pergeseran cara perayaan tahun baru di beberapa kota dan kabupaten. Tradisi yang biasanya penuh semarak dan kembang api berganti dengan zikir bersama dan tablig akbar. Doa-doa dilantukan ke langit-langit dan harapan-harapan baik dikumandangkan.

Saya sendiri, setidaknya dalam beberapa tahun tahun terakhir, tidak terlampau peduli dengan hiruk pikuk pergantian tahun baru. Dalam lima kali pergantian tahun terakhir saya malah tertidur. Bermalas-malasan. Tidak ada kegiatan yang berbeda dengan hari-hari biasanya. Tidak ada acara bakar-bakar ikan, ayam, apalagi terompet dan kembang api.

Bukan karena saya kini terpengaruh selentingan hadis yang sering dipahami secara serampangan dan disebar di sosial media “Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia adalah bagian dari kaum itu.” Hanya karena misalnya ikut-ikutan tiup terompet hingga seperti tradisi Yahudi. Tidak perlu mengancam-ancam saya dengan hadis hanya agar tidak merayakan tahun baru.

Saya pun tidak serta merta menuduh mereka yang meniup terompet sebagai bagian dari orang Yahudi. Lagipula orang Yahudi adalah orang-orang yang cerdas. Lihat saja daftar penerima nobel dan penemu-penemu teknologi yang kini kita pakai. Suatu pertanda bahwa mereka memiliki satu tradisi keilmuan yang hebat. Satu tradisi yang luntur di kalangan umat Islam. Contohnya dengan hadis yang saya sebut sebelumnya untuk menakuti-nakuti umat Islam.

Inilah sepertinya yang menarik. Kurun waktu beberapa tahun belakangan pemerintah mengubah tradisi pesta kembang api dengan zikir bersama. Pemerintah Kota Makassar yang biasanya menghamburkan uang di Pantai Losari dengan mengadakan pesta kembang api dan mengundang artis, kini diganti dengan zikir dan doa bersama. Pun begitu dengan Kabupaten Sinjai, tempat saya berasal, diganti dengan tablig akbar dan kegiatan bernuansa Islami. Suatu hal yang jarang bahkan mungkin belum pernah dilakukan di tahun-tahun sebelumnya.

Perubahan ini saya pikir suatu hal yang perlu diapresiasi. Meski dalam beberapa hal saya menganggapnya biasa saja dan sama sekali tidak mengesankan saya. Bahkan dalam poin tertentu kebijakan –jika patut dilihat sebagai sesuatu yang sungguh berasal dari kata ‘bijak’—seperti ini sebagai sesuatu yang tidak ada bedanya dengan perayaan sebelumnya. Ia hanya berbeda dalam kemasan belaka dan tidak dalam substansi.

Sama biasanya bahkan cenderung menggemaskan sekaligus menjengkelkan ketika pemerintah mengeluarkan Perda untuk melarang merayakan Valentine, Salat Subuh berjamaah di Pantai Losari, atau salat berjamaah tepat waktu atau kini perayaan tahun baru dengan Tablig Akbar. Aturan tersebut kemudian seolah menjadi alat melegitimasi bahwa pemerintah kini lebih Islami. Rasa-rasanya kok pemerintah menjadi polisi moral yang lupa dengan moralnya sendiri.

Untuk hal tertentu, saya melihatnya hanya sebagai pencitraan. Dengan diiringi kepentingan merebut hati orang-orang Islam yang menjadi mayoritas. Dan dalam beberapa tahun terakhir bergerak ke arah konvensional dan keislaman diterjemahkan dalam bentuk simbolistik formalistik.

Pemerintah, tanpa menyepelekan niat baik mereka jika memang demikian, mengeluarkan Perda yang dilabeli Syariah atau mengadakan kegiatan berkesan Islami tak akan ada artinya jika hanya ditampilan dalam bentuk seremoni belaka. Apa boleh buat. Pemerintah yang justru sering seolah-olah tampil Islami justru kinerja dalam pelayanan publiknya begitu-begitu saja.

Saya pikir terlalu sempit jika nilai-nilai Islami diterjemahkan dalam kebijakan atau kegiatan dalam bentuk simbolik saja. Peraturannya yang kemudian difoto dan disebarkan ke netizen. Entah mengapa pemerintah kita suka sekali membuat aturan-aturan baru tetapi tidak melaksanakan aturan-aturan lamanya. Semisalnya aturan datang tepat waktu ke kantor, tidak nongkrong di luar jam kerja, melayani dengan ramah, tidak berbelit-belit dalam pengurusan administrasi dan seterusnya.

Akhirnya, zikir dan doa hanya berakhir pada acara itu saja. Sebab tidak ada niat yang memang sungguh-sungguh. Yang ada kemudian hanya ada gelora yang begitu besar di bibir (dan sosial media) tetapi tidak dalam perbuatan. Bagi saya yang paling penting bagi pemerintah adalah mewujudkan nilai-nilai Islami itu dalam tindakan nyata melalui diri mereka sendiri. Yang gajinya dari rakyat sendiri. Tidak perlu memukau dengan acara-acara seolah-olah Islami namun datang terlambat, pilih kasih melayani, dan seterusnya.

Avatar

Arief Balla

Sedang menempuh studi master TESOL and Applied Linguistics di Southern Illinois University Carbondale, Amerika Serikat dengan beasiswa Fulbright.

Tentang Penulis

Avatar

Arief Balla

Sedang menempuh studi master TESOL and Applied Linguistics di Southern Illinois University Carbondale, Amerika Serikat dengan beasiswa Fulbright.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.