Locita

Patriarki yang (Mungkin) Kian Cerdik dan Feminisme (Harusnya) Egaliter

ilustrasi kesetaraan gender

Lama sepertinya saya tak berdialektika dengan diskursus gender khususnya belajar memahami feminisme tanpa takut kehilangan penis. Ini seperti lamanya RUU PKS terkatung-katung di senayan.

Sepertinya lalu lintas percakapan tentang diskursus feminisme yang hendak meruntuhkan konstruksi sosial yang beraroma patriarki kental itu semakin ramai bahkan mungkin kian bising. Setidaknya cukup banyak sudah kawan-kawan perempuan yang berteman di dunia maya maupun dunia nyata yang cukup “galak” menghardik anasir-anasir patriarki terutama juga pada kasus kekerasan seksual. Namun lalu lintas yang ramai itu juga menyisipkan kecemasan. Ihwal kecemasan itu boleh ditengok dari background saya menyimak diskursus tersebut. Tetapi maafkan sebelumnya bila komentar ini sebatas perspektif yang tak dibumbui referensi atau dalil dari buku atau tokoh supaya terlihat keren.

Dan begini mulanya…

Saya akan tertawa gembira bila ada kawan perempuan berhasil mematahkan gombalan modus cowok yang teguh memasang pasak patriarki di dalam batok kepalanya sembari merawat penisnya agar berdiri kokoh dan berharap dijadikan alat kontrol kepada lawan jenisnya.

Sebaliknya, saya cukup kesal bila mendapati ada perempuan yang terperdaya bahkan terjebak dalam lingkaran kontrol-kuasa laki-laki (kebanyakan kasusnya adalah partner yang bersangkutan juga struktur kuasa dalam keluarga) melihat itu tak berarti gampang membantu perempuan untuk berani melawan atau bahkan menyerang balik.

Makanya saya sering senang bila ada perempuan yang entah hasil kaderisasi organisasi perempuan radikal atau habis kajian feminis ataupun hanya insting sebagai manusia yang menuntut diperlakukan setara dan adil yang melawan modus operandi patrialki bekerja. Modus operandi itu berbentuk eksploitasi dan dominasi yang mengontrol.

Lebih dari satu dekade yang lalu, di forum-forum pelatihan organisasi perempuan kadang kala saya gemes dengan peserta-peserta yang “mager” untuk keluar dan relatif pasrah pada hegemoni konstruksi sosial patrialki yang diselubungi dalil agama dan adat istiadat.

Setelah lama berselang, kegembiraan pun saya rasakan tetapi juga disisipi kecemasan itu.

Cukup menggembirakan saat melihat diskursus feminisme semakin marak, kesadaran atas kesetaraan hingga pengarusutamaan wacana di masyarakat untuk meruntuhkan konstruksi patriarki semakin nyaring disuarakan. Tidak hanya oleh perempuan tapi juga cukup banyak lelaki yang berada dalam satu front. Dampaknya; cukup banyak bermuculan suara-suara perlawanan secara bersama-sama dan dalam sistematika gerakan yang rapi melawan aturan atau mendukung korban serta mengangkat ke ranah publik kasus-kasus kekerasan seksual di masyarakat yang sarat ketidakadilan gender. Para pendukung patrialki fundamentalis pun semakin defensif dengan membangun benteng pertahanan dari artefak agama ataupun selubung adat dan kebiasaan.

Kaum patriarki yang terdidik di kampus-kampus ada yang ikut satu front ada juga yang terpaksa mengalah lalu bersalin jubah ikut nimbrung dalam diskusi-diskusi feminisme atau sekedar ikut pelatihan gender. Sambil berharap dapat gebetan di situ. Kadang-kadang watak patriarkhinya muncul apalagi lelaki aktivis ini gagal mengontrol atau dicampakkan maka keluarlah statemen “saya sebenarnya tidak sepakat dengan femini-femenis itu” hmmmm dia tidak sepakat tapi dikasi kode mesum ke kost-an si cewek eh langsung tancap gas memacu sepeda motornya. Emang seks kadang tidak peduli apa ideologi mu.

Dampak lain dari maraknya pencerahan feminisme itu juga semakin seringnya dan tak ragu untuk menguak praktik kekerasan dan eksploitasi seksual di masyarakat. Misalnya di dalam institusi pendidikan. Kasus-kasus ini sesungguhnya sejak dahulu kala ada. Namun dengan alasan nama baik dan tak ada regulasi kasus-kasus seperti ini didiamkan dan diselesaikan secara “kekeluargaan”

Akun-akun yang mengusung, memberikan edukasi serta sarana bantuan dan dukungan baik secara sosial, moril, ilmiah dan hukum bertebaran disosial media. Baik diselenggarakan dengan sokongan dana funding yang besar ataupun sekadar kelas lesehan yang dikelola pegiat-pegiatnya yang harus mensiasati waktu dan isi saku dengan pergulatan kehidupan yang kadang babak belur.

Ancaman-ancaman ataupun bentuk-bentuk praktik patriarki pun juga membiak dengan cerdiknya. Tapi semuanya bisa diendus pegiat feminis ini. Belum lagi, di kota-kota besar khususnya para pegiat feminis ini sudah semakin terbuka menunjukan dirinya. Mulai dari aksi lapangan hingga postingan di dunia maya. Belum lagi bahwa feminisme ini sudah menjadi sebuah trend sosial yang telah menyalip pergaulan para sosialita. Walaupun harus diakui bahwa seperti semua trend, masih ada juga yang ‘penumpang gelap’ yang sekedar pansos. Tak aneh apalagi diera “selebgram menjadi salah satu list terbaru cita-cita milineal” dan munculnya segemen kehidupan maya bernama “dunia viral”.

Menghadapi serta mengantisipasi ancaman dari para patriarki dengan semangat menggebu-gebu ini bisa tergelincir keluar dari tujuan yang ingin dicapai gerakan ini; kesetaraan untuk dipandang sama sebagai manusia bukan disubordinasi. Misalkan menghadapi modus lelaki aktivis yang mendaku pro feminis yang ternyata hanya kedok. Menghadapi itu boleh saja dengan cara yang tegas. Tetapi patriarkhi yang dilakoni lelaki berkedok pro feminis ini adalah metamorfosis yang berbentuk elastis dan liat. Menghadapinya boleh jadi harus dengan fleksibilitas pula.

Ibarat menjadi pasangan dansa yang meliuk-liuk, tentu kita harus bisa mengimbangi dengan meliuk-liuk mengikuti irama. Juga, walaupun ideologi feminisme radikal yang menjadikan laki-laki total sebagai musuh yang harus dibasmi itu tak cukup dominan dianut aktivis-aktivis perempuan di Indonesia, namun kadang kala muncul celutukan kekesalan dan menyatakan misalnya pilihan lesbian lebih aman dari pada berpartner dengan lelaki. Itu bisa saja (relasi sejenis) dijadikan alibi menjaga independensi gerakan. Namun apa yang dilawan adalah watak. Patriarkhi adalah watak.

Menurutku watak patriarki bisa diadopsi atau bisa menjangkiti apa saja. Watak yang membuat konstruksi. Watak patrarki akan membuat konstruksi patriarki. Pasangan entah lawan jenis ataupun sesama jenis bisa menganut hal ini. Maka tujuan gerakan feminis adalah kesetaraan sebagai manusia tanpa didiskriminasi karena jenis kelamin. Bila pasangan mempraktikkan dominasi, mengontrol tubuh pasangannya, mengeksploitasi hingga melakukan kekerasan seksual itu adalah watak patrialki. Kesadaran itu sebenarnya menjadi alarm bahwa semua relasi baik yang mainstream hingga yang berbentuk alternatif sekalipun punya potensi mengadopsi watak patralki. Relasi lawan jenis, sesama jenis, pernikahan, “teman tapi sama-sama enak” alias friend with benefit, swingers hingga living together pun punya potensi yang sama mengancam.

Feminisme pasti belajar pada kebodohan patriarki yang merasa kuasa bisa ditegakkan dengan bermodalkan sikap keras. Bahkan patriarki saja belajar dari serangan-serangan yang diterima sejak dalam beberapa dekade ini untuk lebih elastis dan meliuk. Seharusnya feminisme waspada dengan tidak mengadopsi taktik patriarki dalam memancangkan kuasa dengan sikap keras dan terbukti gagal. Feminisme mesti bergerak lebih egaliter.

Namun ulasan yang murni persepektif pribadi saya ini tak mengapa dicurigai sebagai taktik modus patrialki berkedok pro feminis.(#)

Irwan AR

Irwan AR

bukan sesiapa

Tentang Penulis

Irwan AR

Irwan AR

bukan sesiapa

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.