EsaiFeatured

Parodi Manusia Korupsi

ISTILAH tikus-tikus berdasi mungkin saatnya harus dibalik menjadi tikus-tikus tak berdasi melihat fenomena korupsi di tingkat daerah semakin menjadi-jadi. Mereka “tidak” lagi memakai dasi (kehormatan) demi meraung harta sebanyak-banyaknya. Mereka lupa diri, bahwa mereka sebenarnya melaksanakan amanah masyarakat dan Allah, tetapi buktinya mereka melaksanakan amanah uang.

Mata telah dibutakan dengan merahnya mata rupiah dan halusnya mata uang dolar Amerika. Uang adalah segala-galanya, maka apapun caranya harus ditempuh. Itu sama halnya, Anda (pelaku korupsi) disebut budak uang. Anda termasuk “manusia tak berdasi”.

Masih ingatkah Anda memegang pengeras suara, merek TOA ketika itu? Anda lupa kah? Itu Anda ketika mahasiswa tingkat akhir. Suara Anda mengelegah, mengatakan “tangkap koruptor!” atau “Katakan tidak pada korupsi”. Bagi teman-teman seangkatan, Anda dikatakan mahasiswa generasi bangsa, pembawa perubahan.

Di pundak Anda terletak setumpuk harapan, yang ingin mengharapkan perubahan. Seandainya saya ada di situ, pasti mengatakan, “saya yakin (bermimpi) lima tahun ke depan, Negara Indonesia bebas dari penyakit kronis namanya korupsi. Nyatanya lima tahun berikutnya, Anda dinyatakan terbukti melakukan korupsi.

Pikirku, memang betul mimpi (yakin) tidak seindah dengan kenyataan. Ini berarti, Anda membuang atau memindah tangankan pengeras suara, merek TOA kepada junior Anda. Korupsi telah menjadi Anda, “manusia tak berdasi”.

Anda mengundang saya waktu anda sumpah jabatan. Masih ingatkah? Saya harap engkau masih ingat. Dengan tegak Anda meletakkan tangan kanan di atas Kitab Suci dan tangan kiri Anda, kamu angkat, dengan lantang Anda mengulang-ulang kata-kata yang dibacakan oleh pengambil sumpah.

Bulu romaku merinding ketika ada mengucapkan sumpah jabatan. Baru satu tahun lebih anda menjabat, Anda dinyatakan terbukti melakukan korupsi oleh Komisi pemberantasan Korupsi (KPK). Saya terkejut mendengar, saya berharap bahwa KPK salah, apalagi saya saksi sumpah jabatan itu.

Tetapi ternyata saya salah, memang benar Anda korupsi bantuan dana sosial. Sialnya, anda korupsi jatah orang miskin dan orang terlantar. Pasti tangisan mereka, didengar oleh Allah yang Maha Esa. Air mata kutukan bagi Anda, anak, dan isterimu. Korupsi menjadi Anda “Manusia kutukan”.

Aku ingat syair lagu, “Fitnah lebih kejam dari membunuh”, ketika Anda ditangkap oleh KPK dan mengatakan Anda “difitnah”, tetapi bagiku “korupsi lebih kejam dari membunuh seribu orang”.

Karena bantuan seribu orang, Anda gunakan untuk memperkaya diri atau kelompok. Anda mengatakan “dizolimi” oleh pihak KPK dan bahkan melaporkan balik KPK. Anda tidak tahu malu, sudah salah berlagak tidak bersalah lagi. Kata yang pernah anda katakan lagi, Anda “didiskriminasi” oleh KPK atau penegak hukum.

Ketika Anda ditanya oleh wartawan, padahal menyandang status “tersangka”. Tiga kata: “difitnah, dizolimi, dan didiskriminasi” adalah kata “pasif”, seolah-olah Anda bersih dari korupsi, tidak menyentuh uang haram itu, tetapi anda “aktif” ketika melakukan lobi-lobi proyek, demi fee atau upah lobi-lobi.

Anda manusia “terlalu’’ kata Bang Rhoma Irama, Raja Dangdut. Anda adalah “manusia pintar bersilat lidah”. Korupsi telah menjadikan Anda “Manusia tak berlidah”.

Para petani geram melihat perilaku Anda. Hai koruptor, tetapi saya lebih geram lagi, melihat Anda tersenyum di tengah para wartawan pemburu berita. Sudah terbukti korupsi, senyum lagi, seperti artis naik panggung, itu kata temanku. Apakah tidak punya rasa malu?

Aku pun tidak tahu, yang saya tahu, ia tersenyum dan melambaikan tangan dihadapan para para wartawan. Itu berarti, ia melambaikan tangan dan tersenyum di atas penderitaan masyarakat banyak. Anda adalah “manusia tak tahu malu”.

Persidangan pun berlangsung, Anda dicerca berbagai pertanyaan dari Yang Mulia. Anda menjawab seadanya aja, bahkan terdengar lemas. Alasannya kurang sehat, sakit ini dan sakit itu. Satu persatu Anda ditanya dengan nama orang dari “A-Z”, tetapi yang anda kenal hanya satu, hanya nama “O”.

Jawaban Anda hanya “tidak kenal” atau “lupa”. Andaikan ditambahkan kedua kata ini, maka hasilnya sama dengan “tidak tahu”. Pura-pura tidak tahu atau memang tidak tahu, Hanya anda yang tahu, tetapi yang saya tahu, Anda mengucapkan sumpah di atas kitab suci untuk memberikan kesaksian yang benar. Anda adalah “manusia amnesia”.

Itulah sekumpulan “Parodi Manusia Korupsi”, membaca dan melihat para koruptor. Memahami perilaku “manusia tak berdasi” merupakan suatu refleksi mendalam dalam memahami perilaku para koruptor. Tradisi yang dibingkai “lupa, tidak kenal” adalah cultural reproduksi sebagai wacana pembenaran diri.

Moral tidak lagi mampan untuk membongkar budaya korupsi yang menggurita. Manusia dibutakan dengan uang dan uang. Kesadarannya hanya bisa dibangkitkan dengan membangunkan “kemanusiaanya” dari nafsu uang melalui refleksi terus-menerus. “Manusia korupsi” harus disadarkan dari candu korupsi melalui keutamaan-keutamaan dan refleksi hidup.

Efentinus Ndruru

Efentinus Ndruru

Alumni Filsafat Unika St. Thomas, Medan. Direktur Lembaga Kajian Sosiologi

Previous post

Konsumerisme: Pergeseran Falsafah Hidup Masyarakat Indonesia

Next post

Dilema Jusuf Kalla: Jadi Penentu Wakil Jokowi atau Maju Bersama Anies Baswedan