EsaiFeatured

Paradigma Sehat dan Upaya Memanusiakan Manusia Kesehatan: Diantara Dua Paradigma

“Menjaga agar tubuh selalu sehat adalah kewajiban, karena jika tidak, kita tidak akan mampu menjaga pelita kebijaksanaan, dan menjaga pikiran agar tetap kuat dan jelas. Air mengelilingi bunga teratai, tapi membasahi kelopaknya” – Buddha

KITA tak akan mengelak jika pembangunan sebuah bangsa, harus dilandasi dengan nilai-nilai filosofis. Orientasi nilai itu wajib dibangun, sebagai pondasi dasar agar tujuan pembangunan mampu tepat sasaran dan tidak mudah untuk dijatuhkan.

Pembangunan yang tidak berlandaskan sebuah nilai, tentu akan rentan diruntuhkan oleh pelbagai macam serangan. Begitupun halnya dengan sistem pembangunan kesehatan di negeri ini.

Buddha, seperti yang saya kutip, menganggap kesehatan adalah sesuatu yang penting dalam kehidupan manusia. Kesehatan mesti dipandang sebagai sebuah kesatuan utuh, dengan landasan filosofis yang arif, bijaksana dan holistik, yang tidak memisahkan upaya kuratif (pengobatan) – rehabilitatif (perawatan) dan promotif (peningkatan kesehatan) – preventif (pencegahan penyakit). Tugaskuratif-rehabilitatif yang dipegang oleh dokter, perawat, bidan, dsb, harus sinergikan dengan tugas promotif-preventif yang diperankan oleh para sarjana kesehatan masyarakat.

Paradigma pembangunan kesehatan yang menyatukan semua aspek tersebut biasa disebut dengan paradigma sehat. Sebuah paradigma dengan cara pandang yang lebih menekankan pada semangat kolektifitas dengan sistem yang holistik.

Diantara Dua Paradigma

Secara historis, paradigma sehat pertama kali diperkenalkan kepada masyarakat Indonesia sejak September 1998.

Menteri Kesehatan (menkes) pada saat itu, merasa bahwa segala persoalan kesehatan di Indonesia sulit untuk diselesaikan, karena paradigma yang digunakan sudah tidak cocok untuk kondisi masyarakat yang semakin berkembang dan beragam.

Selain itu, desakan untuk mengubah arah paradigma pembangunan kesehatan di Indonesia, juga merupakan konsekuensi dari keterlibatannya dalam mencetuskan “The Jakarta Declaration” yang disahkan pada konvensi promosi kesehatan internasional di Jakarta pada tahun 1997.

Pada saat itu pemerintah masih menggunakan paradigma sakit dalam pembangunan kesehatannya.
Paradigma sakit –yang menjadi landasan pikir ilmu kedokteran– adalah cara pandang dalam upaya kesehatan yang mengutamakan upaya kuratif dan rehabilitatif. Penanganan kesehatan penduduk menekankan pada penyelenggaraan pelayanan di rumah sakit, penanganan penduduk yang sakit secara individu dan spesialistis.

Hal ini menjadikan kesehatan sebagai suatu yang konsumtif. Sehingga menempatkan sektor kesehatan dalam arus pinggir (side stream) pembangunan (Does Sampoerna, 1998).

Setelah Orde baru jatuh, Indonesia memasuki masa transisi menuju reformasi. Menkes Faried Anfasa Moeloek pada saat itu dengan semangat reformasinya juga ikut melakukan reorientasi paradigma pembangunan kesehatan di Indonesia.

Jika sebelumnya menggunakan paradigma sakit sebagai upaya penanganan kesehatan, maka selanjutnya Indonesia mulai mencoba mencari pola untuk menerapkan sebuah paradigma baru; paradigma sehat.

Paradigma sehat sebenarnya sudah ada jauh sebelum Faried Anfasa Moeloek memperkenalkannya. Pada tahun 1977, George Engel, seorang psikiater dari Amerika, memperkenalkan sebuah rumusan baru dalam melihat bagaimana seseorang bisa berada pada kondisi yang tidak sehat.

Formula tersebut ia beri nama analisis biopsikososial. Dalam tesisnya biopsikososial adalah suatu konsep yang melibatkan interaksi antara faktor biologis, psikologis, dan lingkungan sosial dalam upaya memahami proses penyakit dan sakitnya seseorang, yang memandang pikiran dan tubuh sebagai satu kesatuan.

Pendekatan tersebut membawa pengertian bahwa kondisi sakit bukan saja dari sisi fisik tetapi juga dari kondisi psikologis yang dipengaruhi oleh faktor lingkungan.

Ilmu kedokteran menurut Engel, masih didasarkan atas “pengertian tubuh sebagai mesin, dan penyakit sebagai konsekuensi rusaknya mesin, dan tugas dokter memperbaiki mesin itu”. Dengan memusatkan pada bagian tubuh yang semakin kecil, ilmu kedokteran modern sering kehilangan pandangan tentang pasien sebagai seorang manusia.

Kemudian, tesis Engel tersebut memperkuat teori yang diperkenalkan oleh pendahulunya, Hendrik L. Bloom. Teori yang diperkenalkan oleh Bloom tidak lahir serta merta seperti wahyu, teorinya lahir dari riset yang ia lakukan selama menjadi akdemisi Ia melihat bagaimana masyarakat dibeberapa daerah, mengalami permasalahan kesehatan dengan sebab yang beragam.

Namun satu hal yang ia sadari, bahwa permasalahan kesehatan tersebut tidak berasal dari satu faktor saja.
Ia menyatakan bahwa, status kesehatan tidak hanya dipengaruhi oleh faktor biologis semata, akan tetapi faktor-faktor lain seperti lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan dan hereditas juga punya andil besar dalam mempengaruhi kesehatan.

Bloom ingin mengatakan –walaupun tidak secara langsung- bahwa, pengauh filsafat Cartesian-newtonian yang telah merasuk dalam kesadaran masyarakat, menjadi penghambat dalam pengembangan dunia kesehatan.

Hal ini berasal dari pandangan yang telah usang, pandangan antroposentris-postivistik. Bloom mengkritik pandangan filosofis yang menjadi ide dasar pembentuk modernisme tersebut. Yang melihat manusia sebagai sesuatu yang terpisah dengan hal yang ada disekitarnya, sehingga pengaruh eksternal dari diri manusia dianggap tidakberpengaruh dengan diri manusia itu sendiri.

Paradigma sehat adalah cara pandang yang holistik. Melihat kesehatan dari segala macam faktor yang bisa mempengaruhinya, serta menghubungkannya pada aspek moralitas. Paradigma sehat bukan upaya individu –seperti pandangan di paradigma sakit, namun lebih mengarah pada upaya pembangunan kesehatan yang bersifat komunal, melibatkan banyak orang beserta aspek etis di dalamnya.

Nilai filosofis dari paradigma sehat, saya temukan pada pemikiran Fritjof Capra melalui beberapa karyanya. Capra, saintis yang juga menggemari kajian metafisik timur ini, mengatakan bahwa makhluk hidup adalah satu kesatuan sistemik-holistik yang bekerja saling mempengaruhi satu sama lain.

Sehingga dengan demikian, konsep sistemik tersebut diterjemahkan kedalam bentuk praktis yang memiliki ciri khusus. Dalam dunia kesehatan, ciri khusus tersebut terlihat dari upaya yang lebih menekankan pada peningkatkan kesehatan dan pencegahan terjadinya masalah kesehatan.

Di Indonesia sendiri, ungkapan metafor yang sangat filosofis pernah diungkapkan oleh leluhur kita. Ungkapan, “sedia payung sebelum hujan” adalah bukti bahwa mencegah itu lebih baik dari mengobati.

Sebagai orang Indonesia kita pasti pernah mendengar atau bahkan mengucapkan ungkapan tersebut kepada orang disekitar kita. Namun yang menjadi Problem adalah ketika kita tidak menginternalisasi nilai luhur tersebut kedalam setiap aktivitas kita.

Apakah karena kita lahir di zaman yang bergerak jauh memunggungi nilai luhur tradisional nenek moyang? Ataukah ini adalah sebuah kemunduran bagi kita, dimana Fritjof Capra malah
menganggap nilai tradisional yang banyak dianut oleh masyarakat di Timur adalah jawaban atas segala permasalahan manusia yang terlalu bangga dengan semangat modernitas yang dianutnya.

Paradigma sehat bukanlah paradigma receh. Ia dibangun dengan landasan yang sangat filosofis dengan tujuan yang mulia; menyehatkan kehidupan bangsa. Namun saya bingung dengan para pemangku kebijkan kesehatan di negeri ini.

Mereka menggunakan paradigma sehat sebagai orientasi pembangunan kesehatan, namun pada pelaksanaanya, seperti tidak ada bedanya dengan paradigma sakit yang lebih mengutamakan upaya kuratif-rehabilitatif.

Apakah hal ini dikarenakan mereka gagal paham dengan paradigma sehat? Saya yakin tidak. Mereka adalah orang-orang pintar, punya pengalaman teknis yang banyak, kuliah diuniversitas terkemuka, bahkan ada yang jauh-jauh sampai kuliah di luar negeri.

Lantas apalagi yang bisa kita ragukan terhadap mereka? Atau mungkin saja ada hal lain yang tak nampak, sengaja ditutupi dan membuat mereka tetap kukuh seperti itu; kepentingan kelompok, misalnya.

Mario Hikmat

Mario Hikmat

Mahasiswa FKM UNHAS. Belajar di LISAN Cab. Makassar, sedang cari pengalaman kerja di Dialektika Coffee and Bookshop. Buku perdana: Jalan Panjang Tanpa Nama, 2017

Previous post

Mengapa Pemerintah Melawan Umat Islam?

Next post

Rohingya yang Mengunci Ingatan