Locita

Panjang Umur Manusia, Panjang Umur Kertas-Kertas

Ilustrasi (Sumber foto: merdeka.com)

KEABSAHAN sebuah dokumen hanya akan diterima hukum ketika ada “hitam di atas putih”. Nukilan yang saya cantumkan itu bisa jadi tidak asing bagi sebagian kita. Sebuah peribahasa yang sering digunakan untuk menyatakan maksud, perjanjian, secara tertulis. Dewasa ini, media banyak mengabarkan kondisi masyarakat yang terpaksa tergusur dari sebuah wilayah karena tidak memiliki “hitam di atas putih”.

Saya tidak sedang omong-omong tentang problem hukum dan perampasan hak tanah. Saya sekadar menyorot medium yang digunakan dalam upaya mencapai validitas sebuah perjanjian: kertas.

Di penghujung 2017, saya mendapat undangan dari panitia sebuah konferensi internasional di Seoul. Untuk itu saya mengurus paspor di imigrasi. Sebelum dicetak, seorang pegawai meminta saya membawa serta bukti transfer di hari pengambilan surat keterangan perjalanan.

Mengingat mesin ATM kadang tidak mengeluarkan struk transaksi, saya bertanya, apakah bukti bisa diserahkan dalam bentuk foto. Ia menggeleng. Sambil melebarkan senyum ia menegaskan, kertas resi!

Merespons kedua contoh di atas, saya gelisah. Apakah manusia dalam konteks keterkinian benar-benar tidak dapat lepas dari bayang-bayang penggunaan kertas? Kita telah berenang dalam era modernitas, mengeksplorasi seluruh perangkat digital mutakhir  yang ada demi alasan mobilitas.

Kita bergerak mengikuti letupan-letupan kembang api bernama abad futuristik. Menari semakin gegas seperti turbin dari energi maha dahsyat. Lalu meledak, menjadi serpihan tak terelakkan bernama perubahan.

Kita menjelma bukti dari tesis Heraklitos, segala yang tetap hanyalah perubahan. Ironisnya, kita malah belum selesai dengan satu hal remeh yang menguntit, dari ruang-ruang publik hingga ke bilik-bilik domestik; dari meja makan hingga sisi urinoir: kertas.

Ada apa dengan manusia?

Awalnya saya bersikeras bahwa sebuah peradaban dapat sepenuhnya berlangsung tanpa kehadiran kertas. Kita bisa melamar pekerjaan tanpa menenteng map berisi dokumen penting dalam bentuk kertas dari satu pintu jawatan ke jawatan lain. Sampai di sini saya tiba-tiba ingat rengekan sarjana muda dalam senandung Iwan Fals.

Di ruang-ruang pendidikan, beberapa sekolah telah menerapkan sistem ujian online. Persis sistem CAT yang diikuti para pelamar aparatur sipil negara. Di tingkat perguruan tinggi, mahasiswa akrab dengan buku digital. Sumber-sumber rujukan yang tersebar dalam kategori elektronik dan hasil riset dari jurnal-jurnal semuanya bisa terpublikasi dalam format daring.

Di meja redaksi media massa, para pemred dan pemilik saham memikirkan jalan untuk menjaga neraca income dengan mengurangi oplah. Mereka memperkuat kuda-kuda melalui peningkatan publikasi berita dalam bentuk online. Dahaga pasar harus terpenuhi.

Dalam sektor perbankan, kita bisa merasakan utilitas uang elektronik. Kartu kredit, kartu debit atau ATM, hingga T-cash. Yang disebut terakhir merupakan uang elektronik yang dirilis salah satu provider. Kecenderungan belanja masyarakat bahkan bergerak dari sistem jual-beli tatap muka ke jual-beli online.

Fakta-fakta di atas mendorong saya pada sebuah optimisme, kita akhirnya bisa hidup tanpa kertas. Mencuci segala dosa terhadap alam, terhadap hutan, yang telah kita keruk demi menyulapnya menjadi kertas. Kita juga bisa berpartisipasi aktif dalam upaya pengurangan polusi dengan tidak mengonsumsi hasil produksi perusahaan-perusahaan kertas, dengan mendorong mereka pada jurang kebangkrutan.

Di saat yang sama kita bisa membiarkan para karyawan dan buruh terkatung-katung memikirkan nasib dapur mereka. Dengan begitu, limbah yang mempercepat datangnya kehancuran di muka bumi dapat segera di atasi. Oh, mimpi anak remaja yang lugu dan utopis.

Ulrich Beck, seorang analis sosial Eropa, telah menyarikan persinggungan antara masyarakat industri dan risiko yang menguntit segala aktifitas mereka. Dalam bukunya yang berjudul Risikogesellschaft, Beck menegaskan bahwa produksi kemakmuran sosial secara sistematis disertai oleh produksi risiko sosial.

Ini semacam dua sisi mata koin. Perkembangan industri dan produktivitas manusia, akan selalu berdampak pada apa pun di sekitarnya. Kita tinggal memilih. Mengonsumsi alam secara berlebihan lantas membiarkan bumi terkatung-katung dalam upayanya menyembuhkan luka di tubuhnya, atau kita memanfaatkan alam secukupnya demi menunjang aktivitas manusia yang selanjutnya juga dapat digunakan untuk merawat semesta.

Tulisan ini barangkali akan terkesan membenturkan peluang alih fungsi penggunaan kertas dengan pemanfaatan mesin-mesin digital dan keniscayaan pemanfaatannya bagi manusia sampai waktu yang belum bisa ditentukan.

Senyatanya, kita tidak bisa menghindari perdebatan semacam itu. Kita akan menoleh kembali pada argumen yang jelas untuk membuktikan betapa kita bisa saja meminimalisasi penggunaan kertas dalam berbagai lini kehidupan, tetapi tidak untuk melenyapkannya sama sekali.

Membaca buku elektronik tentu membawa kesan tersendiri bagi pembacanya. Hanya saja, kita tidak dapat melupakan efek negatif dari ketergantungan membaca via laptop atau ponsel dalam jangka panjang.

Portal berita Tribun misalnya, mengutip Proceedings of the National Academy of Sciences, mengatakan bahwa pancaran cahaya biru dari telepon pintar, tablet, dan lampu LED akan mengurangi kualitas tidur malam kita. Peluang depresi pun semakin meningkat.

Upaya media massa mengubah medium penyebaran berita dari kertas cetak ke versi online, juga tidak tanpa risiko. Hal demikian memang memudahkan pembaca mengakses berita kapan pun dan di mana pun. Dampak buruknya dapat kita lihat dari semakin menjamurnya beberapa portal media massa yang tidak dibikin dengan asas-asas jurnalistik yang bisa dipertanggungjawabkan.

Dalam bidang ekonomi, hampir bisa dipastikan penggunaan uang kertas tidak akan dapat sepenuhnya digantikan oleh uang digital. Perdagangan di pasar tradisional atau toko kelontong, rasanya sulit beralih dari uang kertas ke sistem belanja non tunai. Nota belanja, resi mesin ATM, kuitansi, sebagai bukti sah transaksi jual-beli juga hanya mungkin dicetak di atas kertas.

Di meja restoran dan warung makan, keberadaan tisu yang penggunaannya jauh lebih praktis dibanding sapu tangan, juga akan menegaskan betapa tisu yang berasal dari kertas hampir tidak dapat tergantikan dengan produk selain kertas.

Sebagai produk sanitary, tisu tidak mudah tersubstitusi dengan media lain. Masyarakat dunia barat akan tetap mempertahankan eksistensi tisu di bilik toilet mereka. Ketidakmungkinan mereka beristinja menggunakan air sama seperti orang Indonesia yang akan sangat risih membersihkan saluran pembuangan hanya dengan beberapa lembar tisu.

Dari penjelasan di atas, paling bijak yang bisa kita lakukan ialah tetap berusaha menjaga kelestarian hutan demi memastikan ketersediaan bahan baku kertas. Misalnya, melalui program Sustainable Forest Management atau SFM.

SFM bertujuan untuk mengelola hutan secara bekesinambungan sehingga dapat terus-menerus memberikan peluang produksi dan jasa demi kemaslahatan manusia. Program ini dibentuk atas prinsip menghindari efek kerusakan lingkungan dan konflik sosial yang tidak diinginkan akibat eksploitasi hutan.

Menanggapi wacana paperless era yang sedang mengemuka akhir-akhir ini, saya ingin menegaskan satu hal, perubahan adalah keniscayaan. Tugas kita bukan menghindarinya, tetapi bekerja menyelaraskan semua elemen yang disediakan semesta dengan sebijak-bijaknya, seadil-adilnya.

La Ode Gusman Nasiru

pengajar. peneliti. pemerhati gender.

Add comment

Tentang Penulis

La Ode Gusman Nasiru

pengajar. peneliti. pemerhati gender.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.