Locita

Panitia reuni yang telah belajar dari reuni 212 Belajar dari reuni ikan-ikan

Menyimak tulisan-tulisan Arief Balla bagaikan menyelam di lautan tenang dengan dasar yang beriak. Ia sangat piawi menyusun kata-kata untuk menyamarkan air laut dan air tawar. Sederhananya ia tahu membedakan antara meniti jalan sunyi dan mendaki punggung gunung. Atau lebih sederhana lagi ia menyajikan kenikmatan makanan yang sesungguhnya ia tidak sukai dengan toping warna-warni. Sebuah catatan terhadap tulisannya yang begitu memanjakan pembaca.

Saya akui betapa sulitnya untuk menceritakan sebuah pengalaman yang tak pernah dialami. Contohnya ketika saya ingin menceritakan tentang reuni yang tak pernah saya hadiri. Rasanya sulit bagi saya untuk memberikan gambaran mengapa reuni itu seharusnya terjadi.

Mungkin dengan tangkapan pancing saya di media arus utama, mampu menyusun narasi tentang bagaimana reuni dilakukan oleh beberapa pihak. Saya menangkap dua ikan pada waktu itu, atau tepatnya beberapa jam setelah ajakan Arief Balla untuk mengambil pelajaran dari reuni 212 melalui tulisannya di locita.co yang berjudul Hal-hal yang Dapat Dipelajari dari Reuni 212 untuk Reuni Alumni Sekolah dan beberapa hari setelah reuni 212 berlangsung.

Ada dua ikan disana. Ikan yang tetap setia dengan lautan dan ikan yang setia dengan perut manusia. Entah pembaca tertarik pada ikan yang mana. Bolehlah kemudian saya mencoba menangkap ikan pertama dengan beradu pancing dengan arus dan yang kedua beradu pancing dengan ikannya sendiri.

Tak elok rasanya jika saya yang memancing keduanya. Mari kita simak satu cerita singkat tentang mereka.

Sebut saja ikan 212 dan ikan A. Ia ingin segera dipancing oleh seorang lelaki setengah bugar dan lelaki bugar perkasa. Ikan 212 dan ikan A merupakan ikan yang sangat aktif di lautan lepas. Lelaki setengah bugar dan lelaki bugar perkasa adalah ahli dengan pancingannya.

Para pemancing telah bersedia di posisi masing-masing. Keduanya memegang pancing dengan kekuatan gagang dan tali pancing yang sama. Singkat cerita, beberapa jam berlalu. Berkat kegigihan dari para pemancing dua jenis ikan yang berbeda akhirnya tertangkap.

Ikan yang sangat besar terpancing. Beberapa waktu sebelum ikan tertangkap, keduanya berbincang di dalam air “hei, kau yang bernama ikan A itu ? bisakah kau bantu aku untuk tertangkap oleh pemancing itu?”

ikan A menjawab berapi-api “bisa saja aku membantu mu, tapi apa untungnya bagiku?”

membalas pertanyaan itu, ikan  212 lantas cukup tenang mengamati “bagaimana jika engkau ikut Bersama aku ke daratan, kita bisa bertemu dengan kawan-kawan ikan kita yang lain ?”

“baiklah jika begitu, sepertinya tidak buruk jika bertemu dengan kawan-kawan kita di daratan. Aku juga ingin reuni dengan teman gurita yang dulu pernah menyelamatkanku”

Keduanya tertangkap. Hentakan demi hentakan beriakkan lautan yang tenang. Pemancing itu tampak kaget dengan tangkapan mereka. Ternyata ikan yang berwarna putih dan ikan berwarna hitam.

Ikan-ikan itu tidak menyangka setelah keluar dari lautan, warna mereka berubah karena cahaya matahari. Mereka yakin tidak akan berubah hanya karena lautan menyediakan air dan daratan menyediakan udara beserta cahaya.

Ingatan tentang reuni di daratan sirna sudah. Percakapan terkahir yang didengarkan ikan dari para pemancing membuat mereka menggugurkan niatnya.

Para pemancing teringat bahwa tiga tahun lalu ia menangkap ikan serupa. Ikan berwarna putih dan hitam. Masih jelas di ingatan mereka ketika itu hujan di saat membelah kedua ikan itu. Darah hitam pekat dari perut yang berwarna putih dan darah hitam pekat dari perut yang berwarna hitam.

Kali ini ia tidak terburu-buru untuk membelah keduanya. Ia menaruh keduanya di baskom besar. Meninggalkan desa dan beranjak ke kota. Berkeliling ibukota. Saat itu mereka berpikir untuk menjadi penjual ikan atau penikmat ikan.

Perjalanan bersama ikan di Ibukota menyadarkan mereka. Ia melihat kota yang penuh kehidupan. Biota laut yang hidup berdampingan dengan manusia di dalam perut dan senyuman ikan ketika menyerahkan diri pada manusia untuk diajak reuni sebagai makanan laut.

Reuni yang ikan 212 janjikan kepada ikan A terjadi tanpa ikan-ikan lainnya tapi bersama pemancing.

 

Muhammad Fadli Muslimin

Muhammad Fadli Muslimin

Tertarik pada isu-isu pendidikan dan sosial.
Saat ini masih berada di luar lingkaran kesusastraan

Tentang Penulis

Muhammad Fadli Muslimin

Muhammad Fadli Muslimin

Tertarik pada isu-isu pendidikan dan sosial.
Saat ini masih berada di luar lingkaran kesusastraan

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.