Locita

Panduan Singkat Menentukan Pilihan di Pilpres dari Daeng Ojol

Beberapa kali saya harus menahan diri untuk tidak menulis atau berkomentar di beranda facebook perihal pilpres. Hampir semua orang di media sosial berbicara tentang dua pilihan ini: antara Jokowi dan Prabowo.

Alasannya? Mungkin nanti akan saya jelaskan, mungkin juga tidak. Kemungkinan kedua lebih pasti.

Lagi pula sebelumnya saya percaya, siapa pun presidennya – kehidupan kita tak akan banyak berubah. Secara signifikan tidak akan menjanjikan. Tapi keseruan menjelang pilpres sungguh luar biasa.

Saya bisa melihat seorang kawan yang harus bertengkar hanya karena pilihan berbeda. Pemandangan lain tentu dapat kita temukan di beberapa tempat lainnya.

Saya tak habis pikir, efek pilpres terhadap hubungan sosial kita ternyata bisa separah itu. Sebisa mungkin saya menghindari percakapan tentang pilpres, tapi bahkan saat menjadi penumpang ojol, saya harus menerima pertanyaan tentang pilpres dan membuka percakapan yang panjang.

Tentu saya tidak akan menuliskan secara utuh, percakapan saya dengan ojek online itu. Tapi yang menarik, saya merasakan pilpres telah memberikan warna tersendiri bagi kehidupan beberapa orang di sekitar kita.

Sebut saja dia – Daeng Ojol A. Beberapa pernyataan awal dari dia membuat saya mengira jika dia mendukung pasangan Prabowo Sandi, tapi tak lama kemudian beberapa pernyataan lanjutan dari dia membuat saya merasa jika dia mendukung pasangan Jokowi Ma’ruf Amin.

Hingga muncul pertanyaan, “kira-kira siapa yang menurut ta bagus dipilih nanti?”

Maka, terungkaplah sudah jikalau Daeng Ojol A merupakan salah satu kaum pemilih yang masih bimbang. Atau istilah yang lebih sering terdengar di media, yaitu swingvoters. Berbeda dengan beberapa teman saya di facebook, Instagram atau twitter; mereka menjadi teman yang sudah sulit menerima fakta perihal kelebihan dan kekurangan tiap capres – cawapres.

Mereka cenderung menjadi pendukung garis keras yang keyakinannya telah mengakar dan sulit diubah. Mereka inilah yang kerap mengorbankan hubungan sosial demi memenangkan keyakinan – yang sebenarnya adalah ego dalam diri masing-masing. Mungkin saja anda salah satunya. Lupakan saja!

Nah, untuk kasus Daeng Ojol ini, tentu akan menjadi bagian menarik dari dunia politik kita hari ini. Bila berkaca dari hasil jajak pendapat yang dirilis Saiful Mujani Research and Consulting, terdapat hampir 30 persen yang berada pada posisi yang serupa dengan Daeng Ojol.

Data ini dikemukakan pada Desember 2018. Jumlah pemilih yang berkisar sebanyak 192.828.520 orang menyimpan jumlah besar untuk lingkup swingvoters. Para pelaku politik tentu saja akan berebut dan berusaha sekeras mungkin untuk dapat meraih suara dari swingvoters.

Daeng Ojol A belum menentukan pilihan antara dua calon itu, tapi ada kemungkinan dia juga memilih untuk berdiri sebagai golput. Sebuah fenomena politik yang dari masa ke masa diprediksikan akan terus meningkat di Indonesia. Jika itu terjadi, ini bisa menjadi alarm bagi para pelaku politik untuk setidaknya berlaku lebih sesuai dengan harapan masyarakat.

Mirisnya, pelaku politik tak henti-hentinya mempertontonkan hal buruk yang terus menggerus rasa percaya. Sampai kapan ini akan terus berlanjut? Kreativitas para pelaku politik akan terlihat dan semestinya menjadi sebuah langkah yang wajib ditempuh.

Swingvoters dapat menjadi harapan, tapi di sisi lain dapat jadi bencana. Daeng Ojol A satu dari sekian banyak orang yang masih merasa sulit menentukan pilihan. Saya sendiri? Tak menarik membahas pilihan saya.

“Tapi kalau saya toh, saya pilih yang perhatikan lapangan kerja. Susah betul cari kerja, untung ada Ojek Online kodong!”

Bagi Daeng Ojol A ini, menentukan pilihan di Pilpres jauh lebih sulit dibanding memilih jalan apa yang akan kami pilih dan lalui nantinya. Pasalnya, dua capres tak cukup jernih untuk memberikan gambaran tentang bagaimana kondisi Indonesia di masa depan.

Tak perlu saya tampilkan jumlah pengangguran. Saya juga tak perlu membahas wacana tentang pengangguran yang akan diberi gaji. Rasa-rasanya, cerita sedih tentang lapangan pekerjaan di Indonesia, bertaburan.

Sekiranya, ada langkah khusus dalam menciptakan lapangan kerja, entah dalam bentuk membangun atau meningkatkan keterampilan anak muda atau SDM kita, tapi sekiranya ini menjadi urusan penting. Di debat ketiga nantinya, masalah lapangan pekerjaan akan menjadi salah satu tema yang akan dibahas.

Semoga saja panduan dari Daeng Ojol A ini dapat berlaku dan kita bisa melihat dengan jelas, siapa yang membawa gagasan sebenarnya?

Sekali lagi, Daeng Ojol A ini, menentukan pilihan di Pilpres jauh lebih sulit dibanding memilih jalan apa yang akan kami pilih dan lalui nantinya.

“Mau ki lewat jalan cepat atau bebas macet?”

“Tergantung nyaman ta saja Om!”

“Tapi kayaknya macet semua di?”

“Tunggu saya cek dulu di google maps Om…”

“Eh, jangan mi. Ada jalan saya dapat!”

“Ow, kita ji Om”

Nah pada saat itu juga, saya merasa pasrah saja dengan pilihan Daeng Ojol A. Perasaan yang sama ketika saya melihat debat tiap pendukung capres di beranda facebook atau di dunia maya. Semoga debat yang sebenarnya lebih menjanjikan dari debat kemarin serta debat para netizen yang tak henti-hentinya.

Wawan Kurniawan

Menulis puisi, cerpen, esai dan menerjemahkan. Buku esai pertama, Sepi Manusia Topeng (2017). Saat ini masih menetap di Makassar. Twitter: @wnkurn

Add comment

Tentang Penulis

Wawan Kurniawan

Menulis puisi, cerpen, esai dan menerjemahkan. Buku esai pertama, Sepi Manusia Topeng (2017). Saat ini masih menetap di Makassar. Twitter: @wnkurn

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.