Locita

Pandemi Corona, Hari Rayanya Kaum Penyendiri

Ilustrasi (foto: tribun)

“Karena berdiam di rumah dan tidak berinteraksi dengan orang lain hari ini bukan lagi persoalan moral yang harus dipermasalahkan”

Bagi teman-teman yang lahir sebagai orang aktif dan setiap saat ingin selalu bergerak, tentu imbauan untuk Stay At Home akan menjadi masalah besar. Tapi sadarkah kita, bahwa imbauan tersebut justru menjadi hari raya bagi saudara kita kaum penyendiri?

Coba kita bayangkan, seseorang yang setiap hari tertekan karena harus berinteraksi dengan orang lain padahal ia sukanya di rumah, bahkan rebahan di kamar adalah runitas hariannya, kemudian secara serentak diimbau stay di rumah? Pasti rasanya seperti orang berpuasa Ramadhan, lalu datanglah Hari Raya Idul Fitri. Atau semacam pasangan (Long Distance Relationship) LDR yang ketemu pujaan hatinya.

Stay At Home bagi kaum penyendiri mungkin sudah menjadi cita-cita, ia tidak lagi risau dengan imbauan tetap berada di rumah. Apalagi ditambah dengan sejumlah kuota internet, maka lengkap sudah kebahagiaan mereka. Mereka tidak dipermasalahkan moralnya oleh sebagian orang yang menganggap interaksi sosial itu masalah moral sebagai makhluk sosial. Justru sekarang, memaksa tetap aktif berinteraksi langsung itu yang akan dianggap moralnya bermasalah.

Bagi kaum penyendiri, adanya imbauan itu selain menyelamatkan diri mereka dari wabah Corona, juga menyelamatkan mereka dari pertanyaan receh yang menyebalkan semacam “Kapan Kawin?” dan “Kapan Wisuda?” atau sejenisnya. Mereka juga tidak perlu melawan orang tua yang selalu menginginkan anaknya agar aktif berinteraksi sosial dengan lingkungannya.

Selain dari semua yang di atas, kaum penyendiri cenderung malas ber-ghibah. Stay At Home juga membuat mereka terhindar dari perkumpulan yang isinya ghibah. Memang rasanya kaum penyendiri itu seperti punya dunia sendiri dalam kehidupan mereka, tapi kita juga tidak bisa menyalahkan mereka.

Dengan adanya pandemi corona yang menimbulkan pembatasan sosial ini, harusnya membuat kita belajar bahwa di dunia ini ada kaum sukanya di rumah aja. Sehingga kita yang katanya aktif berinteraksi sosial, punya kepekaan terhadap golongan ini. Karena mereka juga bagian dari makhluk sosial juga, kan?. Bahkan kita harus sadar, kaum penyendiri itu tidak banyak menularkan Covid-19. Justru mereka yang tertular dan menularkan, lebih banyak dari orang aktif berinteraksi sosial.

Akhirnya kita harus mengamini meme yang berisi “Saatnya kaum rebahan jadi pahlawan”, atau “Cukup dengan rebahan di rumah, kita semua jadi pahlawan”. Penulis sendiri disadarkan, jika ‘konflik’ itu muncul dari orang aktif berinteraksi sosial, lho. Makanya bisa kita disimpulkan, kaum penyendiri itu kaum yang tidak banyak menimbulkan konflik di dunia.

Coba kita cek realitas sosial kita, perdebatan Cebong vs Kampret, atau tentang Fundamentalisme Agama, Terorisme, SARA dan yang lainnya mulai berkurang. Bahkan di perkumpulan keluarga saja, tetangga kita sudah jarang dibahas lagi. Semua orang sedang berbicara Covid-19 dan bagaimana caranya menanggulanginya. Tidak lagi peduli agamanya apa, pilihan politik mereka apa, semua ingin wabah ini segera berlalu. Bisa dibilang, wabah ini pemersatu bangsa kali ya.

Memang sih masih ada sebagian yang membenturkan kebijakan pemerintah pusat dengan suatu daerah, atau kepala daerah dengan kepala daerah lainnya, hingga perdebatan jika Indonesia antek Asing dan Aseng. Tetapi itu tidak banyak, dan kita perlu memaklumi bahwa masih ada orang yang mau mengambil kesempatan dalam kesempitan. Bahkan lebih parah lagi, ada orang yang menimbun alat pelindung diri (APD) dan menjualnya dengan harga mahal.

Namun mereka yang kehilangan nurani itu, tidak banyak. Masalahnya para penimbun tersebut banyak datang dari orang-orang yang aktif sosialnya, bukan mereka para penyendiri. Para penyendiri ini juga tidak terlalu banyak merusak alam. Coba kita lihat dari berbagai penelitian, ketika aktivitas sebagian besar manusia di seluruh penjuru dunia dibatasi, kondisi alam kita membaik seiring berkurangnya polusi.

Jadi dari sini penulis ingin mengatakan, bahwa untuk disebut pahlawan itu tidak harus dengan mengangkat senjata, tidak perlu aktif membantu korban bencana, atau menyumbang dana sosial. Cukup belajar menjadi orang rumahan kepada mereka, atau bahkan belajar menjadi penyendiri selama pandemi ini sudah lebih dari cukup syarat menjadi pahlawan. Iya benar, Cukup di rumah aja.! Cukup.

Addarori Ibnu Wardi

Addarori Ibnu Wardi

Orang biasa yang lahir dari orang tua petani dengan mimpi yang mengalir. Untuk melihat kesehariannya, bisa dicek di Facebook Addarori Ibnu Wardi, twitter @ibnu_wardi, Instagram @ibnuwardi, Youtube Channel Addarori Ibnu Wardi. :)

1 comment

Tentang Penulis

Addarori Ibnu Wardi

Addarori Ibnu Wardi

Orang biasa yang lahir dari orang tua petani dengan mimpi yang mengalir. Untuk melihat kesehariannya, bisa dicek di Facebook Addarori Ibnu Wardi, twitter @ibnu_wardi, Instagram @ibnuwardi, Youtube Channel Addarori Ibnu Wardi. :)

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.