Esai

Orang Buton Melawat ke Maluku

AKHIR Desember, menjelang natal, saya memulai perjalanan ke timur dari Pelabuhan Murhum, Baubau, dengan menumpang Ciremai, kapal laut milik PT Pelni. Tiket yang kami (saya dan istri, maksudnya) beli tertanggal 20 Desember 2017 dan tertera keberangkatan jam sembilan malam menuju Ambon. Seperti biasa, sebagian besar kapal laut tak pernah tepat waktu saat tiba dan juga saat berangkat. Ini berlaku di semua rute, baik menuju ke timur maupun ke barat.

Selepas isya penumpang telah memenuhi ruang tunggu Pelabuhan Murhum, namun kapal tak kunjung muncul. Semakin larut semakin sesak. Jam mulai menunjukan pergantian hari dan tanggal. Penumpang di ruang tunggu yang terjaga makin gelisah. Yang tak tahan kantuk memilih tidur di lantai, tak beralas tikar.

Sejam lewat tengah malam, kapal perlahan-lahan merapat di pelabuhan Murhum. Kapal itu menurunkan penumpang yang naik di Pelabuhan Makassar sehari sebelumnya. Kapal itu memulangkan mereka yang merantau ke tanah kelahiran. Ada penumpang yang hanya sekedar transit, dan ada pula penumpang yang akan berangkat ke daerah rantau.

Dua jam lagi, kapal akan kembali meninggalkan pelabuhan untuk mengarungi lautan, memindahkan orang-orang dari satu tempat ke tempat yang lain. Membawa mereka pergi dan juga kembali dari melihat daerah luar agar mengenal dunia. Hidup adalah perjalanan tanpa henti, dan kapal menampung segala rindu dan juga gelisah orang-orang di dalamnya.

Penumpang yang turun tak sebanding dengan yang naik, memang selalu begitu adanya bila menjelang natal dan tahun baru. Berbanding terbalik bila mendekati lebaran Idul fitri. Di kapal ini, kebanyakan penumpang akan turun di pelabuhan Yos Sudarso Ambon dan juga di Papua. Mereka akan merayakan natal dan tahun baru di tanah kelahiran.

Penumpang turun di Pelabuhan Murhum, Baubau (foto: Rustam Awat)

Walaupun tak ramai, penumpang yang naik dari Pelabuhan Murhum saling berebut mencari tempat untuk mengamankan barang bawaan dan juga tempat untuk tidur. Para pedagang asongan tak ketinggalan sibuk menawarkan dagangan, mulai dari makanan, air minum mineral, hingga tikar dari potongan sak semen.

Anehnya, mereka juga turut menyewakan tempat beserta kasur busa milik kapal tersebut yang telah mereka kapling lebih dahulu di dalam kapal. Tempat dan kasur busa disewakan seharga 30 ribu rupiah. Bagi penumpang kelas ekonomi yang tidak mendapat tempat biasanya akan menyewa tempat-tempat itu.

Penumpang tidak bisa bersabar menunggu kapal berangkat lalu mengambil tempat tersebut secara cuma-cuma karena yang menyewakan tidak ikut berangkat. Masalahnya, banyak penumpang mencari tempat untuk meletakkan barang bawaan dan merebahkan badan di dalam kapal. Penumpang yang tak kebagian tempat biasanya akan membeli tikar sak semen seharga 10 ribu rupiah dan menempati ruang di antara tangga dek kapal.

Tak perlu heran, di mana-mana kelas ekonomi memang selalu begitu di negeri ini. Di kereta api, bis, juga kapal laut keadaannya tak jauh beda, pengap, berdesak-desakan, ribut, dan tak aman. Ruang kelas ekonomi yang kami tempati sekarang tak jauh berbeda kondisinya dengan 20 tahun yang lalu.

Bila tak ingin repot, sebaiknya membeli tiket kelas I atau kelas II agar mendapat fasilitas kamar dan toilet sendiri. Makan pun tak perlu bersusah payah berdesak-desakan pada antrian yang panjang.

Namun bagi para traveler, berada di ruang kelas ekonomi menghadirkan banyak cerita. DI antaranya adalah bisa berkenalan dan bercerita dengan orang asing di sebelah kita. Biasanya percakapan dimulai dengan menanyakan pelabuhan tujuan, asal daerah, hingga berlanjut ke hal-hal yang tidak terarah, sekedar mengisi waktu agar perjalanan tak terasa membosankan.

Setiap penumpang punya perasaan campur aduk. Ada kejengkelan dari para wanita karena banyaknya para perokok yang menghembuskan asap rokok seenaknya, lalu membuang puntung rokok sembarangan. Walau ada tulisan “no smoking”, banyak penumpang yang belum punya kesadaran untuk tidak merokok di dalam kapal.

Melalui pengeras suara, petugas kapal juga telah mengumumkan bila merokok sebaiknya dilakukan di bagian luar dek 5 dan 7 yang langsung terpapar udara bebas. Namun pengumuman ini kebanyakan tak dihiraukan, dianggap angin lalu.

Belum lagi kekesalan karena suara bising para penumpang lain tak kenal waktu dan anak-anak yang berlarian di jam tidur. Di tambah udara yang pengap karena AC tak berfungsi sehingga badan menjadi gerah. Begitu pula dengan kamar mandi dan toilet yang diakses bersama dan kondisinya sebagian besar tidak terawat dan jorok, berbau pesing.

Hal yang tak kalah penting adalah sikap waspada terhadap barang bawaan, sebab para pencuri selalu sigap mengintai dan menunggu pemiliknya lengah. Semua suasana di atas bercampur jadi satu, dan begitulah adanya kondisi ruang kelas ekonomi di kapal laut milik PT Pelni, sebab semua serba terbuka dan dapat diakses oleh umum.

***

Pukul tiga dini hari, kapal Ciremai perlahan-lahan meninggalkan Pelabuhan Murhum, Baubau. Perjalanan ke timur pun dimulai. Sisa ombak musim barat menghantam samping kapal hingga membuat kapal oleng. Sebagian besar penumpang mulai terlelap karena sebelumnya telah kelelahan di ruang tunggu pelabuhan di tambah lagi malam yang sudah melewati larut dan hampir menembus pagi. Setelah menempuh tiga jam perjalanan, ombak mulai menghantam bagian belakang kapal namun tidak membuat oleng seperti sebelumnya.

Pelabuhan Murhum di malam hari (foto: Rustam Awat)

Kapal mengarungi Laut Banda selama kurang lebih 22 jam, dan tiba di pelabuhan Yos Sudarso, Ambon, pukul dua dini hari. Penumpang berebut turun dari kapal, ingin segera bertemu dengan orang tua atau kerabat yang menjemput. Malam selarut itu kami pun ikut turun dan menuju rumah kerabat. Perjalanan kami belum sampai di tujuan,. Kami masih harus melakukan perjalanan darat dan laut lagi hingga bisa tiba di Masohi, ibukota Maluku Tengah.

Saat pagi hari, kami menempuh perjalanan darat selama 45-60 menit menuju Tulehu. Hiasan pohon-pohon natal berjejer di sepanjang jalan yang kami lalui mulai dari Ambon hingga mendekati Tulehu. Aroma natal dan tahun baru sangat terasa sebagai bagian dari perayaan umat Nasrani di Ambon dan Maluku pada umumnya.

Ketika memasuki kampung Tulehu, sebuah tulisan besar terpampang “Selamat Datang Di Kampung Sepakbola”. Tulehu memang terkenal sebagai kampung penghasil pemain sepakbola nasional sejak dahulu hingga kini. Kampung ini seakan tak pernah kehabisan stok untuk menghasilkan pemain yang menghiasi tim nasional dengan kualitas mengolah bola yang mumpuni.

Setiba di terminal Pelabuhan Tulehu, mobil menurunkan penumpang yang akan berangkat ke seberang lautan. Orang-orang berlalu lalang, masing-masing sibuk dengan tujuannya. Kami menyempatkan diri membeli tiket kapal cepat tujuan Amahai, Masohi. Begitu memasuki bagian dalam pelabuhan, penumpang telah penuh sesak di sekitar kapal yang berlabuh.

Kapal cepat yang akan kami tumpangi telah penuh sesak dengan penumpang. Sekitar 50-an orang, termasuk saya, tak kebagian tempat duduk karena muatan kapal yang melebihi kapasitas. Penumpang yang lain duduk di kursi panjang dan berdesak-desakan. Kapal cepat ini tak mengharuskan penumpang untuk duduk sesuai nomor kursi yang tertera pada tiket. Penumpang yang datang lebih awal boleh duduk di kursi mana saja.

Penumpang kapal cepat menjelang natal (foto: Rustam Awat)

Pukul 09.00 perjalanan melintas laut menuju ibukota Maluku Tengah pun di mulai. Kapal cepat yang kami tumpangi membelah lautan yang teduh. Perjalanan di Maluku selalu menyenangkan di musim barat seperti ini. Selama kurang lebih dua jam kapal tiba di pelabuhan Amahai. Kami masih harus melanjutkan perjalanan selama 20-30 menit menuju Masohi.

Akhirnya saya memijak lagi Masohi, setelah lima tahun tak mengunjunginya. Seperti biasa, perjalanan ke timur kali ini adalah perjalanan menziarahi makam ayah dan adik yang dikebumikan di sana. Juga menemui ibu yang tinggal sendirian di tanah rantau.

Masohi adalah kota yang indah, jalannya mulus, lebar, lurus, dan datar. Kotanya juga bersih. Di kota ini pendatang dari Buton Tengah dan Wakatobi (Tomia) menguasai sektor ekonomi sebagai pedagang di pasar, membuka minimarket, dan menjual alat-alat motor.

Selama seminggu di Masohi, tak banyak tempat yang kami kunjungi. Kami lebih banyak menghabiskan waktu bersama ibu, maklum jarang bertemu karena jarak yang jauh antara Sulawesi Tenggara dan Maluku Tengah. Saat bertemu sosok mulia ini, segala rindu tercurahkan. Rasanya ingin selalu dekat dan berlama-lama dengan wanita yang mulai menua ini.

Aktivitas kami hanya seputar pasar untuk membeli keperluan dapur. Pasar merupakan representasi untuk mengabadikan interaksi keseharian orang-orang lokal dan pendatang mulai dari berjualan pakaian, ikan, buah, dan sayur.

Aktivitas di Pasar Masohi (foto: Rustam Awat)

Malam sebelum pulang ke kampung halaman, kami menyempatkan diri berkunjung ke salah satu ikon kota Masohi, Ina Marina namanya. Di samping pintu masuk tertera tulisan “Dulang Patita” yang artinya tempat makan bersama dalam bahasa lokal. Ina Marina adalah ruang publik tempat refreshing bagi keluarga, tempat ngopi dan ngejus, juga ajang mangkal anak muda. Konon di tempat ini, satu lapak hanya boleh menjual maksimal tiga jenis makanan atau minuman, dan setiap lapak tidak diperbolehkan memiliki menu yang sama agar tidak terjadi persaingan antar penjual.

Suasana malam di Ina Marina (foto: Rustam Awat)

Kini waktunya kembali ke kampung halaman. Selamat tinggal Masohi, selamat tinggal Ambon. Kapal yang kami tumpangi akan berangkat tengah malam. Saya menyempatkan menyusuri kota Ambon. Kota ini telah banyak berubah, jalanan macet, rumah berdesak-desakan. Kota ini telah penuh sesak. Menyusuri kembali kota Ambon mengingatkan saya pada masa remaja di akhir tahun 80-an hingga awal tahun 90-an karena saya pernah bersekolah di kota ini saat SMP dan SMA, meskipun tak sempat tamat karena harus pindah sekolah di kampung halaman (Buton).

Saya masih mengingat jalan-jalan yang pernah saya lalui ketika berangkat sekolah dulu, meskipun banyak pula yang saya lupa. Saya menyempatkan melihat kembali patung Christina Marta Tiahahu, seorang pahlawan kebanggaan Maluku, selain Pattimura. Patung yang didirikan di ketinggian ini sekarang tak bisa terlihat sepenuhnya seperti dulu sebab kini terhalang oleh banyaknya bangunan di sekitarnya. Semua telah berubah seiring perkembangan kota yang makin sesak. Hanya sesedikit itu kenangan yang bisa saya kunjungi, sebab ini bukan perjalanan liburan akhir tahun.

Patung Christina Martha Tiahahu (foto: Rustam Awat)

Sabtu, 30 Desember 2017, pukul satu malam kapal Nggapulu meninggalkan pelabuhan Yos Sudarso Ambon. Penumpang kapal tak sepadat seminggu sebelumnya. Sejak meninggalkan pelabuhan Yos Sudarso, Ambon, hingga tiba di pelabuhan Murhum, Baubau, lautan begitu teduh, bagai karpet yang dihamparkan di permukaan laut.

Seperti biasa pelayaran ke timur maupun ke barat, kapal Ciremai ataupun Nggapulu, para pedagang asongan tersebar di dek 7 dengan beragam jenis dagangan, mulai dari menjual jam tangan, gelang, rokok, kopi, dan lain-lain. Ada pula pedagang yang berkeliling di setiap dek di ruang-ruang kelas ekonomi menawarkan dagangannya berupa pakaian, apel, kerupuk, pop mie, hingga ayam goreng. Kapal bukan sekedar menyangkut pelayaran semata, di dalamnya terjadi perputaran ekonomi dari aktivitas para pedagang dan pembeli.

Pedagang ikut berlayar dan berjualan di kapal Nggapulu (foto: Rustam Awat)

Perjalanan kali ini semuanya dilakukan saat tengah malam. Mulai dari Pelabuhan Murhum, Baubau, hingga tiba di Pelabuhan Yos Sudarso, Ambon. Begitu pula sebaliknya, saat menuju kampung halaman. Kapal tiba di pelabuhan Murhum Baubau pada penghujung tahun 2017 pukul 02.00 dini hari.

Perjalanan ke timur berakhir indah di akhir tahun.

 

Rustam Awat

Rustam Awat

akademisi, pejalan, pemotret

Previous post

Ketika Rahim Perempuan Dikomersilkan

berita bohong hoax fian
Next post

Hoaks Membangun ala Bos Badan Siber