Locita

Opera Setya Novanto Untungkan PDIP?

ilustrasi (grafik: inilah.com)

MENYAKSIKAN suasana sidang Setya Novanto (Setnov) ibarat menonton opera dengan alur rumit yang susah ditebak. Setelah sebelumnya muncul aksi “tabrak tiang listrik”, kini yang muncul adalah aksi diam saat berada di pengadilan. Seluruh warga tanah air langsung berisik di media sosial. Di luar segala huru-hara itu, publik lupa bahwa nama tiga politisi PDIP malah luput dari surat dakwaan KPK. Siapa yang paling diuntungkan dari sidang Setnov? Apakah PDIP?

***

DIA datang dari Warakas, Jakarta Utara. Bapak itu mengenakan baju kuning, dengan ikat kepala bertuliskan Hidup Golkar. Di bagian belakang bajunya, terdapat tulisan Golkar Bangkit, Golkar Jaya, Golkar Menang. Bersama rombongannya sebanyak 50 orang, dia datang dengan menumpang satu truk. Barisan yang mengaku simpatisan Partai Golkar itu hendak memberikan moril kepada Setnov yang disidang di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Jalan Bungur Raya, kemarin.

Tadinya saya hanya melintas. Tapi saya penasaran menyaksikan betapa banyaknya mobil terparkir di tepian Jalan Bungur. Semua stasiun televisi datang membawa mobil liputan yang di atasnya terdapat antena seperti parabola. Mobil berparabola itu berjejer di depan ruang sidang, sehingga publik yang melintas bisa merasakan bahwa ada satu peristiwa besar terjadi di situ.

Saya pun singgah ke ruang pengadilan itu. Di depan kantor pengadilan, saya nyaris tak bisa masuk. Saya mencatat ada ratusan jurnalis yang duduk di teras. Banyak di antara mereka yang sedang memegang ponsel sembari mengetik sesuatu. Di dalam pengadilan, suasana juga tak kalah ramai. Beberapa televisi memulai siaran langsung. Para presenter cantik berdiri di depan kamera dengan mulut komat-kamit.

Tak lama kemudian, semua jurnalis bergerak merubung sesuatu. Saya penasaran dan ikut mendekat. Blitz kamera kembali dinyalakan. Barisan berbaju kuning merangsak ke depan, mengambil posisi di sekitar Idrus. Saya melihat bapak dari Warakas itu di sebelah Idrus. Dari jarak kurang dari 10 meter, saya bisa melihat kalau Plt Ketua Umum Golkar itu sedang pernyataan pers. Saya tak terlalu tertarik untuk tahu apa yang sedang dibahas. Saya hanya suka mendengar aksen bicara Idrus yang khas Bugis itu.

“Sidangnya bakal panjang Mas,” kata seorang jurnalis. Dia melihat saya sibuk memperhatikan situasi. Mungkin penampilan saya seperti jurnalis, memakai kaos oblong, dan jeans kusam yang lama tak dicuci. Saya pun tersenyum dan merespon kalimatnya. Kami sama-sama berdiri di depan pengadilan di dekat areal untuk merokok. Dia menyodorkan rokok putih, saya menolak. Dari dalam tas, saya keluarkan rokok kretek. Saat asap mengepul, dia terlihat tergoda. Saya lalu menyodorkan kretek, yang disambutnya dengan sumringah.

suasana di depan pengadilan (foto: Yusran Darmawan)
foto: Yusran Darmawan

Namanya Andri. Dia bekerja di satu media di Jakarta. Menurut Andri, drama persidangan Setnov akan menjadi drama terpanjang. Banyak pihak ikut bermain di air keruh sehingga berkepentingan pada persidangan Setnov. Laksana seorang bos para mafia, Setnov bermain di areal abu-abu yang tak banyak diketahui publik, tapi menjadi arena banyak politisi.

Di ruang gelap itu, Setnov adalah pengendali banyak irama yang tenang dan tak banyak bicara. Kekuatannya adalah kemampuan membangun jejaring, mengajak orang lain menjadi perisai bagi dirinya, setelah itu memainkan banyak skenario. Saat satu skenario gagal, Setnov dengan cepat berpindah skenario. (BACA: Operasi Penyelamatan Setnov)

Andri juga bercerita suasana sidang. Setnov tidak menjawab pertanyaan hakim. Dia juga beberapa kali ke WC. Saya tak terlalu terkejut dengan pernyataan Andri. Setnov memang penuh skenario. Dia tidak pernah memilih diam dan kalah.

Sekecil apapun skenario akan dimaksimalkannya demi memenangkan banyak hal. Dia tak mau langsung diam dan menjalani persidangan sebagaimana orang lain. Dia boleh saja di bui. Tapi jejaringnya akan terus bekerja untuknya. Butuh satu kecerdikan dan kelihaian untuk memutus rantai kerja Setnov yang sedemikian rapi dan terorganisir.

***

PONSEL saya berbunyi. Saya melihat ada telepon dari Riyal. Dia adalah salah satu pengacara yang bergabung di bawah bendera Maqdir Ismail. Saya dan Riyal sama-sama berasal dari Buton, Sulawesi Tenggara. Saya dan Riyal memang janjian untuk satu urusan. Dikarenakan ia harus mendampingi Maqdir di sidang Setnov, ia minta ketemu di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Riyal minta saya masuk ruang sidang. Ia meminta security untuk mengijinkan saya masuk. Rupanya, jalannya sidang telah memasuki masa akhir. Jaksa telah membacakan semua surat dakwaan. Di sana, ketua tim penasihat hukum Novanto, Maqdir meminta waktu dua pekan kepada majelis hakm untuk menyusun eksepsi atau pembelaan hukum.

“Kami akan meminta waktu cukup yang panjang kalau boleh dua minggu karena satu hal yang perlu kami sampaikan sebagai alasan terlebih dahulu bahwa begitu banyaknya fakta yang berbeda yang kami dengar dari surat dakwaan ini dengan dua dakwaan terdahulu,” kata Maqdir.

Di ruang sidang itu, saya melihat Maqdir. Rambutnya mulai memutih. Dahulu dia adalah salah satu pengacara paling diandalkan Adnan Buyung Nasution. Dia seorang doktor lulusan dari Universitas Indonesia (UI). Di kalangan lawyer, dia dikenal cerdas dan sering digoda agar menjadi pengajar tetap bidang hukum perguruan tinggi. Tapi ia memilih menjadi pengacara. Entah, apakah ia silau dengan duit melimpah di bidang ini.

Di luar sidang, Maqdir menyebut beberapa fakta yang hilang dalam dakwaan Setnov. Fakta yang hilang itu adalah nama-nama politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang banyak disebut dalam dakwaan sebelumnya. Mereka adalah Ganjar Pranowo (Gubernur Jateng), Yasonna Laoly (Menteri Hukum dan HAM), dan Olly Dondokambey (Gubernur Sulut).

Ia menduga ada ‘main mata’ antara KPK dan pemerintah. “Makanya, saya katakan tadi Kenapa nama-nama itu bisa raib. Apa negosiasi yang dilakukan KPK?” Ia tidak ingin mengaitkan nama-nama yang hilang itu dengan PDIP sebagai partai penguasa. Ia melihat figur-figur itu harusnya disebut namanya oleh KPK dalam dakwaan. “Saya tidak melihat partai. Saya melihat personil orang yang disebut terima uang. Kok tiba-tiba nama mereka raib? Ini yang saya persoalkan,” katanya.

saat Idrus Marham dikerumuni jurnalis

Padahal, dalam surat dakwaan mantan pejabat Dirjen Dukcapil Dukcapil Kemendagri, Irman dan Pejabat Pembuat Komitmen Proyek e-KTP,  Olly selaku Wakil Ketua Banggar DPR RI saat proyek e-KTP bergulir, disebutkan menerima uang korupsi e-KTP senilai 1,2 juta dollar AS, Ganjar senilai 520 ribu dollar AS, dan Yasonna sebesar 84 ribu dollar AS.

Namun dalam dakwaan Setya Novanto, ketiga nama itu, serta sejumlah politikus lainnya, hanya disebut jaksa KPK “Beberapa anggota DPR RI periode 2009-2014 sejumlah 12.856.000 dolar Amerika Serikat dan Rp44 miliar.” Nama lain yang juga hilang adalah mantan Menteri Dalam Negeri 2009-2014 Gamawan Fauzi.  Jika dalam dakwaan perkara sebelumnya disebut menerima USD4,5 juta, maka di dakwaan Novanto hanya disebut menerima satu ruko di Kebayoran.

***

SAYA lalu meninggalkan kantor pengadilan itu. Semua urusan telah kelar. Saya memikirkan bagaimana menyambung semua fakta-fakta penting terkait sidang Setnov. Pertama, sikap Setnov yang lebih banyak diam. Apakah ia sedang memainkan strategi untuk mengulur waktu hingga proses praperadilan kelar? Kedua, beberapa nama politisi PDIP yang raib dari surat dakwaan. Ketiga, siapa yang paling diuntungkan dari opera Setnov yang bisa menyeret banyak orang.

Kasus ini menarik sebab sarat kepentingan di lembaga tinggi negara yakni DPR. Pelakunya adalah para wakil rakyat yang sedang membicarakan kemaslahatan rakyat Indonesia, lalu membuat program bernama E-KTP. Di atas kertas program ini bagus sebab bisa menjadi identitas tunggal seluruh warga Indonesia, dari Sabang sampai Merauke.

Di sisi lain, program ini penuh aroma kongkalikong dan kolusi. Untuk membuat E-KTP yang merekam 240 juta warga Indonesia, butuh perangkat teknologi. Butuh alat. Butuh banyak bahan. Butuh pelatihan SDM. Butuh proyek senilai triliunan rupiah. Banyak pihak, menjadi stakeholders dari arus permainan, yang ujung-ujungnya adalah mempertebal pundi-pundi pribadi.

Sebagai warga biasa, saya menilai mustahil proyek sebesar itu hanya menguntungkan satu orang. Sudah menjadi pandangan umum kalau ada banyak pihak yang bersama-sama membentuk orkestra persekongkolan demi imbalan fulus. Setnov hanya satu kepingan kecil dari orkestra yang melibatkan banyak nama dan banyak partai. Tak adil juga jika dirinya harus menanggung sendirian semua persoalan, yang keuntungannya tidak mungkin dinikmati seorang diri.

Siapa yang diuntungkan dengan hilangnya nama politisi itu? Di Twitter, saya melihat banyak yang menyebut dakwaan ini menguntungkan para politisi PDIP. Malah ada beberapa netizen yang mengucapkan selamat kepada Ganjar Pranowo. Dia hendak bersiap memasuki lintasan pilkada Jawa Tengah. Pendukungnya harap-harap cemas karena namanya beberapa kali disebut. Malah Ganjar sudah pernah diminta menjadi saksi. Dalam surat dakwaan KPK, Ganjar disebut menepis rayuan Setnov. Benarkah?

Tak hanya Ganjar, nama-nama lain yang hilang adalah para pejabat, orang berkuasa, dan punya potensi mengendalikan hukum. Detik.com memuat pernyataan Ketua DPP PDIP Hendrawan Supratikno yang bersyukur karena nama politisi PDIP tidak masuk surat dakwaan. “Sampai di titik ini, kalau memang dakwaan seperti itu, kami menerimanya dengan lega,” katanya. (Baca DI SINI)

Jika sinyalemen yang dikemukakan Maqdir itu benar, maka kita sedang menyaksikan satu opera “habis manis sepah dibuang.” Ada masa ketika Setnov memainkan proyek, membaginya secara adil kepada banyak nama, tiba-tiba peta politik berubah. Beberapa yang menerima dana itu menjadi petinggi. Setnov lalu terjerat kasus yang bisa membuatnya dipenjara seumur hidup.

Jika ada yang diuntungkan, pasti ada yang dirugikan. Yang paling rugi dari opera ini adalah Setnov. Bayangkan, dia kehilangan kursinya di jajaran petinggi partai kuning. Dia juga terancam penjara seumur hidup. Dia kehilangan kebebasannya sebab harus meringkuk di penjara. Dia juga menghadapi kasus hukum seorang diri, padahal tindakan itu diperkirakan dilakukan banyak orang.

Demikianlah peribahasa “Ada gula ada semut” sedang berlaku di negara ini. Saat Anda mengelola proyek, semua mendekat dan ingin menikmati. Saat Anda bermasalah, semua akan menjauh dan membiarkanmu seorang diri melepaskan diri dari belitan hukum. Anda sendirian. Anda tak boleh membawa nama lain. Politik dan kuasa akan tunduk pada skenario besar yang tak boleh kalah.

Setnov adalah tragedi manusia yang disanjung, kemudian dihempas.

 

Yusran Darmawan

peneliti, pejalan, dan penggemar kuliner

Tentang Penulis

Yusran Darmawan

peneliti, pejalan, dan penggemar kuliner

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.