Locita

Obituari Ishak Ngeljaratan: Titik Akhir Pengembara yang Buta

PAK TUA itu turun dari angkutan umum.  Langkah kakinya lambat menyeberangi arus satu arah Jalan Botolempangan, Makassar. Tangan sebelahnya menenteng tas jinjing, wajahnya dingin.

Di hadapannya sebuah sekretariat Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Makassar dia mendatangi sekumpulan anak muda yang sedang nongkrong.

Salah seorangnya memakai kemeja terbuka, salah satunya lagi memakai sarung memakai singlet. Mungkin kedua orang itulah yang membuat sang Pak Tua gusar. Saat dia mendekat, para anak muda ini menunduk hormat dan menyalami Pak Tua itu.

“Kalian, bikin apa di sini? Kenapa tidak sekalian buka celana di situ? Bagaimana mau bela rakyat, kalau urus diri sendiri saja tidak becus.” Suaranya pelan dan bervolume rendah tapi dari penekanan jelas itu teguran, tangannya menunjuk pintu depan sekretariat.

Anak-anak muda ini mulai salah tingkah. Mahasiswa yang memakai kemeja terbuka mulai merapikan kancingnya. Si pemakai sarung dan singlet dengan sigap berlari masuk ke dalam sekretariat. Setelah menyampaikan itu, Pak Tua itu berlalu, kembali menyeberang dan melanjutkan perjalanannya dengan angkutan umum lainnya.

Begitulah Pak Tua Itu.

Seharusnya Pak Tua itu duduk di teras rumahnya. Menikmati segelas susu sembari membaca koran dengan kacamata berlensa silindernya. Tapi nyatanya Pak Tua itu sebenar-benarnya pekak dan buta. Dia memilih berbakti sebagai gereja berjalan, khususnya kepada anak-anak muda.

“Gereja itu harusnya mendatangi jamaah, bukan didatangi jamaah.” Kira-kira seperti itu yang sering dia sampaikan di mimbar pembicara atau saat berbicara kepada para pemuda yang mendeklarasikan diri sebagai ‘aktivis’.

Konon katanya dia seorang calon padri. Tapi karena gagasan-gagasan gereja itu Pak Tua itu gagal menjadi padri. Dia lebih memilih mengembara berbicara falsafah dan iman yang inklusif.

Saking pekaknya, dia  dicintai oleh mahasiswa-mahasiswa yang kebetulan menggarap pelatihan atau seminar. Cinta ini lebih didasarkan cinta karena Pak Tua ini rela diberi amplop berisi dua lembar 10 ribu rupiah, sebatang plakat, atau sekedar ucapan “terima kasih”. Pak Tua ini juga tidak butuh “rider” tertentu dan tanpa syarat dijemput dengan mobil.

“Datang tak dijemput, pulang tak diantar, dan gratisan,” kata seorang rekan.

Selain membahas cinta, Pak Tua ini gemar menulis membahas budaya dan korelasinya dengan agama dan politik. Walah. Harusnya Pak Tua ini tidak menulis. Tidakkah dia tahu bahwa menulis itu jalan menggapai kemiskinan? Apalagi membahas tema-tema moralitas, sufistik, dan inklusivitas agama yang berat, tulisan yang tidak shareable.

Pak Tua itu tidak sadar, kalau ingin kaya dari menulis, harusnya sedikit lip service atau endorse-endorse tokoh ini dan itu. Jadi cendekiawan buzzer atau cendekiawan ribuan followers. Apa lacur, media sosial diapun tak genit.

Seandainya juga dia sadar kalau inklusivitas agama, sipakale’bi dan sipakainge’ sudah tidak relevan lagi. Oii Pak Tua, sekarang adalah masanya keberpihakan pakai nama golongan. Kalau perlu pake hashtag biar di like dan dibuatkan kaos.

Yah, begitulah Pak Tua itu.

Pernah sekali waktu saya bersamanya di mobil, mengantarnya pulang setelah bercuap sejam-dua jam di sebuah pelatihan.

Di dalam mobil itu terdengar lagu “The Knife” milik Genesis.

“Pilihan nadanya bagus, susah tertebak,” komentarnya.

“Kenapa bisa, Pak?” balasku.

Langsung saja dia memperagakan sebuah tangga nada dan kemudian membandingkan dengan beberapa lagu. Di situ dia berbicara soal alasan filosofis dari pemilihan nada-nada sebuah lagu, salah satunya adalah ketika pemilihan nada. Salah satunya lagi, bagaimana dia menjelaskan Beethoven yang tunarungu mampu membuat “Moonlight Sonata”.

“Tentu suara Tuhan yang membimbing Beethoven, mungkin sama dengan pencipta lagu ini,” paparnya

Lagu selanjutnya adalah lagu “C.I.N.T.A” milik D’Bagindas. Tentu lagu ini tak luput saya tanyakan kepadanya.

“Kalau itu tidak layak disebut lagu,” ujarnya dengan jujur. Saya yakin, kalau saya melanjutkan pembicaraan itu, dia akan menyebut ‘Tuhan tidak bersama lagu ini’.

Dari situ saya tahu, Pak Tua ini adalah orang yang jujur dan menggapai kedalaman tertentu di dalam menyimak sebuah karya. Tak heran, Hymne Kampus Ayam Jantan dipercayakan padanya. Sekalipun sebagai seorang fans berat D’Bagindas saya terluka dengan komentarnya.

Pak Tua itu belum sadar bahwa, telinga awam tidak suka yang dalam-dalam. Sukanya yang dangkal-dangkal, yang jelas masuk televisi atau viral di media sosial.

Begitulah Pak Tua itu.

Mungkin itulah jalan seorang Pak Tua Ishak, guru dan leluhur dari sebuah bani. Seperti halnya Sang Ishak di Hebron, dia guru yang jujur sekalipun buta di akhir hayatnya. Ya, dia mungkin tidak bisa menikmati musik kekinian, menulis dengan memakai panduan Google Trends, bergenit-cendekia di media sosial, atau mungkin menikmati hasil endorsement pejabat atau tokoh publik.

Lebih dari itu dua Ishak itu memang buta. Namun mungkin keduanya memiliki mata yang mampu menelisik lebih dalam, ‘makna di balik tanda’ kata salah seorang intelektual.

Satu hal yang sudah jelas dapat dipelajari darinya, jalan intelektual adalah jalan yang berat. Jalan yang membutuhkan konsistensi dan kesabaran. Jalan-jalan yang hanya dimiliki para guru, memakai istilahnya, jalan Prometheus yang rela dihukum Zeus demi jalan yang dia tempuh.

Dan pagi itu, saya mendapat kabar dia telah sampai di akhir pengembaraannya. Semoga di sana, dia telah berada di balairung Tuhan. Selamat jalan Pak Ishak Ngeljaratan. Terima kasih atas perjumpaan yang singkat kita. Maafkan indera saya yang susah memahami ini.

Dhihram Tenrisau

Dokter gigi di klinik BPJS

Add comment

Tentang Penulis

Dhihram Tenrisau

Dokter gigi di klinik BPJS

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.