Locita

Nikmatnya Hari Berbahasa Inggris di Flores

TETE adalah seorang pelajar yang sedang belajar di sebuah kota pariwisata di Pulau Flores. Tiap hari dia menulis kata-kata baru yang ditemui, didengar, dan dibacanya.

Cara ini dilakukan untuk memperkaya kosakata. Dengan begitu, setidaknya dia bisa berkomunikasi dengan siapa pun orang asing yang ditemuinya setelah pelajaran dari sekolah formal.

Suatu siang yang cerah di hari Minggu dia berjalan-jalan ke pinggiran pantai. Dalam hatinya dia berniat mempraktikkan Bahasa Inggrisnya yang diterima dari Guru Radus, sebab di tempat yang bakal dikunjungi itu banyak turis asing.

Hello mister!” Sapanya.

Hello, what is your name?”

My name is Tete.”

Do you speak English?

Yes, I do. I save ‘linggis’ in ricefield.”

I beg you pardon?

I have linggis, Sir.”

“OMG, are you kidding me?”

No, I don’t.

Turis itu pun segera berlalu dan Tete kembali ke pantai. Tapi dia sempat menghampiri si orang asing tadi untuk meminta rokok.

Give me ciggarette, please!”

Sure. Are you smoking?”

Yes, I would like to boxing with you.”

What do you mean? I am sorry I can’t, man.

Sang turis makin bingung dan menghilang dari pandangan Tete, si anak SMA yang sedang memasuki masa angin ribut itu.

Saat senja beranjak pergi, beliau pun mengatur langkah dan kembali ke asrama. Di hadapan kawan-kawannya dia menceritakan pengalamannya bertemu dan berdialog dengan turis asal Eropa.

Sa su senang e,” katanya menceritakan perasaan senangnya.

Kenapa e, ketemu maitua (istri atau pasangan) ka?” Tanya Cello, kawannya.

“Tidak e, sa tadi ka bisa speak-speak dengan bule.”

Ai ngeroo, kau su mantap laaaa, su bisa jadi guide ee,” celetuk Nasu dengan dialek Ende campur Bajawa khasnya.

Dong tiga senang dan Tete mencecar dorang dengan pertanyaan. Umpamamya idiom, kosakata, kalimat,.dan slogan berbahasa Inggris.

“Kawan, ‘Made in China’ itu artinya apa e?” Dia memancing Cello dan Nasu.

“Ah, itu kan artinya produk buatan Cina to?” Jawab Cello.

“Salah e. Made in China artinya bersatu kita teguh bercerai kita runtuh.”

“Hahaha, kau PD skali ta aeh,” kata Nasu dan Cello menimpali.

Rupanya Tete merujuk pada kumpulan batang korek api dalam satu dos.  Tulisan itu didapatnya tadi saat dikasih rokok oleh si bule. Adu mama mia eee. Pung (punya) ancur lai (lagi).

“Tetaplah bersemangat. Coba kau terjemahkan kalimat itu sudah,” pinta Nasu.

Keep spirit, to?”

“Uihhh, mantap. Pung jago lai,” sahut Cello dan melanjutkan, “Kalo semangat menggebu-menggebu?”

“Apa ee? Spiritus tooooo.”

“Hahah…, sopi sekalian sudah,” ajak Nasu.

“Biar kumpul-kupul putar gelas. Kan su (sudah) legal to.”

Tete, Cello, dan Nasu tir pernah ditemukan dalam kenyataan, sebab itu hanya sap (saya punya) pengantar untuk melanjutkan celotehan ringan ini.

Dorang (mereka) adalah gambaran dan representasi kepercayaan masyarakat kecil Flobamora (Flores, Sumba, Timor, dan Alor), yang dengan semangat dan percaya diri memperbincangkan sebuah realitas bernama bahasa.

Bahasa sebagai medium dalam berkomunikasi atau menyampaikan pesan. Tanpa memahami salah satu bahasa, mustahil pesan diterima dan direspons resipien dalam pergaulan sehari-hari, kecuali dengan isyarat atau tanda-tanda tertentu dari komunikator.

Dalam konteks pertemuan dengan orang asing, apalagi di daerah wisata, Bahasa Inggris merupakan sebuah keniscayaan seperti diprakktikan Tete dengan ke-PD-annya.

Beberapa waktu lalu sa dikejutkan oleh kabar dari beberapa media massa dan media sosial. Pasalnya Gubernur Nusa Tenggara Timur, Viktor Bungtilu Laiskodat mengharuskan masyarakat di provinsi dengan 550-an pulau ini berbahasa Inggris tiap hari Rabu, terutama pejabat publik, ASN, dan wartawan

Tak tanggung-tanggung terobosan Viktor ditelurkan dalam Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 56 Tahun 2018 Tentang Hari Berbahasa Inggris. Peraturan tersebut ditandatangani 21 Desember 2018 dan baru diberlakukan tanggal 29 Januari 2019.

Saya belum membaca isi pergub ini  Konon peraturannya dikeluarkan agar masyarakat NTT diperbiasakan–kalau enggan disebut lancar–berbahasa Inggris, apalagi wilayah yang memiliki beraneka ragam bahasa daerah ini, menjadi salah satu destinasi wisata, baik wisata alam, budaya, sejarah, maupun religi.

Beberapa objek wisata yang dikenal sejak lama adalah Taman Nasional Komodo di Manggarai Barat, Flores Barat dan danau tiga warna danau Kelimutu di Ende, serta wisata religi prosesi Semana Santa di Larantuka, yang diwariskan sejak 500-an tahun lalu oleh bangsa Portugis di ujung timur pulau Flores, dan tradisi berburu paus di Lamakera, Pulau Lembata, Flores Timur.

Belakangan hampir sejumlah situs dan objek wisata di sejumlah kabupaten di NTT ramai dikunjungi. Sebut saja padang savana pulau Sumba, kampung tradisional Wae Rebo, Todo, dan Ruteng di Manggarai, situs gua prasejarah Homo Floresiensis di Liang Bua, Manggarai, panorama matahari terbenam dan latar belakang tiga pulau di Pulau Padar, Flores.

Tahun lalu, Kementerian Pariwisata merilis 100 kelender even wisata nasional 2019 di 34 provinsi. Dari 100 event itu, tiga di antaranya dihelat di Flobamora, yakni Festival Parade Pesona Kebangsaan di Ende, Pulau Flores (20 Mei-5 Juni), Festival Parade 1001 Kuda Sandelwood dan Tenun Ikat di Pulau Sumba (5-13 Juli), Festival Likurai Timor di Belu, Pulau Timor (1-6 Oktober).

Tiga event ini sekiranya menambah daftar kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) tahun 2019. Tahun 2018 target wisman di provinsi sejuta tenun tradisional ini sebanyak 1,63 juta orang, setelah Kepulauan Riau sebesar 2,18 juta orang. Tiga tahun berturut-turut jumlah kunjungannya adalah sebesar 832 ribu orang tahun 2016, sebanyak 1 juta orang pada 2017 dan sekitar 1,5 juta orang tahun 2018.

Kembali ke muka, terobosan Gubernur Viktor, yang bahkan cuma ada di NTT, diapresiasi beragam banyak pihak, tak tercuali Dinas Pariwisata setempat. Peraturan English Day pada hari Rabu tiap pekan dinilai sebagai wahana mengakrabkan orang Flobamora dengan bahasa Inggris.

Namun, tak sedikit juga orang Flobamora yang merespons Pergub Nomor 56 dengan jenaka dan pesimistis. Ini mengingat sebagian besar orang Indonesia, tak tercuali NTT, putus sekolah.

Sa pu kawan pernah berceletuk, boro-boro pakai linggis day, eh bahasa Inggris, selamatkan dulu bahasa daerah yang terancam punah. Sekolahkan anak-anak dong  yang su lama son (tidak) sakola dan marantau karena son ada uang lai, biar jang batapaleuk jua dan son ada stigma miskin, bodoh, de el el.

Tidak bisa tidak. Suka atau tidak, hari Bahasa Inggris su diterapkan menjadi peraturan. Pergub Bahasa Inggris juga semestinya dibarengi kemudahan akses pendidikan informal semacam kursus Bahasa Inggris, terutama bagi masyarakat yang tidak melanjutkan pendidikan formal, oleh pemerintah daerah.

Penelitian Hasil Bantuan Siswa Miskin Endline di Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Timur, NTB, NTT, dan Sulawesi Selatan dari Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gadjah Mada menyebutkan anak putus sekolah di Indonesia.

Disebutkan, sebanyak 47,3 persen anak putus sekolah karena biaya, 31 persen karena membantu orang tua dengan bekerja, dan 9,4 persen karena ingin melanjutkan pendidikan nonformal semisal kursus. Dengan demikian, saya optimistis tidak akan ada lagi cerita seperti Tete, Cello, dan Nasu, seperti dalam ilustrasi di muka.

Pada gilirannya, Bahasa Inggris yang mempunyai penutur asli 360 juta dan setengah miliar penutur sebagai bahasa kedua, tidak hanya digunakan tiap Rabu, tetapi setiap hari. Dengan demikian, everidei is englis dei. Itulah ketong pu englis dei di nusa Flobamora lebe bae.

Timoteus Rosario Marten

Timoteus Rosario Marten

Jurnalis dan editor di Koran Jubi

2 comments

Tentang Penulis

Timoteus Rosario Marten

Timoteus Rosario Marten

Jurnalis dan editor di Koran Jubi

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.