Locita

Nikmat Indonesia Mana Lagi yang Kau Dustakan!

Gambaran landmark Kota Pisa, Menara Pisa (Sumber:Amalfi Coast Destination)

Lebih baik disini, rumah kita sendiri. Alunan lagi rumah Kita ini terngiang-ngiang tatkala pagi itu kami keluar lift di Stasiun Kereta Pisa menuju kantor polisi stasiun. Bukan apa-apa, setelah berhimpitan dari satu lantai dasar ke lantai berikutnya, dua orang remaja perempuan berhasil merogoh tas kakak ipar saya, Atras Mafazi. Diambilnya sebilah dompet, walau akhirnya berhasil kami rebut kembali.

Menariknya, pencopet tersebut melakukannya saat tubuh kami berhimpitan dengan keramaian di stasiun. Apalagi fisiknya. Ya, wajarlah. Saya masih tetap seorang pakampong, yang tertipu dengan kulit Kaukasia, mata hijau, dan bahasa Inggris aksen British yang sangat anggun kedengarannya. Entah bagaimana tangannya bisa menyusup di kantong kak ipar saya itu.

Perihal lainnya yang sangat saya syukuri adalah insting Riri (adik ipar saya) dan Atras dalam melihat gelagat pencuri. Sempat saya tanyakan, dia mengakui itu adalah instingnya. Mendengar itu saya terkagum-kagum.

Sepanjang perjalanan itu, yang tak lebih dari 200 meter, kedua remaja perempuan ini terus meneriaki kami gila. Seperti modus yang sering kami dengar, anak-anak ini berteriak dengan bahasa Italia untuk mencari simpatik kepada orang disekitarnya. Tak sedikit cerita yang menjelaskan kalau Gipsi ini berhasil memutarbalikkan fakta. Tapi saya berusaha percaya Gipsi yang saya kenal di beberapa fiksi seperti karya Victor Hugo, Hunchback of Notre Dame tidak seburuk itu.

Selama hampir dua jam diperiksa, tak tampak sama sekali wajah penyesalan pada kedua remaja ini. Bahkan mereka masih teriak hingga mengangkat jari tengah. Di beberapa artikel juga menjelaskan kalau secara hukum tak mampu menjerat mereka yg masih di bawah umur, maka wajarlah tak ada efek jera bagi anak-anak ini. Pun buat para mafia yang berdiri di belakang mereka semakin memanfaatkan kondisi tersebut.

Saya jadi teringat percakapan dengan Andre, 32 tahun, asli Prancis. Anak tukang insinyur yang tinggal di Kemang Jakarta selama 20 tahun. Bahasa Indonesianya, sejernih bahasa ibunya, Prancis. Lidahnya selentur penutur asli, seakan terlahir di dua dunia. Perkenalan kami ketika bersama di pesawat dari Jakarta menuju ke Istanbul. Saya melanjutkan tujuan ke Milan, Andre ingin mudik ke kampungnya di Prancis.

Andre banyak membandingkan kehidupan di Eropa khususnya di Paris dengan di Jakarta, Indonesia. Di Jakarta katanya kehidupannya sangat guyub, satu sama lain saling menyapa dan orang-orangnya sangat ramah. Berbeda dengan di Paris, jalan sangat cepat tanpa peduli orang disekitarnya.  Lantas dalam hati saya berujar tak percaya.

Dia memberi saran, jika di Paris juga Italia, laku seperti merekalah. Tak perlu mengumbar senyum, juga basa basi. Kita tak tahu maksudnya seperti apa, syukur jika baik, kalau jahat tak ada yang akan peduli. Mungkin mereka akan berjalan sewaktu di sebelahnya terkena musibah, terjatuh, atau tabrakan. Alhamdulillah hal itu tidak saya temui di sana.

Akhirnya saya harus percaya. Seperti yang kami alami, di depan mata ada tindak kejahatan mereka memilih bungkam. Tentu dengan beragam motif, tanpa harus menjustifikasi terlalu dini. Berbeda dengan Indonesia, akan dikejar rame-rame hingga main hakim sendiri. Sekalipun terkadang itu bisa diluar kontrol.

Di sini saya berbangga bahwa Indonesia memiliki nilai luhur, tepo seliro, tenggang rasa yang nyatanya terlupakan di jalan-jalan tempat demokrasi dan humanisme diteriakkan. Saya bangga bangsa saya lebih maju terdepan dalam tenggang rasa dibanding bangsa yang acap kali mencibir bangsaku berada di ketiak bangsa mereka.

Bersyukurlah kita telah menjadi Indonesia. Terbentang ribuan suku bangsa, juga beragam bahasa dan budaya tapi tetap “Bhinneka Tunggal Ika”. Mungkin salah satu faktor perekat yang membuat kita guyub karena kohesifitas sosial senantiasa terjaga dengan acara-acara sosial keagamaan, seperi yasinan, maulid nabi, buka puasa bersama, dan sebagainya. Maka meminjam kata teman saya, Alhe Laitte, “Nikmat Indonesia mana lagi yang Kau dustakan!”

Dan saat itu gadis tersebut mengacungkan jari tengah. Di dalam ruangan pemeriksaan itu, saya cuma tertawa. Lagi-lagi saya harus berbangga. Masih sopan ‘pencuri’ uang rakyat di kampungku. Beberapanya tersenyum, beberapanya melambaikan tangan, yang lebih hebatnya lagi, beberapa diantaranya berlagak suci dari dosa. Apa ini perlu disyukuri?

Arief Rosyid

Seorang ayah dan suami, dokter gigi, Ketua Umum PB HMI 2013-2015

Tentang Penulis

Arief Rosyid

Seorang ayah dan suami, dokter gigi, Ketua Umum PB HMI 2013-2015

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.