Locita

Nikah Muda Dinda dan Rey dan Hal-Hal yang Dilupakan

Akhirnya saya terpaksa tahu jika Dinda dan Rey adalah dua artis dan selebgram yang menikah dan membuat heboh jagat maya. Dinda yang tidak tahu masak mi instan dan Rey yang ngiler tidaknya pun perlu ditanyakan pada istrinya di sosial media meski mereka serumah, sekamar, dan sekasur.  

Saya yang entah sejak berapa belas tahun yang lalu berhenti menonton sinetron tidak tertarik dengan berita-berita kehebohan artis. Tetapi apa boleh buat, keluasan pengaruhnya sebagai artis yang menikah muda –satu hal yang sering membuat para jomlo baper—turut melintas di sosial media saya di hampir semua akun yang saya miliki. Facebook, Instgram, dan WhatsApp. Jumlah pengikut mereka yang banyak memaksa algoritma sosial media menyerempet ke sosial media saya. Sialan betul.

Pada mulanya saya tidak tahu menahu dan sama sekali tidak berminat mencari tahu tentang mereka. Semakin banyak postingan yang hilir mudik di sosial media membuat saya akhirnya mereka. Mereka yang konon hijrah, menjalani ta’aruf hari ini, dan besoknya menikah. Meronta-rontalah jiwa para jomblo. Bahkan yang sudah menikah pun ikut baper. Setidaknya begitu pengakuan salah satu junior saya meski sudah menikah setahun lalu.

Bahkan saya pun, yang membuat story, yang menunjukkan ketidaknyamanan saya malah sebaliknya dianggap baper. Anggapan yang justru membuat saya semakin tidak nyaman. Masak iya hanya karena mengomentari lantas dikiranya baper. Seolah-olah nalar dan pikiran tidak lagi punya fungsi.

Tentu setiap dari kita berhak untuk mengarang cerita dan menempuh jalannya sendiri. Yang demikian itu adalah hak-hak pribadi masing-masing. Hanya saja, hal-hal pribadi memiliki batas-batasnya masing-masing. Jika ia melampaui garis wilayahnya, alih-alih menginspirasi, ia bisa membuat tidak nyaman dan mengusik. Segala yang berlebih-lebihan itu tidak baik. Ini adalah salah satu hadis dari sekian banyak hadis yang lain, selain hadis tentang menikah.

Mereka yang bertemu hanya tiga hari, tiga bulan, tiga tahun bahkan tiga belas tahun adalah hak-hak pribadi masing-masing. Jika mereka bersepakat, tidak mengusik, dan tidak merugikan orang lain adalah jalannya masing-masing.

Tidak perlu menjadikan satu kisah –entah proses ta’aruf singkat atau lama—untuk mengusik pilihan yang lain. Tidak semua orang hanya cukup ingin menikah lantas semua bisa jadi dalam seketika. Secepat-cepatnya.

Ada struktur dan faktor lain yang bekerja dan tidak bisa disederhanakan dalam video singkat atau status di Instagram sepanjang sebelas kata seperti “pada akhirnya yang bawa coklat akan kalah dengan yang berani akad.”

Setiap dari kita –laki-laki atau pun perempuan—memiliki jarak tempuh berbeda yang harus dilalui. Sebab kita tidak berlari dari garis start yang sama. Kita tidak lahir dan berasal dari keluarga dan lingkungan yang sepenuhnya mendukung semua yang kita ingini.

Ada laki-laki yang tidak cukup jatuh cinta hari ini lantas lusa menghadap orang tua dan kemudian akad. Ada laki-laki yang tidak cukup berkata ingin menikah hari ini lantas semua keluarganya setuju.

Ada laki-laki yang berpikir seribu sekali sebelum meyakinkan diri sebab memiliki pengalaman buruk tentang kepercayaan. Sebab kepercayaan hanyalah sekali dan pernikahan juga sekali. Meskipun ia juga tahu hadis pernikahan yang bisa berkali-kali sampai empat kali. Ia tahu hadisnya dan tahu menggunakannya.

Ada laki-laki yang tidak bisa serta merta mengirim pesan dan menghadap ke keluarganya sebelum ia tahu keluarga perempuan. Ia harus tahu siapa orang tuanya, status sosial dan karakter mereka.

Bagi sebagian orang dan budaya, ketika ia dan keluarga menghadap ke keluarga perempuan, ia sedang mempertaruhkan harkat dan martabat keluarganya. Ia sendiri pun harus tahu keluarganya sendiri.

Sebab seorang petarung adalah seorang yang tahu ‘medan perang’. Ia harus tahu dengan siapa akan berhadapan. Sebab harga diri adalah taruahnnya dan cinta tidak cukup menyelesaikan semua persoalan.

Bagi beberapa laki-laki, lebih baik mendiamkan dan membunuh perasaannya masing-masing daripada ia dan keluarganya dipermalukan. Ini bukan soal benar dan salah, ini soal prinsip. Satu nilai dimana kita perlu saling menghargai dan tahu batas masing-masing.

Masing-masing dirilah yang paling tahu kesiapannya sendiri. Ada beberapa orang yang belum menikah karena ingin membahagiakan orang tuanya dulu. Ada yang ingin mengabdikan dirinya dan membalas jasa-jasa orang yang berbuat baik kepadanya.

Ada yang ingin memastikan kebutuhan finansialnya terlebih dahulu sebelum menikah agar keluarganya tidak terseok-seok. Sebab tidak semua dari keluarga berkecukupan.

Ada yang telah harus bekerja sejak masih kecil. Mereka bukannya tidak percaya bahwa ada Tuhan yang mengatur rejeki. Hanya saja mereka percaya bahwa modal kepercayaan saja tidak cukup. Mereka cukup tahu, pada akhirnya mereka sendirilah yang akan menghadapi dan memenuhi segala kebutuhannya ke depan.

Mereka  menyadari dirinya bukan selebgram yang semua atributnya cukup ditanggung sponsornya. Dari make up, pakaian, katering dan tentu fotografi untuk kepentingan memamerkan ke sosial media dan membuat caption yang bertujuan membaperkan.

Mereka adalah orang yang mungkin telah melihat dan menyaksikan sendiri pernikahan dini yang berakhir dengan perceraian. Sebagian besar sebabnya karena faktor ekonomi sebab jualan online tidak selalu sebaik menjual sensasi di sosial media.  

Apakah mereka yang tukang baper dan suka mengusik pilihan orang lain sempat memikirkan ini? Jika tidak, sesekali pakailah otakmu daripada daripada hanya menggunakan hati dan baper mulu.  

Arief Balla

Arief Balla

Pengajar tetap di Institut Parahikma Indonesia/Wakil Direktur Lembaga Literasi KNPI Sulawesi Selatan

Tentang Penulis

Arief Balla

Arief Balla

Pengajar tetap di Institut Parahikma Indonesia/Wakil Direktur Lembaga Literasi KNPI Sulawesi Selatan

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.