Esai

Ngomong British ala Skinnyfabs, Perlu Gak Sih? Aksen British sebagai syarat untuk kuliah di luar negeri

NETIZEN beberapa waktu lalu menjadi tak asing dengan nama Andhika Wira. Di berbagai media sosial, nama tersebut menjadi viral, dicari dan dibaca para pengguna aktif Facebook, Twitter, Instagram dan media sosial lainnya.

Belakangan diketahui bahwa nama Andhika muncul karena aksen bahasa inggrisnya yang sangat mirip dengan orang Britania. Kabar burung mengenai dirinya yang juga menjadi pengisi suara di Listening Section beberapa Tes Bahasa Inggris resmi sontak menjadi semakin menarik. Namanya sebagai penutur bahasa Inggris dengan aksen British yang mempesona bahkan menarik Kompas TV untuk menayangkannya secara langsung beberapa saat yang lalu.

Belakangan diketahui Andhika Wira adalah salah satu pengajar bahasa Inggris di Kampung Inggris, Pare Jawa Timur. Dhika, begitu dia sering disapa, memulai ketertarikannya dengan bahasa Inggris sejak SMP. Saat itu dia terpaksa belajar bahasa Inggris untuk berkomunikasi dengan lawan diĀ  video game yang sangat dia sukai.

Dalam akun Instagramnya, @skinnyfabs, Dhika juga sering membagikan video berkonten edukatif dan entertanining tentang belajar bahasa Inggris yang juga di respon positif oleh warganet.

Tidak berhenti sampai disitu, dia nyatanya semakin tertarik belajar aksen British dan mulai menonton film Harry Potter secara marathon dan juga mulai menirukan suara tokoh-tokoh di dalam fim tersebut tak hanya Harry Potter sang pemain utama tetapi juga Harmoine, Ron, Dobby dan beberapa tokoh lainnya.

Dalam akun Instagramnya, @skinnyfabs, Dhika juga sering membagikan video berkonten edukatif dan entertanining tentang belajar bahasa Inggris yang juga di respon positif oleh warganet.

Jika ditilik lebih jauh, sebenarnya terdapat dua macam ejaan bahasa Inggris yang umum dipakai di dunia yaitu ejaan Amerika dan Britania. Ejaan Amerika sering dipakai di negara Amerika Serikat dan beberapa negara lain yang dipengaruhi oleh negara Paman Sam tersebut sementara ejaan Britania dipakai di negara Britania Raya (Kerajaan Britania) dan negara-negara persemakmuran.

Inggris British dan Amerika sebenarnya memiliki perbedaan yang cukup signifikan dari segi penulisan maupun mengucapan (aksen). Perbedaan-perbedaan tersebut sebenernya ada kaitannya dengan konflik antara Britania dan koloni Amerika yang berujung pada perang kemerdekaan Amerika Serikat.

Secara umum, ada lebih banyak film yang ditayangkan televisi di Indonesia dengan aksen Amerika seperti Spiderman dan film superhero lainnya sehingga kita lebih familiar dengan aksen Amerika ketimbang British.

Berbicara bahasa Inggris sepertinya bukan lagi hal baru. Banyak kalangan di Indonesia mulai menerapkan gaya hidup berbahasa Inggris di lingkungan akademik, profesional maupun sosial mereka. Kemampuan ini seperti sudah menjadi wajib bagi mereka yang ingin melanjutkan studi ke luar negeri, seperti United Kingdom alias Inggris.

Tapi hal yang menarik kemudian adalah seberapa penting memiliki kemampuan bahasa Inggris dengan aksen British ala Andhika Wira bagi mereka yang hendak melanjutkan studi ke negara beraksen British.

Para pemburu beasiswa luar negeri, terutama mereka yang mengikuti tes IELTS (International English Language Testing System), pasti sudah tidak asing dengan aksen British. Tes yang dikhususkan bagi mereka yang hendak melanjutkan studi ke Eropa, United Kingdom, Selandia Baru, Australia dan beberapa negara lainnya ini memang dikarakterkan khusus dengan aksen British.

Ada empat kemampuan berbahasa Inggris yang akan diujikan dalam tes ini, yaitu kemampuan mendengarkan, berbicara, menulis dan juga membaca. Dua di antaranya, speaking dan listening, para IELTS candidate akan diuji dengan seberapa baik pendengaran mereka dalam aksen British begitupula dengan speaking.

Aksen British tidak terlalu mengkhawatirkan dalam ujian membaca dan menulis karena secara kepenulisan, tes bahasa ini menerima dua ejaan sekaligus, baik Amerika maupun Britania. Dalam soal membaca, peserta diwajibkan mengerjakan 40 soal dengan 3 bacaan akademik dimana kosakata yang terdapat di dalamnya masih tergolong umum dan dapat dipahami begitupula dengan writing, peserta diperbolehkan menggunakan kosakata dalam ejaan British ataupun Amerika.

Aksen British tentu saja memiliki pengaruh dalam tes berbicara dan mendengarkan. Saat tes mendengarkan peserta IELTS akan mendapatkan 40 soal yang harus mereka selesaikan, dimana keseluruhan audio yang akan diputar akan menggunakan aksen British. Kemampuan memahami aksen British akan semakin menguntungkan bagi peserta untuk mendapat skor yang tinggi.

Untuk ujian speaking, pentingnya penguasaan aksen British masih menjadi perdebatan karena tidak sedikit orang mempertanyakannya. Jika kita melihat video-video speaking IELTS dari Youtube, banyak peserta dengan nilai tinggi yang ternyata tidak memiliki aksen British bagus seperti Andhika Wira, misalnya mereka yang berasal dari Cina, Jepang dan beberapa negara lainnya.

Hal tersebut dikarenakan adanya empat penilaian dalam speaking itu sendiri yaitu fluency and coherence (kelancaran dan kesinambungan), lexical resource (kosata yang digunakan), grammar and accuracy (struktur bahasa dan ketepatan penggunaannya) dan yang terakhir adalah pronounciation (pengucapan dan termasuk di dalamnya aksen British).

Keempat kriteria ini akan dinilai sama yaitu 25% untuk masing-masingnya. Untuk itu, bagi mereka yang belum bisa menguasai aksen British nyaris sempurna seperti Andhika Wira, jangan ragu untuk tetap bermimpi kuliah di luar negeri. Masih banyak kemungkinan untuk mendapat skor tinggi.

Tapi penting untuk diingat juga bahwa memiliki aksen British yang bagus bisa sangat menguntungkan saat sudah hidup di luar negeri nantinya. Beraksen British saat berkomunikasi tentu saja dapat meningkatkan academic performance, mengingat akan ada banyak kegiatan akademik secara verbal seperti presentasi, berdiskusi dan mengerjakan tugas secara berkelompok. Selain itu, menjalin pertemanan dengan orang asing dari berbagai negara akan semakin mudah karena kita bisa meminimalisir kesalahpahaman saat berkomunikasi.

Terlebih jika kita mengingat bahwa orang-orang Eropa, di Britania khususnya, sangat menghargai budaya mereka termasuk bahasa. Mampu berkomunikasi dengan aksen mereka akan membawa banyak keuntungan tersendiri.

Sebagai penutup, bijak kiranya kita menyikapi fenomena aksen Britis ala Andhika Wira dengan baik dan melihat hal-hal positif yang bisa kita ambil.

Tidak sedikit para pembelajar justru patah semangat karena mengira penguasaan aksen tersebut sebagai kewajiban, khususnya mereka yang tengah belajar bahasa Inggris untuk keperluan melanjutkan studi. Perasaan minder, putus asa dan hal-hal negatif lainnya bisa saja muncul pada diri beberapa orang.

Seperti kata Geoffery Leech (1974), ahli bahasa dari United Kingdom, terdapat lima fungsi bahasa dan fungsi terpenting adalah fungsi informasional.

Yang perlu diingat juga bahwa bahasa adalah skill seperti halnya memasak, memancing, menghitung dan lainnya yang tentu akan memakan waktu untuk dikuasai dan diaplikasikan. Seperti kata Geoffery Leech (1974), ahli bahasa dari United Kingdom, terdapat lima fungsi bahasa dan fungsi terpenting adalah fungsi informational. Fungsi ini menitikberatkan pada inti atau pesan yang akan disampaikan. Karena itu, jangan pernah lelah untuk belajar!

Fitria Anis Kurly

Fitria Anis Kurly

Master Candidate (Msc) of TESOL, University of Bristol (United Kingdom) dan LPDP Awardee 2017.

Previous post

6 Jomblo Terkeren Sepanjang Tahun 2017 dan Kriteria Pasangannya

Next post

Jokowi, Natal Nusantara, dan Sekuntum Kasih