Locita

Negeri Para “Pembela Tuhan”

Ilustrasi: Luki Ahmadi Hari Wardoyo

Karya-karya besar lahir dari kegelisahan intelektual spiritual terhadap fenomena sosial yang dianggap menyimpang dari sistem nilai dan humanisme. Demikian fakta yang dilukis sejarah dalam setiap lembar mushaf yang terkadang jarang tersentuh.

Agama misalnya, menjadi burhan tentang sebuah karya yang jebrol atas “kebejatan” dan kekeliruan dalam menapaki jalan hidup. Ketika penghormatan terhadap kemanusiaan tidak lagi menjadi asas berkehidupan. Agama hadir bersama mujaddid, memodifikasi dengan sangat rapi tanpa harus menghapus peradaban kebudayaan secara menyeluruh.

Ilmu pengetahuan pun tidak jauh berbeda. Kritik sosial terhadap sistem feodalisme Perancis melahirkan revolusi Perancis yang merupakan awal lahirnya Ilmu Sosiologi. Pengkodifikasian hadist merupakan ide yang muncul untuk mengdobrak kepentingan individu/kelompok yang mengatasnamakan nabi, dan sekian banyak maestro lainnya yang bergelora menanggapi kejahatan-kejahatan masif di tengah pergolakan politik masyarakat.

 Wajah Kita dan Agama

Tulisan pendek ini (meski bukan karya besar), ditulis atas kegalauan emosional terhadap sistem tak tertulis tetapi berlangsung sedemikian apiknya. Kebengisan di negeri bapak Jokowi dan jendral Prabowo sudah sedemikian canggih. Kebaikan tak ubahnya hanya sebuah masker pelindung, sehingga kita tidak lagi bisa membedakan  mana yang benar-benar tulus dan mana yang hanya berlindung dari topeng keihsanan.

Kita patut berduka, gelar baldatun tayyibatun wa rabbun gafur, kini harus tertimbun tanah liat yang diinjak ratusan kaki untuk sebuah nama. Sekali lagi, kita harus berduka, entah solusi apa kemudian yang betul-betul ampuh membuat Ibu Pertiwi tidak lagi terisak.

Terlalu banyak kasus yang tidak mungkin untuk dihitung jari. Mulai dari kesalahan yang wajar untuk dipidanakan, sampai pada kesalahan yang kita buat sendiri, dan kita caci maki sendiri atas pembelaan sakralitas agama.

Kisah penistaan agama Ahok, mungkin masih terngiang dalam telinga kita. Teriakan penghinaan terhadap ‘sosok itu’ membuat saya wajar untuk berkesimpulan bahwa kita sesungguhnya adalah pak “Ahok” dengan wajah berbeda, yang kita anggap tidak mengawal lidah. Apa bedanya?

Setelah itu, puisi Ibu Sukmawati kemudian muncul menggemparkan isu penistaan agama dan jihad membela agama Tuhan disemarakkan. Sosial media harus rela menanggung banyaknya balasan puisi yang dibumbui caci maki untuk ibu Sukma.

Belum berakhir kisah sebelumnya, tangan kita lagi-lagi harus berontak di atas papan tombol hitam untuk nama “kesucian agama”, (karena pernyataan pengamat politisi tentang kitab suci adalah fiksi). Ramai lagi cuitan caci maki yang membuat kita belajar banyak tentang cara menghinakan orang lain. Meski sesungguhnya yang dihinakan adalah orang yang bahkan jauh melampaui usia kita.

Maka, tidak juga salah ketika seorang guru filsafat berkata “Kita berada dalam panggung peradaban caci maki”. Balasan atas segala hal adalah caci maki yang membuat kita tidak jauh berbeda dengan mereka, bahkan bisa jadi lebih hina (QS. al-Hujurat/49: 11).

Setiap kejahatan harus ditanggapi dengan kejahatan, penghinaan dengan penghinaan, kehormatan dengan kehormatan. Demikian sistem yang kita bangun sekarang bak masyarakat primitf yang bahkan belum mengenal konsep peradaban. Tetapi kita tidak mengakuinya.

Agama Menanggapi “Dosa Agama”

Mungkin kita lupa tentang kisah nabi yang menegur si Khumairah, Aisyah ketika membalas “salam” orang-orang Yahudi dengan salam yang sama, wa’alaikum al-samu (dan bagimu pun kecelakaan), atau kisah nabi mendoakan penduduk Thaif untuk dianugerahi anak cucu yang beradab setelah beliau harus bercucuran darah oleh serbuan lemparan.

Atau bagaimana pesan-pesan damai Al-Qur’an ketika berhadapan dengan sekelompok orang-orang yang jahil. Qalu salaman pesan itu (QS. al-Furqan: 75). Balaslah dengan perkataan yang sebisa mungkin menghindarkan konflik dan menggiring pada kedamaian, atau diamlah jika memang sikap itu mampu untuk meredang perang mulut pun senjata.

Kita memang perlu melek tentang sosok maskulinitas agama yang terlalu dominan, sampai mengaburkan feminimisme agama. Tentang sikap rahman dan rahim yang menjadi pembuka Al-Qur’an dan kalimat indah disetiap membuka aktivitas kita adalah “sindiran” untuk mengimamkan kasih sayang Tuhan di balik setiap tindak laku kita.

Kebertuhanan dan keberagamaan hendaknya membuat kita lebih bijak dalam memahami perbedaan, bukan malah menjadi “penista tuhan” karena buta keragaman. Katanya Armstrong, bentuk ideal dari kepercayaan terhadap tuhan sesungguhnya terwujud dari moralitas kita yang menghargai jiwa dan kemanusiaan.

Agama memang mendidik dan menjauhkan kita dari dosa, namun ada berapa banyak dosa yang kita lakukan atas nama agama? -R.A.Kartini.”. Kita butuh untuk merenung terhadap kekacauan dan dosa sosial kita, yang implikasinya adalah masyarakat dan kita yang sadar. Sehingga kita bisa berkata, “kita beragama maka kita berdamai”.

Tidak ada yang salah dengan membela agama Tuhan, yang terpenting eksternalisasi dari ekspresi itu tidak melukai sifat agama yang ramah dan rahmah. Sekali membela, sekali dengan metode yang benar, karena kesalahan eksternalisasi bahkan akan semakin memperkeruh yang pada awalnya ‘biasa-biasa saja’. Bukankah membersihkan pakaian dengan air seni malah membuatnya semakin kotor? (Al-ghazali).

Terakhir, stop kalimat “hina” atas nama agama, pro tuhan atau apa yang belakangan disebut partai tuhan. Drama konspirasi hentikan saja!. Pun yang busuk tetap tercium. Jika tidak, yah… Sudahlah, beginilah nasibnya, “negeri para pembela tuhan”.

 

Ahmad Tri Muslim HD

Alumni Tafsir Hadis Khusus UIN Alauddun Makassar dan PP Al Urwatul Wutsqaa, Benteng, SIDRAP

Tentang Penulis

Ahmad Tri Muslim HD

Alumni Tafsir Hadis Khusus UIN Alauddun Makassar dan PP Al Urwatul Wutsqaa, Benteng, SIDRAP

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.