Locita

Nasib Ilmu Forensik pada Negara Penganut Islamic Law System

Hukum Forensik
ilustrasi [gambar: Graphology]

MASIH ingat dengan kasus Jessica Kumala Wongso, terpidana kasus pembunuhan berencana terhadap Wayan Mirna Salihin yang sangat fenomenal? Atau kasus Munir dengan tersangka Pollycarpus yang sangat misterius? Kasus tersebut membutuhkan pendekatan ilmu forensik untuk mengungkap sebab kematian.

Perkembangan ilmu Forensik khususnya medical forensic cenderung mengalami stagnasi di beberapa negara tradisionil dan agamis. Ternyata aspek agama dapat menjadi salah satu aspek yang sebaiknya diperhitungkan dalam perkembangan ilmu forensik.

***

Medical Forensic merupakan cabang ilmu kedokteran yang mengkhususkan diri dalam pengumpulan dan menyajikan bukti medis pada sengketa hukum. Bukti dapat dikumpulkan dari dua sisi yaitu pada saat hidup dan pada saat meninggal tergantung pada apa yang coba diketahui, baik itu tingkat cedera berkelanjutan atau penyebab kematian.

Sejarahnya sulit dipastikan. Meskipun studi tentang tubuh manusia tercatat sejak Zaman Mesir kuno, pada masa tersebut bukti penggunaannya dalam proses hukum sangat sedikit bahkan sama sekali tidak ada. Sejarah menceritakan mengenai forensik pertama kali di Eropa pada akhir kekuasaan Romawi Dikenal dengan Hukum Justinian, di mana validitas dari ahli medis sebagai saksi secara singkat pernah di singgung pada era Justisian.

Saat munculnya Abad Kegelapan (Dark Age), kedokteran forensik memudar dan hilang oleh dogma agama dan hanya ditemukan muncul kembali pada pertengahan abad ke -16.

Pada saat itu, Kode etik Caroline telah diterbitkan di mana dinyatakan bahwa semua hakim harus mencari pendapat ahli medis dalam kasus yang melibatkan pembunuhan, keracunan atau bentuk lain dari cedera pribadi. Dalam perkembangannya, kedokteran forensik berkembang pesat dan, saat ini memiliki posisi yang penting pada proses hukum di Eropa dan Amerika dan Indonesia secara khusus.

Perkembangan ilmu forensik di negara yang menganut sistem hukum anglo-saxons seperti Amerika Serikat dan sistem hukum Eropa Kontinental seperti negara-negara Eropa ternyata berbanding terbalik dengan negara yang menganut sistem hukum Islam seperti Arab Saudi.

Aspek religius pada masyarakat Arab Saudi merupakan hal yang sangat penting sebagai pondasi bangsa. Semua hukum di Arab Saudi menganut prinsip-prinsip yang ketat diambil dari kitab Suci Al-Quran. Hukum tersebut dikenal dengan istilah hukum Sharia. Mencakup semua aspek dari sistem hukum dasar seperti mengontrol aktivitas kriminal, Hukum Jual-beli, media dan hak-hak individu.

Masalah utama di Saudi Arabia, Forensik merupakan hal yang relatif baru sama halnya dengan sistem pelayanan kesehatan, yang tertua baru berumur  sekitar 86 tahun (Taif dan Makkah). Kebijakan-kebijakn praktis, kode etik dan akuntabilitas hukum medis terakhir pada tahun 1986. Islamic Customs seputar kematian mengalami kendala. Tubuh manusia dianggap suci dalam Islam; praktik pembalseman dan diseksi untuk alasan apa pun menjadi terlarang. Hal tersebut menimbulkan masalah serius bagi kedokteran forensik karena membuat akuisisi bukti post-mortem menjadi mustahil.

Masalah berikutnya adalah persepsi budaya arab dari kondisi medis. Meskipun berusaha untuk memordenisasi dalam berbagai cara, beberapa pandangan konservatif masih tetap ada di Arab Saudi seperti keyakinan bahwa penyakit mental bukan kondisi medis tetapi hukuman ilahi atau kerasukan setan.

Hal lainnya yaitu mengenai ‘perwakilan hukum’. Meskipun jensi tertentu dari hukum shariah yang dipraktikkan di Arab Saudi memungkinkan untuk pembelaan hukum, hal ini jarang terjadi. Karena keyakinan bahwa hukum shariah yang berasal dari Tuhan, sehingga terdakwa perlu melindungi dirinya sendiri jika ia tidak bersalah. Meminta ahli hukum atau saksi dari luar (seperti ahli forensik) dipandang melarikan diri dari kesalahan.

Dapatkah Arab Saudi memperkenalkan forensik, ke dalam sistem hukumnya? Ini adalah pertanyaan sulit untuk dijawab . Pemerintah Mesir mengambil pendekatan drastis dan pengadilan Sharia dilarang, menerapkan sistem hukum yang sangat mirip dengan Sistem hukum di Eropa.

Negara-negara lain, seperti Irak dan Qatar  juga telah berhasil mengintegrasikan ilmu forensik dalam sistem hukum mereka, meskipun dalam bentuk yang kurang ekstrim dari Mesir. Namun, Arab Saudi lebih konservatif dari negara-negara tersebut.

Zuardin Arif

Dosen dan Peneliti UIN Sunan Ampel Surabaya

Tentang Penulis

Zuardin Arif

Dosen dan Peneliti UIN Sunan Ampel Surabaya

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.