EsaiFeatured

Nasib Alumni Amrik di Mata Ukhti-Ukhti

“Bro, kira-kira kalau balik ki ke Indonesia, masih ada ji ukhti-ukhti mau sama kita?” tanya A.M, teman dari Makassar yang juga berangkat di waktu yang sama dua bulan lalu.

“Tidak ada! Hahah.” Jawab saya.

Di ujung sana, ia tertawa terbahak-bahak. Barangkali mengira saya bercanda. Saya langsung menyambung, “Alumni Amerika memenuhi semua syarat untuk disebut kafir, Yahudi, sekuler, liberal, otaknya sudah dicuci, pokoknya alumninya adalah seburuk-buruk calon suami yang pernah hidup di dunia.”

Dan suaranya melemah lalu menghilang dari kejauhan. Sempat terdengar tawa tapi begitu memilukan dan menggetirkan.

Label negatif apa sih yang kurang saat menyebut Amerika. Negeri kafir laknatullah kata ustads genit alumni pesantren gugel. Diamini ukhti-ukhti yang gampang terpukau terpesona dan mudah baper.

Seorang kawan pernah bertanya perihal gelar apa yang akan saya dapat setelah selesai, saya menjawab tanpa ragu, “Gelar utamanya adalah M.A TESOL, gelar tambahanya antek kafir, antek liberal, Antek Yahudi, antek aseng, mata-mata Amerika.”

Memilih Amerika Serikat sebagai negara tujuan studi adalah sebuah resiko. Tak mudah. Bukan karena sistem pendidikannya yang ketat tetapi resiko pelabelan sebagian besar masyarakat kita yang memukul rata bahwa semua yang terkait dengan nama Amerika, pastilah mewakili semua tuduhan seperti di awal tulisan ini.

Ketika ada yang memberi pandangan yang berbeda dengan keyakinan mereka, entah ukhti-uhkti, calon mertua yang terhasut ustads-ustadsah-santri-santri kyai gugel, mereka akan menanggapi, “Wajarlah dia berpendapat begitu, wong alumni Amerika.” atau “Pasti otaknya sudah diracuni Amerika tuh.”

Lihatlah bagaimana alumni Amerika seperti Haidar Bagir yang difitnah syiah atau sekelas Buya Maarif yang dicaci maki, dihujat, difitnah sembari membawa-bawa nama Amerika karena memang beliau alumni Universitas Chicago, kampus yang berada di negara bagian yang sama dengan saya.

Jika tokoh-tokoh seperti mereka yang begitu jelas kontribusi dan kapasitasnya terhadap perkembangan Islam saja dengan begitu mudah dicaci maki, apalah kami ini yang memahami penjelasan professor kami saja masih melongo.

Sebagai catatan Haidar Bagir adalah salah satu tokoh dari 500 tokoh muslim berpengaruh di dunia dan Buya Maarif adalah Mantan Ketum PP Muhammadiyah.

Din Syamsuddin dan Nasaruddin Umar yang juga pernah masuk dalam 500 Tokoh Muslim paling berpengaruhi di dunia juga pernah menempuh pendidikan di Amerika Serikat.

Salahkah mereka memiliki persepsi demikian? Mungkin tidak sepenuhnya. Dalam buku How the World Works, Noam Chomsky menjelaskan  bagaimana Amerika Serikat berada dibalik banyak konflik-konflik penting dunia. Tetapi apakah itu berarti mewakili Amerika Serikat?

Apakah setiap tindakan pemerintah suatu negara mewakili seluruh warganya? Apakah kita sedang menilai pemerintah atau seluruh warganya? Saat militer Indonesia menindas rakyat Timor Leste atau ketika membantai etnis Tionghoa, apakah pantas jika Indonesia dilabeli dengan segala citra kebiadaban?

Saya belum cukup tiga bulan di negeri Om Trump ini, tapi berikut yang saya temui selama berada di Carbondale, sebuah kota kecil di sebelah negara bagian Illinois, tempat saya menempuh studi master lewat beasiswa. Sebab mustahil dengan biaya sendiri.

Di tempat saya berada, segala kutub-kutub perbedaan di mata masyarakat kita justru bertemu. Coba sebutkan negara-negara yang selalu dianggap berseberangan. Dunia barat versus dunia Arab. Dunia barat direspresentasikan pada Amerika dan dunia Arab direpresentasikan Arab Saudi, Mesir, Palestina, Afganistan, Yordania dan negara Timur Tengah lainnya.

Jika ke Amerika dipandang jalan menuju neraka sebaliknya alumni Timur Tengah menuju surga. Maka wajar saja jika pemuda yang studi di negeri Arab jadi pedoman suami ideal dan mereka yang lanjut ke Amerika dianggap perusak moral.

Seolah di Amerika tak akan ditemukan Allah. Tetapi yang menarik adalah sebab pemuda dari negeri Arab terutama seperti Arab Saudi justru berbondong-bondong melanjutkan studi ke Amerika Serikat. Di jurusan saya misalnya, ada 11 mahasiswa dari Arab Saudi, terbanyak dari negara lain.

Selain Amerika Serikat, negara lain yang sering membuat masyarakat kita kejang-kejang adalah Cina. Yang terjadi adalah mahasiswa Cina mendominasi 75 persen mahasiswa internasional di Amerika Serikat. Mereka berteman baik dengan mahasiswa dari Arab. Pun demikian dengan dari Palestina dan Iran.

Dan dengarlah baik-baik. Tak cuma mahasiswa laki-laki Arab Saudi yang jauh-jauh ke Amerika Serikat kuliah, ukhti-ukhti dari Timur Tengah juga, tak sedikit dari Arab Saudi. Di jurusan saya setidaknya ada tiga mahasiswi Arab Saudi.

Seorang berjilbab besar dengan rambut tak sepenuhnya ditutupi jilbab, dua lainnya bercadar. Belum termasuk ukhti-ukhti bercadar di jurusan lain yang sering saya temui. Saat salat idul adha, saya bahkan bertemu ukhti dengan wajah sepenuhnya tertutupi kain. Bagian mata dan kening ditutupi kain transparan agar bisa melihat. Jika simbol kepatuhan ditakar dari panjang kain, kurang taat apa mereka?

Apalagi mereka ini berkomunikasi dengan menggunakan Bahasa Inggris. Bahasa yang sering disebut-sebut tak akan berguna di akhirat. Kata ustads/ustadsah yang menggemaskan, “Untuk apa belajar Bahasa Inggris? Nanti pas ditanya-tanya malaikat itu pake Bahasa Arab kaleee.” Ente kira mereka yang mendakwahkan Islam di Amerika Serikat langsung pakai Bahasa Arab?

Kita sering kali melihat sesuatu dengan satu mata terbuka dan menutup mata yang lain. Kita juga cenderung hanya melihat dengan apa yang tampak oleh mata kepala. Alumni Amerika misalnya selalu dikaitkan antek perusak akidah Islam.

Tentu dengan menutup mata pada sumbangsih keagamaan jebolan Amerika seperti Din Syamsuddin, Buya Syafi’I Maarif, Nurcholish Madjid, Azyumardi Azra atau Ahmad Fuadi. Tetapi ketika gelombang serangan mewakili kepentingan tertentu, mereka pura-pura atau sekedar ikut arus mengeror. Masih ingat saat ributnya Pilkada DKI?

Di sana ada nama Anies Baswedan dan tentu Buni Yani. Mereka dielu-elukan sebagai pahlawan Islam. Keduanya alumni Amerika. Tapi siapa yang peduli.

Sebagian masyarakat kita memang kadang aneh dan menggemaskan. Kita mengaku terjajah tetapi hanya melawan dengan berteriak-teriak dari jauh, sementara kita telah kian tertinggal dalam teknologi dan ilmu pengetahuan.

Ketika pemuda mereka saling bertanya penelitian masing-masing, kita sibuk bertanya kapan nikah. Ketika mereka sibuk penelitian di lab, kita sibuk berdemo unjuk massa.

Ketika suatu saat nanti kita hanya bisa unjuk jumlah, mereka hanya memencet satu tombol dari jauh dan kita punah. Bukankah Rasulullah sudah memperingatkankan, jumlah kita kelak akan banyak tetapi mungkin hanya seperti buih di lautan, bukan begitu ukhti ?

Arief Balla

Arief Balla

Sedang menempuh studi master TESOL and Applied Linguistics di Southern Illinois University Carbondale, Amerika Serikat dengan beasiswa Fulbright.

Previous post

Menambat Harapan di Musik Hutan

Next post

Belajar Menemukan Diri Melalui Sinema Iran "WHERE IS THE FRIEND'S HOME"