Locita

Nadiem Makarim Jadi Mendikbud-Dikti, Apakah yang Akan Ia Lakukan?

Nadiem menjadi menteri bukan hal yang mengejutkan saat pengumuman hari ini. Dua hari sebelumnya, ia telah dipanggil Presiden Joko Widodo dengan kemeja putih dan celana hitam. Sebuah penanda bahwa ia akan bergabung dalam Kabinet Indonesia Maju alias Kabinet Jokowi jilid II.

Apalagi saat para wartawan mencegatnya dan Nadiem menjawabnya bahwa memang ia diminta membantu presiden. Pastilah sudah, ia akan menjadi menteri.

Dan asumsi pun bermunculan sebagai menteri apa. Keyakinan warganet, ia akan ditunjuk menjadi menteri yang tak jauh-jauh dari ekonomi, data, industri kreatif, atau investasi. Perkiraan ini tidak jauh-jauh dari latar belakang Nadiem Makarim sebagai pendiri Go-Jek. Sebuah start-up buatan anak bangsa yang kini tidak hanya beroperasi di Indonesia tetapi juga telah berekspansi ke luar negeri.

Namun, mengejutkan ketika pengumuman hari ini dan ia diamanahkan menjadi Mendikbud-Dikti (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan- Pendidikan Tinggi).

Yah meski memang Presiden Jokowi sering sekali mengejutkan. Dan warganet hanya bisa menduga-duga dan menerka alasannya.

Nadiem yang tidak memiliki potongan pekerjaan atau jurusan yang bersentuhan dengan pendidikan, ditunjuk menjadi menteri yang mengurusi pendidikan dan kebudayaan. Apa yang akan dilakukan seorang Nadiem Makarim?

Ia lahir di Singapura, 35 tahun lalu. Ia menyelesaikan pendidikan SD dan SMP di Jakarta. Lalu, kembali ke Singapura menyelesaikan pendidikan SMAnya. Dari sana, ia melanjutkan pendidikan jenang sarjana di Brown University, Amerika Serikat, jurusan Hubungan Internasional.

Ia sempat mengikuti pertukaran pelajar di London School of Economics, London, Inggris. Ia lalu kembali ke Amerika Serikat dan sukses menyelesaikan program masternya dari Harvard Business School, Harvard University, Amerika Serikat. Sampai di sini kita tahu, latar belakang pendidikannya adalah ekonomi.

Lulus dari Harvard, ia bekerja selama tiga tahun di perusahaan konsultan McKinsey & Company. Kemudian ia beralih ke Zalora sebagai co-founder lalu Managing Editor Zalora Indonesia. Hingga akhirnya, ia mendirikan GO-JEK, menjadi CEO sebelum mengundurkan diri ketika ditunjuk Presiden Jokowi sebagai Mendikbud-Dikti.

Ditelisik dari karir dan pendidikan, Nadiem Makarim tidak memiliki catatan pernah yang bersentuhan dekat dengan pendidikan, kecuali kenyataan ia pernah bersekolah hingga ke jenjang master ke Amerika Serikat. Dengan pengalaman yang nihil dalam bidang pendidikan, mampukah Nadiem menerjemahkan instruksi Jokowi memperbaiki dan memajukan pendidikan Indonesia?

Pendidikan di negeri kita tercinta tentu tidak sesederhana yang kita bayangkan. Ia adalah urusan kompleks. Itu pula sebabnya sistem pendidikan di negara lain tidak serta merta cocok dan diterapkan di Indonesia. Sistem pendidikan di Finlandia misalnya tidak serta dapat diterapkan di Indonesia.

Sebab kita tidak dapat terlepas dari luas geografis, jumlah penduduk, keanekaragaman suku dan budaya, jalur distribusi yang tidak bisa dilepaskan dari wilayah yang hanya berupa daratan atau pulau, juga prasarana dan sarana dari kota ke desa. Saya tidak yakin jika pun Menteri Pendidikan Finlandia akan berhasil jika ditugaskan selama satu periode di Indonesia dengan segala kompleksitas pendidikan. Tantangan pendidikan di Finlandia berbeda dengan di Indonesia.

Barangkali dengan segala kompleksitas itu pula yang belum tentu membuat seorang dengan latar belakang di bidang pendidikan yang kuat sekalipun dapat serta merta mengatasi tantangan pendidikan di negara kita.

Pada Kabinet Jokowi jilid I, Jokowi menunjuk Anies Baswedan sebagai Mendikbud. Seorang lulusan Amerika Serikat –seperti Nadiem Karim—, plus dengan gelar doktor, mantan Rektor Paramadina, dan tentu dengan programnya yang terkenal Indonesia Mengajar.
Belum cukup dua tahun menjabat, Anies Baswedan diberhentikan.

Ia dianggap gagal membuat gebrakan baru. Anies dianggap hanya pandai beretorika dan terlalu banyak berkata-kata belaka. Ia kemudian digantikan Muhajir Effendy.

Akankah Nadiem bernasib serupa? Semoga saja tidak. Pendidikan bukan hal coba-coba. Sistem pendidikan kita sudah ruwet dan kita berharap keruwetan bisa dipangkas sehingga urusan-urusan bisa dipercepat.

Kita berharap pada Nadiem, terlepas dari ia yang minim pengalaman pendidikan, namun semoga nilai-nilai sebagai pemimpin transformatif yang diterapkan di Go-Jek bisa diterapkan juga di Kemdikbud-Dikti.

Semoga gebrakan dan gerakan-gerakannya didasarkan pada data-data relevan terkait pendidikan. Tidak, misalnya, sekedar ikut-ikutan menggunakan data PISA (Program for International Assessment) dalam mengukur pendidikan kita. Toh sekali lagi, setiap negara memiliki tantangan pendidikannya sendiri yang berbeda konteks dengan negara lain.

Selamat bekerja Pak Menteri Nadiem Kariem. Semoga semangat inovasi dan kreatifitas di Gojek bisa diterapkan pula di Mendikbud-Dikti.

Avatar

Arief Balla

Sedang menempuh studi master TESOL and Applied Linguistics di Southern Illinois University Carbondale, Amerika Serikat dengan beasiswa Fulbright.

Tentang Penulis

Avatar

Arief Balla

Sedang menempuh studi master TESOL and Applied Linguistics di Southern Illinois University Carbondale, Amerika Serikat dengan beasiswa Fulbright.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.