EsaiFeatured

Nabi Muhammad Seorang Aktivis Sebuah Pelajaran Bagi Generasi Muda Muslim Indonesia

AKTIVISME merupakan kegiatan yang tidak pernah lepas dari kehidupan manusia. Apalagi di zaman serba canggih ini, berbagai kelompok menyuarakan kepentingannya.

Mulai dari aktivis Hak Asasi Manusia (HAM), perempuan, agraria, politik, hingga lingkungan hidup. Para aktivis menuntut supaya suaranya didengarkan, apa yang diinginkannya dapat terwujudkan.

Salah satu kelompok masyarakat yang paling getol dalam urusan aktivisme adalah mahasiswa. Philip Altbach  mengatakan bahwa mahasiswa mempunyai ciri sebagai kelompok elit.

Mereka mempunyai intelektualitas dan mampu menangkap persoalan masyarakat. Karena posisinya yang berhadap-hadapan dengan perkembangan ilmu pengetahuan maka merekapun digaris depan dalam menyuarakan problematika yang dihadapi masyarakat.

Khususnya untuk aktivis Muslim sebenarnya urusan aktivisme bukan barang baru lagi. Terdapat contoh riil dalam sejarah terkait hal ini. Yakni pada diri Rasulullah Muhammad SAW.

Sesungguhnya pada diri Rasulullah terdapat keteladanan yang sempurna. Petikan ayat Al Quran itu seringkali dibicarakan di mimbar ceramah dan ditulis di buku-buku. Ini juga menjadi alasan mengapa perjalanan hidup Nabi Muhammad menjadi perhatian oleh manusia akhir zaman ini. Dari perilakunya, ucapannya bahkan diamnya umat Islam mengambil contoh dan menjadikannya sandaran atas perilaku mereka.

Sebelum menjadi seorang Nabi, Muhammad merupakan seorang aktivis yang peduli terhadap hak-hak orang lain. Salah satu contohnya dapat diambil dari kisah Hilful Fudhul.

Sebagaimana dikisahkan oleh Martin Lings dalam bukunya Muhammad: His Life Based on the Earliest Sources. Suatu kali seorang Yaman dari pelabuhan Zabid menjual barangnya kepada seorang tokoh Bani Sahm. Namun pemuka Bani Sahm ini tidak mau membayarnya. Dia tahu pedagang Yaman ini tidak mempunyai afiliasi terhadap kabilah manapun dari Quraisy, sehingga tidak ada jalan baginya untuk minta pertolongan.

Tidak diduga pedagang tersebut meminta bantuan kepada petinggi kaum Quraisy lainnya. Gayung bersambut, Abdullah bin Jud’an pimpinan Bani Taim yang tidak beraliansi dengan Bani Sahm menolongnya.

Abdullah mengumpulkan beberapa pimpinan suku dirumahnya untuk membicarakan keadilan. Muhammad muda, hadir dipertemuan itu mewakili Bani Hasyim bersama pamannya Zubair.

Setelah berdiskusi perwakilan dari kabilah itu pergi ke Ka’bah. Mereka menyiramkan air ke Hajar Aswad dan menampungnya disebuah wadah. Air dari wadah itu diminum dan tangan kanan lantas diletakkan diatas kepala.

Mereka bersumpah bahwa dalam setiap aksi penindasan di Mekkah mereka akan berada di pihak yang tertindas,terlepas dari apakah orang yang tertindas adalah Quraisy atau orang datang dari luar. Berdasarkan perjanjian ini, pemuka Bani Sahm yang curang tadi dipaksa membayar hutangnya kepada si pedagang Yaman.

Dikemudian hari Nabi Muhammad mengenang kejadian itu. Beliau berkata “saya hadir dirumah Abdullah bin Jud’an saat perjanjian istimewa itu dan saya tidak akan menggantikan peran saya didalamnya bahkan dengan unta merah sekalipun. Dan jika sekarang dalam Islam saya dipanggil lagi maka saya akan menerimanya dengan senang hati”.

Dari kisah ini dapat dipelajari bahwa Muhammad tidak begitu saja tiba-tiba menjadi Nabi. Beliau juga belajar bagaimana memperjuangkan hak orang yang dizalimi. Bahkan perjuangannya itu menghasilkan efek politik, berupa keputusan yang mesti dijalani oleh seluruh Quraisy, meskipun beberapa Kabilah tidak turut serta.

Hal ini terbukti sewaktu perjanjian itu dikenakan pada pemuka Bani Sahm tadi. Tidak ada yang menolongnya ketika dipaksa membayar hutangnya.

Kalau pada hari ini mahasiswa adalah kelompok elit masyarakat, Muhammad muda telah menapaki jejak itu dalam konteks yang berbeda. Dengan dipercayanya dirinya sebagai perwakilan kaumnya yakni Bani Hasyim dalam perjanjian istimewa itu, posisi elit dalam kelompok masyarakat telah dipegangnya semenjak belia. Karena Hilful Fudhul sendiri berarti (perjanjian atau persekutuan orang terkemuka di Mekkah).

Perjanjian tersebut masih diakui oleh Muhammad setelah beliau menjadi Nabi. Menurut Tariq Ramadan dalam bukunya In the Footsteps of the Prophet hal itu merupakan sebuah poin penting.

Yakni, perjanjian itu benar dan mempunyai prinsip keadilan dan membela ketertindasan terlepas apakah prinsipnya datang dari dalam atau luar Islam. Dalam perjanjian itu terletak aspek kebaikan bersama untuk masyarakat.

Belajar dari Hilful Fudhul penting untuk memaknai efek politis dari sebuah kontrak sosial dalam masyarakat. Jika dibawakan ke dalam konteks Indonesia salah satu bentuk kontrak sosial itu adalah Pancasila. Diantara poin kunci dalam Pancasila yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Pertanyaannya tentu sejauh mana keadilan sosial itu berlaku?

Bagi para aktivis, ini adalah suatu pertanyaan yang harus dijawab dengan sungguh-sungguh. Sebab kalau tidak Pancasila sebagai kontrak sosial bukanlah sebuah kontrak akan tetapi hanya suatu kesepakatan yang sifatnya menjadi utopis untuk dilaksanakan.

Misalnya saja keadilan dalam bidang ekonomi. Pasar tradisional semakin menurun jumlahnya sementara jumlah gerai ritel modern semakin meningkat.

Akibatnya banyak para pedagang kehilangan mata pencaharian. Mereka terpaksa beralih profesi dari mata pencaharian yang sudah lama dilakoninya.

Menjadi aktivis berarti menyuarakan ketidakadilan dengan serius. Hal ini berarti mewujudkan apa yang dinginkan sampai terjadi perubahan dalam kehidupan sosial.

Seperti halnya peristiwa Rasulullah Muhammad SAW yang ikut menyuarakan ketidakadilan dalam peristiwa Hilful Fudhul. Beliau ikut dalam suatu perjanjian penting yang merubah situasi ketidakadilan dalam masyarakat Mekkah di masa mudanya.

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Pengamat Psikologi Sosial dan Penikmat Studi Islam

Previous post

PSM Sudah Menang Sejak dalam Pikiran Apalagi Pertandingan

Next post

Indah Lestari, dari Profesional Paling Berpengaruh, Milenial, hingga Pekerjaan Uniknya