Esai

Modal Kehormatan Dokter Gigi

Seringkali untuk masalah yang sifatnya temporer, semua lantang bicara. Merasa terusik dengan kemapanan yang selama ini dibangun belasan mungkin puluhan tahun. Mulai dari semua level struktur. Tak lepas juga organisasi tempat saya bernaung: PDGI. Dari dokter gigi yang belum mendapat ijazah, sejawat di pelosok yang sulit terjangkau sinyal, hingga beberapa dokter senior yang sedang jadi pejabat.

Bukan main betapa seringnya ponsel pintar saya bergetar tentang polemik Cornelis Buston dan PDGI. Saya sampai kelelahan memandangi grup-grup WhatsApp saya dengan emosi-emosi rekanan sejawat saya yang meluap-luap akan statemen tersebut. Notifikasi itu cukup mengganggu ketenangan anak saya yang sedang asyik mendengarkan lagu-lagu Monita Tahalea.

Saya sendiri tak berani terlalu masuk dalam debat antara dokter gigi dan sang ketua DPR di Jambi. Kita tak tahu betul pokok masalahnya, yang kita tahu hanya sepotong kalimat sang Ketua DPR, mungkin kita tak paham konteks. Atau mungkin ada sesuatu yang tidak tersampaikan ke khalayak.

Benar, pernyataan ketua DPR yang men-generalisir persoalan memang keliru. Ketua DPR secara arif perlu meminta maaf khusus untuk pernyataan “dokter gigi tidak pas untuk jabatan kepala rumah sakit”. Kemudian melanjutkan peran dan fungsi sebagai legislatif yang mengawasi eksekutif adalah bagian dari tanggung jawab yang harus dilakukan. Selain itu pernyataan ini sangat overgeneralisir, seakan dokter gigi tidak pantas memimpin RS.

Di luar sana banyak dokter gigi yang sukses memimpin rumah sakit. Salah satunya adalah senior saya, Munawir Usman. Direktur RS Mamuju Utara ini salah satu yang sukses membuat saya ‘tersesat’ di dunia kemahasiswaan. Buktinya sampai hari ini tidak tersiar riak dari rumah sakit tempatnya memimpin.

Bisa jadi memang ada yang juga keliru dari pengelolaan RS oleh sang direktur sehingga menyulut kemarahan sang Ketua DPR.

Kata Pram, adillah sejak dalam pikiran. Jangan mentang-mentang kita satu korps, kemudian kita secara membabi buta melakukan pembelaan. Mungkin sepenuhnya Ketua DPR tak benar, tapi untuk mengatakan sepenuhnya ia keliru sekali lagi kita harus sadar konteks.

Lebih bijak jika militansi dokter gigi yang sudah mulai muncul di seantero bumi pertiwi ini terkelola dengan baik. Kita perlu marah bersama atas tarif BPJS yang masih belum wajar, soal tukang gigi atau hal-hal lain.

Turut beberapa kasus yang mendiskreditkan nasib sejawat di pinggiran Indonesia Timur sana yang tak kunjung peroleh gaji beberapa bulan setelah mengabdi kepada negara. Serta standarisasi alat dan bahan yang belum merata di pelosok-pelosok.

Saya senang teman-teman dokter gigi bersatu untuk permasalahan ini. Sesuatu yang mungkin sangat jarang didapatkan oleh profesi yang sudah mapan dengan lingkup kerjanya.

Namun sekiranya ada problematika lainnya yang membutuhkan energi besar teman-teman sejawat dan organisasi profesi. Apakah sudah puas dengan kondisi dokter gigi di era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)? Apakah sudah cocok kebijakan internsip adik-adik calon dokter gigi? Apakah sudah puas dengan status tukang gigi saat ini?

Sebagai lokomotif, PB PDGI harus mulai menjawab pertanyaan itu. Mulai mengenyampingkan hal-hal yang sifatnya seremonial dan parsial. Visi besar harus terdistribusi hingga membangkitkan kesadaran bersama betapa pentingnya kita berorganisasi.

Tentu saya yang masih sangat awam dengan organisasi profesi dokter gigi, tapi soal prinsip-prinsip dasar organisasi di manapun sama. Teringat pesan senior saya, berorganisasi itu part time, full heart.

Kita punya keluarga, kesibukan, dan segelintir alasan lain. Tapi lagi-lagi sebuah tanggung jawab sebagai lokomotif harus selalu didengungkan. Padanya gerbong mengikut, sibuk dengan kegiatan seremonial melegitimasi hal yang sama di pelosok sehingga abai pada setumpuk masalah pokok diatas.

Kita akan peroleh kehormatan, jika yang kita bangun adalah modal kehormatan. Jangan menuntut orang lain hormat, jika kita sendiri alpa mengangkat harkat kehormatan diri kita sendiri.

Momentum ini begitu berharga untuk dilewatkan, apalagi kepengurusan baru PB PDGI masih seumur jagung. Masih tersisa euforia kemenangan yang menggebu-gebu. Selamat mengarungi samudera masalah, doa kami di nadimu.

Arief Rosyid

Arief Rosyid

Seorang ayah dan suami, dokter gigi, Ketua Umum PB HMI 2013-2015

Previous post

Pesan Tersembunyi dalam Puisi Jusuf Kalla

Next post

Defisit Jokowicare dan Gombalnya Gerakan Cakupan Semesta