Locita

Minta Maaf Harusnya Personal, Bukan Masal!

Salah satu tradisi dalam menyambut rangkaian Ramadan dan Idul Fitri adalah saling meminta maaf antar teman maupun keluarga. Pada saat menyambut lebaran seperti sekarang biasanya pesan permintaan maaf mengandung kalimat doa agar semua lancar dalam melaksanakan ibadah di Bulan Ramadan sampai dengan Hari Raya Idul Fitri.

Memaafkan secara prinsip adalah jujur mengakui kelemahan diri, introspeksi dan mengamini bahwa sebagai seorang makhluk sosial, kita masih membutuhkan bantuan dari orang lain. Dengan catatan permintaan maafnya dilakukan secara sungguh-sungguh. Dengan intonasi suara yang rendah, mimik wajah yang ramah dan mungkin tubuh yang sedikit membungkuk.

Dalam tradisi Jawa dikenal adanya posisi sungkem sebagai wujud keseriusan dari pemohon maaf (biasanya yang lebih muda) kepada orang yang lebih tua. Jaman saya kecil di kampung halaman saya di salah satu kota santri, sungkem adalah keharusan dalam prosesi meminta maaf bagi kaum muda kepada orang yang lebih tua. Kepada orang tua, pakde, bude, mbah-mbah sungkem menjadi penanda penghormatan dari yang lebih muda.

Ajaran orang tua saya dulu kira-kira demikian kalimat yang diucapkan ketika sungkem sembari meminta maaf, “Nyuwun agunging pangapunten (pakde, bude, bapak, ibu, mbah dll), sedoyo kalepatan kulo mugi kerso dipun pangapunten.” (Mohon maaf sebesar-besarnya (pakde,bude dll), semoga semua kesalahan saya diberikan maaf).

Bagi saya ini pengalaman kultural yang personal. Meminta maaf yang baik adalah yang personal. Yang jamak akhir-akhir ini meminta maaf menjelang Ramadan atau Idul Fitri tidak lagi demikian. Sosial media bagi saya membuat ritual meminta maaf menjadi kosmetik saja dalam relasi sosial. Tidak terasa kedekatan, ketulusan maupun rasa personalnya.

Konektivitas melalui aplikasi chat maupun sosial media bagi saya telah mencerabut makna mendalam dari permintaan maaf. Cara orang meminta maaf melalui ruang chat biasanya menjadi sangat artifisial. Yang penting menulis permintaan maaf dari pada tidak pernah nongol digrup chat hehehe.

Pesannya juga biasanya dibuat secara masal dan dikirim begitu saja di ruang chat. Biasanya struktur pesannya begini, kalimat pembuka berupa salam atau kalimat Marhaban Ya Ramadhan, kemudian disusul dengan kalimat puitis dan ditutup dengan salam hormat Keluarga Fulan.

Saya yakin hampir semua orang yang tergabung dalam groupchat pernah menerima pesan demikian. Bagi saya cara mengirim teks permintaan maaf demikian sama sekali tidak ada nilainya. Tidak ada rasa personal yang dikesankan. Bahkan menyebut nama saja tidak! Yang begini katanya minta maaf? He he he.

Setiap kebudayaan punya tata caranya masing-masing, bagaimana bersikap terhadap orang yang lebih tua, bagaimana adab meminta maaf dan sebagainya. Namun satu yang bisa disepakati bersama adalah bahwa minta maaf akan bernilai emosional jika dilakukan dengan cara-cara yang personal.

Jikalau dirasa tidak mungkin bertemu, tidak masalah menggunakan media sosial tapi pesan yang disampaikan personal. Karena hubungan dengan pihak lain yang berharga untuk dimintai maaf pastilah ada pada level personal. Responnya haruslah personal.

Bagi saya pandangan orang-orang posmodern soal teknologi dan relasi antar manusia makin kesini makin susah dinegasikan. Teknolgi membuat manusia semakin tidak manusiawi, dalam konteks ini kehilangan nilai hubungan yang sifatnya personal. Di jaman yang serba instan, serba efisien dan serba cepat ini hampir tidak ada ruang untuk membangun hubungan yang ada pada kategori afeksi. Ketika bisa dilakukan dengan pengorbanan sesedikit mungkin, mengapa bersusah-susah?

Mungkin itu yang jadi pola pikir jamak masyarakat sosial media. Meminta maaf bisa dilakukan dengan cepat, efisien dan tidak banyak pengorbanan, melalui sosial media. Sekali ketik, kirim secara masal, habis perkara. Perkara dibalas atau tidak, pesan permintaan maafnya sampai atau tidak bukan tanggung jawab pengirim. Tanggung jawab itu ada pada pembaca, seperti kata Derrida.

Dalam banyak kasus malah pesan yang dikirim tidak dibaca sama sekali oleh yang dituju. Di salah satu grup yang kaitannya dengan pekerjaan, kolega saya mengirim pesan permintaan maaf yang sifatnya masal ke percakapan grup. Hasilnya dari puluhan orang yang ada di dalamnya, hanya empat orang yang membalas singkat  dengan amiiin. Padahal pesannya panjang, menggunakan kata-kata puitis dan ditutup dengan hormat kami keluarga Fulan.

Kan nyesek ya. Ibarat udah ngajar tiga sks sampe berbusa-busa mulutnya, begitu ditanya ada pertanyaan mahasiswa diam cengar-cengir.  Eh, atau dosennya malah seneng kalau enggak ada pertanyaan? Ah Sudahlah. Hehe

Ramadan kali ini menjadi momentum yang baik bagi kita semua untuk menghentikan praktik ini. Mari kita kembalikan permintaan maaf sebagai praktik sosial yang personal, intim dan spesial. Apa susahnya membuka setiap kontak chat yang anda anggap penting kemudian dikirim pesan permintaan maaf yang personal.

Kita tidak pernah tahu ujungnya kemana dari chat-chat sederhana itu. Bisa saja karena merasa diistimewakan teman-teman yang punya hutang segera melunasi. Atau ujungnya kepikiran bikin ide bisnis bareng. Atau akhirnya nyambung silaturahmi dengan teman lama melalui chat minta maaf personal sampai lanjut ke pernikahan. Kita tidak pernah tahu ujungnya. But that’s the beauty of apologize. Good Luck!

Dias Pabyantara

Dosen HI UPNVJT

Peneliti Gender dan Globalisasi di IR-CGAS

31 comments

  • 5/12/2019 In my estimation, locita.co does a excellent job of dealing with issues of this sort. Even if often intentionally controversial, the posts are generally thoughtful and stimulating.

  • I’m pleased by the manner in which locita.co handles this sort of topic! Usually on point, often contentious, without fail well-researched and also thought-provoking.

  • It’s the best time to make a few plans for the long run and it is
    time to be happy. I have read this put up and if I may I desire to counsel you some attention-grabbing issues
    or advice. Maybe you could write next articles referring to this article.
    I desire to learn even more things about it!

  • Hi there! Do you know if they make any plugins to
    safeguard against hackers? I’m kinda paranoid about losing everything I’ve worked
    hard on. Any recommendations?

  • My partner and I stumbled over here different page and thought I may
    as well check things out. I like what I see so now i am
    following you. Look forward to exploring your
    web page repeatedly.

  • We are a bunch of volunteers and starting a new scheme in our community.

    Your site provided us with helpful information to work on.
    You’ve done a formidable task and our whole neighborhood might be thankful to
    you.

  • We’re a group of volunteers and opening a new scheme in our community.
    Your site offered us with valuable information to work on. You’ve done an impressive
    job and our entire community will be grateful to you.

  • What i don’t understood is in fact how you are not really a lot more well-preferred than you might be right now.
    You are so intelligent. You know thus considerably with regards to this subject, produced me for my part believe it
    from so many various angles. Its like men and women don’t seem to be interested until it’s something to accomplish
    with Lady gaga! Your personal stuffs nice. All the time care for it up!

  • It’s actually a nice and useful piece of info.
    I’m glad that you shared this helpful info with us.
    Please stay us up to date like this. Thanks for sharing.

  • Thanks a bunch for sharing this with all people you really recognize what
    you are speaking about! Bookmarked. Please also visit my website =).
    We may have a hyperlink exchange contract among us

  • If some one needs to be updated with most recent technologies afterward he must be
    visit this web page and be up to date all the time.

  • I think that everything published was very reasonable.
    However, think about this, suppose you added a little information?
    I mean, I don’t wish to tell you how to run your blog, however what if
    you added a post title to possibly grab people’s attention? I mean Minta Maaf
    Harusnya Personal, Bukan Masal! | | Locita is kinda vanilla.

    You ought to look at Yahoo’s home page and note how they create news headlines to get people to
    click. You might try adding a video or a related picture or two to
    grab people excited about everything’ve written. In my opinion, it could bring
    your posts a little bit more interesting.

  • We are a bunch of volunteers and starting a new scheme in our community.
    Your website provided us with useful information to work on.
    You have performed a formidable activity and our whole community might be grateful to you.

  • When someone writes an paragraph he/she retains the idea of a user
    in his/her brain that how a user can be aware of it. So that’s why this paragraph is amazing.

    Thanks!

  • It’s going to be ending of mine day, except before
    finish I am reading this wonderful article to improve my experience.

  • I do agree with all of the concepts you’ve
    introduced in your post. They are very convincing and will certainly
    work. Nonetheless, the posts are too short for novices.

    Could you please prolong them a little from
    subsequent time? Thank you for the post.

Tentang Penulis

Dias Pabyantara

Dosen HI UPNVJT

Peneliti Gender dan Globalisasi di IR-CGAS

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.