Esai

Mewujudkan Islam Ramah Bukan Marah-marah

MEDIA sosial selalu menyuguhkan banyak berita menarik. Di kala naik daunnya Dilan dan Milea, isu-isu intoleransi masih saja berkembang bak lumut di bak mandi. Selalu membikin banyak polemik yang begitu memusingkan.

Secara tidak sadar hal tersebut termanifestasi ke dalam otak kita, menjadi sebuah problem yang tiap bulan topiknya selalu berganti. Mulai isu Papa Setnov yang bungkam, Bung Anies yang bertele-tele ketika dicerca Mbak Najwa, Om Sandiaga yang mau bikin kursus naik becak, hingga munculnya disintegrasi alumni 212.

Baru-baru ini kita dikagetkan oleh perihal persoalan yang sebenarnya enggak banget. Misalnya Ustadz yang populer dengan celetukan-celetukan intoleran, lalu warganet yang terhormat mengamini tanpa membuka otak lebih jauh. Imbasnya ramai-ramai membully tanpa merasa berdosa, seperti dialami Rina Nose.

Bagi saya, wong itu tubuhnya Rina, hak dia lah mau memilih apa. Yang penting tidak menyakiti, atau membuat semacam hal yang meresahkan, minimal membuatmu stroke mendadak. Bahkan dalam persoalan ini, baik dia pindah agama atau tidak, itu ranah privat dia. Sejak kapan Islam mengajarkan untuk memaksa orang lain. Jadi ingat kata Gus Dur, “Islam itu ramah-ramah bukan marah-marah.”

Hal ini menunjukan bagaimana kita yang sudah terlanjur mengidentifikasikan diri, sebagai yang paling egois dalam beragama, sehingga dengan mudah menjustifikasi seseorang, tanpa melihat diri sendiri dan berkaca. Parahnya lagi, tanpa dibarengi dengan husnuzan, verifikasi berdasarkan pengetahuan.

Misal begini, ada kasus laki-laki dan perempuan berduaan, lantas disebut mesum. Hingga pada satu titik kejadian, secara tidak langsung juga melakukan pelecehan seksual. Bentuk kekerasan seksual yang diamini dan menjadi pembenaran kolektif. Kasus di Tangerang misalnya, dua muda-mudi harus menerima pelecehan seksual. Mereka yang bukan pasangan mesum, harus dihukum tanpa pembelaan.

Kemudian secara banal merampas hak dua muda-mudi itu. Siapa yang mau coba di arak keliling kampung dengan kondisi bugil. Meskipun dia salah pun itu bukan pembenaran, malah hal tersebut merupakan kejahatan yang disepakati dan dibenarkan (kolektif).

Kita mudah melakukan identifikasi terhadap suatu hal, tanpa dilandasi konstruksi realitas yang mendalam. Tidak ada kontradiksi atau semacam negasi. Adanya, aku melihat maka aku benar, khas positivistik. Padahal kita hanya terjebak dalam atribusi keimanan yang simbolik. Tanpa mencoba memahami apa sebenarnya realitas yang faktual, terjebak dalam imajinasi yang diyakini sebagai standar kebenaran.

Ini sama dengan seseorang yang melakukan tuduhan bahwa yang lepas jilbab, menonton drama Korea, berkawan dengan beda agama, atau mencoba memahami yang memilih jalan berbeda dalam Islam, merupakan kaum-kaum sesat menjurus kafir, dan ini dilakukan tanpa merasa dia bersalah.

Mengapa Terjadi Demikian ?

Kondisi tersebut merupakan akibat dari tidak berjalannya lembaga pendidikan. Stagnan dan mengalami degradasi keilmuan. Di lingkungan pendidikan pun, pelecehan hingga tuduhan semacam itu acap kali terjadi, stigma tertentu masih mengakar kuat. Perilaku terkesan mendiskreditkan seseorang, bahkan masih kental dengan relasi kuasa lembaga pendidikan.

Sudah menjadi sebuah kebiasaan moral yang melembaga, seolah-olah sudah paripurna. Ini secara mendalam merupakan bagian dari konformitas, secara psikologi sosial merupakan pengaruh kelompok mayoritas ke individu atau minoritas, sehingga minoritas menyesuaikan dengan mayoritas agar tidak dianggap menyalahi norma-norma sosial ciptaan mayoritas.

Pembenaran-pembenaran atas moralitas dengan dibumbui keimanan yang bias, menjadikan nilai-nilai suci semakin kabur alias ambigu. Seolah-olah mereka yang secara penampilan tidak sesuai kesepakatan kolektif, atau bertentangan dengan nilai kita itu buruk. Padahal belum tentu demikian, apalagi baru sekali melihat tanpa mendetail terkait persoalan yang lebih dalam. Seperti kita dengan mudahnya tertipu oleh songkok dan jubah putih, meskipun hobi menikah, memalak dan ahlul fitnah.

Standar moral basi masih kuat berkuasa dan menjadi kebenaran absolut. Apalagi dibumbui dengan keimanan, semakin meningkat. Hingga melupakan basis materi atau realitas itu sendiri. Terkadang kita lupa siapa diri kita, apa relasi dengan realitas, terjebak dalam buih-buih kekakuan pemahaman. Menilai bukan berdasarkan basis argumentasi yang komprehensif, hanya berpondasi pada taklid buta, tanpa mau melakukan tabayyun.

Sama seperti ketika beberapa waktu lalu, ketika kita dihadapkan persoalan pelecehan dan penistaan agama. Seolah-olah umat Islam ditindas, dilecehkan oleh rezim yang katanya anti Islam. Kemudian diberi bumbu yang pas, akibat dari konstelasi politik yang mengerucut pada pro penista dan kontra penista (bela Islam).

Jelas-jelas hal itu merupakan konstruksi politik, untuk meningkatkan eskalasi gemuruh menuju kontes politik besar. Namun hal tersebut cukup membakar gairah keimanan, hingga tiba-tiba menjadi  jihadis moralis yang seolah-olah membela Allah. Kata Gus Dur, Tuhan (Allah) tidak perlu dibela, masa Tuhan selemah itu hingga harus dibela.

Kekolotan dan kebodohan fundamental seperti inilah yang kokoh, menjadikan manusia beragama menjadi kerdil karena egois. Persoalan siapa yang pindah agama, berduaan, lepas jilbab, sudah seharusnya kita tidak menjadikan hal tersebut pembenaran atas tindak persekusi, bullying, kekerasan, hingga terancamnya nyawa seseorang.

Lantas Apa yang Seharusnya Dilakukan ?

Saya masih ingat kata Gus Mus, “yang menghina agamamu tidak bisa merusak agamamu, yang bisa merusak agamamu justru perilakumu yang bertentangan dengan ajaran agamamu.”

Sebelum melihat orang tersebut marilah melakukan introspeksi pada diri kita, apakah sudah berusaha menjadi lebih baik atau jangan-jangan hanya hasil konformitas. Mengingatkan itu sah saja, asal sesuai konteks dan tidak menjustifikasi kebenaran versi kita.

Sebagai muslim tentu kita wajib mengingatkan saudaranya, namun harus disertai assessment yang mendalam. Memahami bukan hanya sekedar memaknai. Karena tindakan di luar nalar, baik pelecehan, bullying, persekusi, hingga tindak kekerasan adalah akibat dari ketidakmampuan kita melihat konteks yang substantif.

Persoalan Rina ataupun mereka yang lepas jilbab hingga mereka yang berduaan, sampai yang memilih jalan berbeda, itu tidak bisa ditanggapi secara rigid. Moralitas palsu mendekatkan kita pada praktek zalim, malah tidak mencerminkan sikap sebagai orang yang beragama.

Karena orang beragama itu sedianya bersikap tawasuth dan tawazun, agar senantiasa berimbang. Sikap tersebut berguna untuk melihat suatu realitas. Lalu, harus dibarengi dengan pemahaman, bukan taklid buta pada suatu persoalan.

Nabi Muhammad saja ketika berdakwah tidak pernah kasar atau memaksakan kehendak. Ketika berdakwah tidak pernah mendiskreditkan hingga menghakimi pilihan seseorang. Senantiasa mengedepankan akal dan pengetahuan, hingga zaman jahiliyah bisa terentaskan.

Islam seperti itulah, yang menggambarkan wujud rahmatan lil ‘alamin, sebagai bentuk afinitas agar orang dapat berjalan sesuai dengan gagasan yang ditawarkan. Semakin reaktif dan kasar dalam menawarkan pemikiran, semakin terlihat kualitas keimanan kita sendiri.

Wahyu Eka Setyawan

Wahyu Eka Setyawan

Anggota LAMRI Surabaya dan Pegiat FNKSDA Surabaya

Previous post

Sejauh Apa Barakka dan Pammase Bertahan di Wajo?

Next post

Melihat Bajo Lasalimu dari Dekat