Locita

Meramal Kemungkinan Masa Depan Politik Kita Lewat Sastra

Ilustrasi: Luki Ahmadi Hari Wardoyo

“Agama menjadi alat yang hebat untuk menenangkan manusia” seperti itulah pesan yang terkenal dari seorang seorang jenderal Revolusi Perancis dan penguasa Perancis sebagai Konsul Pertama (Premier Consul) Republik Perancis, Napoléon Bonaparte. Saya kembali mengingat pesan itu lantaran agama yang terasa menjadi sesuatu yang paling sering diberitakan belakangan ini. Terlebih lagi saat menjelang pilpres, dukungan para ulama seakan diperebutkan dan diklaim demi strategi untuk mendulang massa.

Sepulang shalat jumat kemarin, saya memikirkan pesan sebuah ceramah yang berkaitan dengan pilpres mendatang. Secara sederhana, pesan ceramah tersebut mengajak para jamaah untuk tidak membuang kesempatan dalam memilih nantinya. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan yang hanya datang dalam lima tahun sekali, kita mestilah memilih dengan bijak.

Selain itu, sempat pula dibahas tentang kekuatan para ulama yang berdiri di kubu dua pasangan capres dan cawapres kita. Di bagian ini, saya mulai berpikir ke belakang sejak proses pencarian wakil dari Prabowo dan Jokowi. Peran ulama sungguh tampak kental dalam proses pilpres kali ini. Jika anda bertanya pada seorang Sigmund Freud tentang mengapa para capres dan cawapres seperti itu, pastilah jawabannya kurang lebih seperti ini “Semua akibat dari trauma pengalaman masa lalu.”

Masa lalu seperti hasil pilkada DKI Jakarta kemarin sebenarnya memberi sumbangsih besar atas perilaku para elit politik kita hari ini. Kala itu, berkembangnya isu agama dan terbentuknya simpatisan aksi 212 yang kemudian mengalahkan data jika sebagian besar warga Jakarta puas atas kinerja Ahok.

Akhirnya Ahok kalah dan Jakarta mendapat pemimpinnya yang baru. Isu agama membawa pengaruh besar dalam proses memilih yang terjadi. Hingga akhirnya, elit politik pun seakan menjadikan agama menjadi sebuah jalan singkat untuk meraup suara masyarakat Indonesia. Hasilnya, para ulama menjadi sesuatu yang diincar dan diperebutkan.

Pertanyaan selanjutnya, benarkah asumsi itu? Seberapa besar pengaruh ulama pada pilpres mendatang? Celakanya, sebagian ulama pun tampak berdiri pada garis-garis yang seakan rawan mencederai bangsa kita. Di lain pihak, ini akan menjadi tantangan bagi masyarakat yang lebih luas terkait isu agama ini.

Hadirnya istilah seperti kiai milenial, post-islamisme, ijtima’ ulama, pengawal fatwa ulama, ittifaq ulama, tidak lain adalah bentuk dukungan dan penggambaran agama dalam mengusung calon tertentu. Namun mereka tidak sadar bahwa langkah seperti itu sebenarnya memiliki beberapa dampak yang mungkin saja akan berbahaya di masa depan.

Politik dan agama menjadi paket yang sangat erat kaitannya dalam suasana pemilihan presiden kali ini. Berbagai langkah ditempuh untuk mendapatkan dukungan dari sejumlah kelompok agama Islam. Secara tidak langsung kita bisa melihat upaya para elit politik yang hanya berfokus pada hal-hal yang tampak. Sedang gagasan terkait program yang akan dijalankan, terasa hambar. Coba anda sebutkan apa visi utama dari capres A atau capres B? Belum jelas arah dan langkah yang akan mereka tempuh saat terpilih nantinya.

Media online maupun cetak, seakan lebih ramai ketika memberi kabar atau berita tentang dukungan kelompok agama A terhadap pilihan B atau kelompok agama B terhadap pilihan A. Hingga pada akhirnya, di media sosial dengan mudahnya kita menemukan seorang yang bernama X mesti berdebat bahkan sampai harus bertengkar dengan D, R, atau S hanya masalah pilihan antara A atau B. Fenomena ini bukan sesuatu yang baru, tapi tampak terus berulang. Media sosial pun menjadi cerminan kita dalam memilih dan mendukung kandidat kita masing-masing. Selain mendukung pilihan A atau B, yang lebih mencemaskan adalah kehendak untuk mempertahankan jika kelompok ini lebih baik dibanding kelompok itu.

Hubungan antara agama dan politik sangatlah erat. Belajar dari berbagai sejarah yang ada di belahan dunia, agama memang bisa menjadi sebuah gerakan untuk melawan politik. Agama menjadi sebuah media kritik dan melawan kondisi politik sebuah negara seperti yang terjadi di Amerika Latin. Istilah “teologi pembebeasan” kemudian berkembang setelah para Jesuit mulai mencopot jubah dan bergabung dalam gelanggang politik. Semua itu bermula dari kesadaran serta respon akan kemiskinan yang kian parah di tengah masyarakat Amerika Latin. Perlakuan pihak penguasa yang tak berpihak pada rakyat membuat gerakan itu lahir dan berkembang. Fr. Gustavo Gutiérrez menuliskan paham ini dalam bukunya yang berjudul A Theology of Liberation (1971). Tapi, bagaimana jika agama hanya menjadi strategi untuk meraup suara masyarakat awam?

Pola yang meletakkan agama sebagai tameng juga dapat menjadi gambaran, betapa jurang kesenjangan terhadap kaum mayoritas dan minoritas semakin jelas. Tidakkah terfokusnya kita pada satu agama saja bisa menimbulkan gambaran yang memperlihatkan kurangnya toleransi elit politik terhadap pandangan umat agama lain. Juga seringkali, kita hanya berdiri pada titik pandang yang minim perspektif. Kejadian seperti ini semakin menunjukkan bahwa di negara kita, agama sangat mungkin dijadikan alat untuk berkuasa.

Atas situasi ini, mungkin kita perlu bercermin dari sebuah film serial yang diangkat dari buku dengan judul yang sama, The Handmaid’s Tale karya Margaret Atwood. Sebuah kisah dystopia yang menunjukkan sebuah negara bernama Gilead dengan system pemerintahan totalitarian berasaskan ideologi agama Kristen garis keras. Serial Tv Handmaid’s tale menunjukkan bentuk nyata dari radikalisme, bahwa agama dapat menjadi alat kekuasaan, ia adalah kebenaran yang tak dapat tergugat oleh apapun sehingga menjadi teror dan menebar ketakutan kepada siapa saja. Diskriminasi dan kemalangan adalah milik rakyat sipil, terkhusus untuk kaum perempuan. Penantangan terhadap penguasa adalah penentangan terhadap Tuhan.

Panggung politik di Indonesia membuat serial tersebut semakin memiliki relevansi yang nyata. Namun sejauh mana masyarakat dapat menyadari hal tersebut, ketika melihat betapa masyarakat mudah terhegemoni oleh isu-isu yang tersebar di media sosial. Padahal, kita dapat memilih untuk belajar melihat fenomena ini dari sebuah film, atau karya-karya sastra dan seni lainnya.

Mario Vargas Llosa Dalam pidatonya saat menerima hadiah nobel sastra yang berjudul elo gio la lecture y la ficcion, pernah mengungkap urgensitas fiksi dalam kehidupan. Bahwa tanpa adanya fiksi kita akan menjadi kurang awas mengenai pentingnya kebebasan dalam hidup agar bisa dihidupi, dan sebuah neraka baginya ketika kebebasan di injak-injak oleh seorang tiran, sebuah ideology, atau agama.

Pemahaman akan adanya sastra yang baik, mampu menyatukan kita karena memperoleh perspektif yang beragam terhadap beberapa peristiwa. Sebuah karya sastra dapat kita nikmati bersama, menderita bersama, terkejut bersama, melampaui batas-batas prasangka. Bahwa entah lelaki maupun perempuan, pemeluk agama yang berbeda, warna kulit yang tak sama ataupun Bahasa yang beragam, tak akan lagi memberikan kita sekat dan batas, atas persamaan rasa.

Sastra menyentuh wilayah tak tampak, menyentuh yang bersemayam di dalam diri kita yang sesungguhnya sama diantara seluruh manusia. Ia tak akan peduli dari mana anda berasal, ia akan mengetuk bagian yang sama saat ia datang ke dalam diri.

Wawan Kurniawan

Alumni Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar. Menulis puisi, cerpen, esai dan menerjemahkan. Buku puisinya yang sudah terbit antara lain Persinggahan Perangai Sepi (2013) dan Sajak Penghuni Surga (2017). Buku esai pertama, Sepi Manusia Topeng (2017). Saat ini masih menetap di Makassar. Twitter: @wkhatulistiwa

Add comment

Tentang Penulis

Wawan Kurniawan

Alumni Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar. Menulis puisi, cerpen, esai dan menerjemahkan. Buku puisinya yang sudah terbit antara lain Persinggahan Perangai Sepi (2013) dan Sajak Penghuni Surga (2017). Buku esai pertama, Sepi Manusia Topeng (2017). Saat ini masih menetap di Makassar. Twitter: @wkhatulistiwa

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.