Esai

Merahimkan Kata-Kata dalam Tubuh Ibu

PERKARA bahasa memang perkara pelik. Kasih sayang bisa saja tiba-tiba membingungkan jika ditarik garis pembatas antara kasih, sayang, dan cinta.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) garapan W.J.S. Poerwardaminta (Balai Pustaka: 1976). Kasih diartikan sebagai “merasa atau perasaan sayang (cinta; suka)”

Sedang sayang yang berkaitan dengan kasih diartikan “cinta”. Lantas, cinta sendiri diartikan “selalu teringat dan terpikirkan di hati.” Intimitas tiap kata seolah mengabarkan tiada perbedaan.

Kalimat termasyhur “beda kata tentu beda makna” seolah menjadi alpa makna. Kita mengingat pengakuan Afrizal Malna yang mengejutkan “Saya memakai bahasa Indonesia. Bahasa yang telah kehilangan akar budayanya dan diterima hanya sebagai alat komunikasi dan politik penyatuan di negara saya (Dalam Rahim Ibuku Tidak Ada Anjing, 2002).

Kepelikan bahasa diabadikan Joko Pinurbo (Jokpin) dalam puisinya, Kamus Kecil: “Saya dibesarkan oleh bahasa Indonesia yang pintar dan lucu, walau kadang rumit dan membingungkan. Yang mengajari saya cara mengarang ilmu, sehingga saya tahu, bahwa sumber segala kisah adalah kasih”.

Cuplikan puisi Jokpin mengabarkan bahwa yang disebut kasih adalah awal perjalanan kisah. Tanpa kasih, tidak akan ada kisah. Dengan kasih, barangkali Tuhan mengisi semesta dengan kisah-kisah.

Pemaknaan

Pelbagai agama menjargonkan diri sebagai yang “cinta kasih”, “welas asih”, “rahmatanlilalamin”, dsb. Cerita-cerita kasih sayang yang begitu menyentuh diabadikan dalam pelbagai kitab suci.

Dalam khazanah Hindu, kita mengingat kisah Siwa yang rela meminum racun demi kemurnian tirtaamerta untuk kelangsungan hidup manusia.

Dalam khazanah Budha, kita mengingat ajaran welas asih Sidharta Gautama yang memberi pencerahan sekaligus mengakhiri ajaran menyiksa diri sendiri untuk berpulang kepada-Nya.

Dalam khazanah nasrani kita mengingat cerita Yesus menjadi juru selamat sebagai perwujudan iman “kasih kristus”.

Dan juga dalam khazanah Islam, kita mengingat kisah Muhammad dalam menghapus perbudakan sebagai wujud rahmatanlilalamin yakni menjadi pengasih seluruh alam.

Islam menjelaskan makna kasih sayang dengan puitis dalam suratar-rahman: “Tuhan Pengasih, yang mengajarkan Alqur’an, yang menciptakan manusia dan mengajarkan penjelasan-penjelasan.

Kasih sayang Tuhan dijelaskan oleh pemberian sekaligus pengajaran Alqur’an yang tak lain mukjizat terbesar Nabi Muhammad sebagai pegangan hidup manusia. Juga, penciptaan manusia dan pengajaran akan pelbagai kejelasan.

Kejelasan yang bagaimana dijelaskan pada ayat-ayat berikut. Yakni perputaran matahari dan bintang sebagai bacaan manusia akan waktu-waktu.

Tumbuhan dan pepohonan yang selalu tunduk pada-Nya sebagai bacaan atas kodrat tumbuhan yang selalu berdzikir dan mata rantai pertama yang selalu ikhlas menjadi santapan demi keberlangsungan hidup di semesta raya, dan penjelasan lainnya.

Dengan kata lain, Tuhan menciptakan semesta raya dengan penuh cinta kasih. Selain dalam surat Ar-Rahman, kata “rahman” juga banyak sekali disebutkan termasuk disebutkan berulang dalam surat pembuka Alqur’an (baca: Al-fatiha):

“Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang, segala puji milik Allah; Tuhan semesta alam, yang maha pengasih lagi maha penyayang, yang menguasai hari pembalasan, kepada-Nya kita menyembah dankepada-Nya kita meminta pertolongan, tunjukkanlah pada kami jalan yang lurus, jalan dimana orang-orang Engkau beri nikmat, bukan jalan yang Engkau murkai dan sesat.”

Kebergelimangan kasih dan sayang menjadikan alfatiha sebagai ummul qur’an alias ibu dari Alqur’an. Kasih sayang menjadi simbolitas keibuan.

Maka, dalam khazanah keislaman, kita diminta “memberikan” Al-fatiha untuk orang-orang yang kita sayangi baik yang masih hidup maupun yang sudah mati.

Guru mem-fatiha-i muridnya, kiyai mem-fatihai-i santrinya, orang tua mem-fatiha-i anaknya dan sebaliknya. Bahkan konon dalam ilmu pengasihan kita mem-fatiha-i orang yang kita cintai agar ia pun turut mencintai kita.

Dalam kajian tafsir di beberapa pesantren, ayat pertama Alfatiha atau yang lebih dikenal basmalah memberikan spesifikasi tafsir atas kasih sayang pada “kalimat” rohman dan rohim.

Rohman diyakini sebagai kasih sayang Allah untuk semesta kehidupan di dunia. Baik manusia muslim maupun non-muslim.

Sedang rohim kasih sayang Allah yang bersifat khusus di akhirat dan terkhusus golongan muslim saja. Tafsir ini menjadi doktrin keberterimaan manusia muslim dalam menyaksikan keberlimangan “bahagia” manusia non-muslim menjalani kehidupan di dunia.

 Perempuan: Makhluk Pengasih

Kasih sayang menjadi sebuah frase yang feminim. Perempuan menjadi makhluk yang identik dengan kasih sayang, terlebih ketika menjadi seorang Ibu.

Sejak kecil kita dikenalkan dengan lagu “Kasih Ibu” karangan S.M. Muchtar perihal kasih sayang yang kian kekal.

“kasih ibu, kepada beta, tak terhingga, sepanjang masa, hanya memberi, tak harap kembali, bagai sang surya, menyinari dunia”.

Muchtar berhasil memberikan definisi kasih Ibu secara sederhana; seperti surya yang tiap hari bersinar. Kita mengingat cerita termasyhur tentang Robiah Al adawiyah dan Hasan Al basyri, terjadi percakapan tentang perbedaan lelaki dan perempuan.

Bahwasannya perempuan memiliki sembilan nafsu (baca: rasa) dan satu akal (baca: pikiran). Sebaliknya untuk lelaki, satu rasa dan sembilan pikiran.

Secara logika yang paling sederhana pun perempuan memang bisa diterima sebagai makhluk pengasih. Perempuan mendapat “titipan” sifat Tuhan pada tubuhnya; rahim.

Menjaga rahim bukan perkara mudah yang bisa selesai hanya dengan berkunjung ke tempat penitipan. Rahim bakal berkembang menjadi sekolah untuk air mani yang berhasil menjadi janin.

Sembilan bulan lebih, ia bakal menjadi kepompong yang meredam percakapan bayi denganTuhan agar tak terdengar dunia luar. Maka, tak heran jika sorga dikatakan di bawah “kaki ibu” bukan “kaki bapak” walau kedua pasang kaki memijak tanah sorga yang sama.

Sayangnya, tak semua perempuan paham akan rahimnya.

Muhammad Ali Mas'ud

Muhammad Ali Mas'ud

Pengelola Buletin Aksara dan Komunitas Detak Aksara Malang. Menulis puisi dan berkuliah.

Previous post

Aksi Massa, dan Determinisme Rezim yang Berlebih

Next post

Makan Tak Makan Asal Nyirih