Locita

Menyoal Pidato Prabowo, Indonesia Bubar di 2030?

Ilustrasi (Sumber foto: sinarharapan.co)

MEDIA online tiba-tiba menjadi ramai, para pejabat dan politisi bersahut-sahutan serta pengamat sibuk bercerita, selepas akun Facebook Gerindra mengunggah pidato Prabowo. Dalam orasinya pemimpin oposisi ini menyatakan bahwa negara lain sudah memiliki kajian dan prediksi, bahwa Indonesia sudah bubar tahun 2030.

Sebagai respon terhadap pidato itu, sebagian menyatakan bahwa ungkapan Prabowo hanya sekedar peringatan saja. Di lain pihak, ada juga yang menyayangkan, sebab dapat dianggap pesimis dan dapat menurunkan elektabilitas untuk Pilpres 2019. Namun yang paling menarik adalah pertanyaan mengenai sumber kajian “negara lain” yang digunakan oleh putra ekonom Soemitro Djojohadikoesoemo tersebut.

Kebanyakan orang sadar bahwa yang disebut kajian atau studi adalah sebuah usaha sistematis dalam mengurai masalah tertentu melalui metodologi ilmiah. Karena itu, bisa dijumpai banyak Focus Group Discussion, hingga beragam penelitian. Semakin dalam sebuah kajian, semakin kompleks pula data yang dihasilkan.

Ini menjadi alasan mengapa di antara banyak lembaga riset baik yang independen ataupun bagian korporasi, hanya sedikit yang sangat populer. Rand, McKinsey, Max Planck Society dan Koninklijk Instituut voor Taal-,Land- en Volkenkunde (KITLV) adalah beberapa dari nama tersohor dan mempunyai reputasi internasional.

Namun sangat membingungkan, mengapa Prabowo tidak langsung saja menyebut sumber hasil kajian yang dikutipnya. Akibatnya banyak orang berspekulasi, dan menimbulkan keriuhan yang sebenarnya tidak perlu. Apalagi ini di tahun politik.

Beberapa Prediksi Indonesia 2030

Pada September 2012, McKinsey Global Institute merilis sebuah laporan dengan judul The Archipelago Economy: Unleashing Indonesia’s Potential. Berdasarkan data kajiannya, McKinsey menyebut Indonesia akan menempati peringkat ketujuh ekonomi dunia pada tahun 2030.

Kelas ekonomi menengah akan mencapai 135 juta jiwa serta sebanyak 71 persen orang yang tinggal di kota akan menghasilkan 86 persentase Produk Domestik Bruto (PDB) pada tahun itu.

Dan yang paling menarik, peluang pasar dalam mencapai bidang pertanian, perikanan dan jasa diperkirakan mencapai 1,8 triliun dibandingkan hanya setengah triliun saja pada waktu laporan ini dibuat.

September tahun lalu, Independent  juga merilis laporan dari Pricewaterhouse Coopers bahwa di 2030 Indonesia akan menempati pada posisi kelima ekonomi dunia. Saat itu, Indonesia bahkan diperkirakan jauh melampaui negara maju seperti Jerman Prancis dan Britania Raya. Angka PDB Indonesia menembus 5000 Dolar Amerika.

Dua prediksi diatas menggambarkan cerahnya masa depan Indonesia di tahun 2030. Alih-alih bubar , Indonesia justru mempunya harapan yang gemilang. Setidaknya dalam makro ekonominya.

Perkiraan itu bisa dipahami minimal melalui bonus demografi yang sedang melanda Indonesia. Ketika persiapan sumber daya manusia dapat terlaksana dengan baik dimana kemampuan daya saing tinggi serta penguasaan teknologi dengan mapan bukan tidak mungkin prediksi tersebut terwujud.

Ketika itu terjadi Indonesia dikatakan mampu melampaui beberapa negara maju sebab penduduk berusia produktif sedang mencapai puncaknya. Sementara di negara maju saat ini generasi produktifnya sudah mulai menurun. Sehingga angkatan kerja Indonesia dapat memaksimalkan potensi yang ada dan hal sebaliknya berlaku di negara-negara tersebut.

Belajar Kritik Konstruktif dari Faisal Basri

Beberapa prediksi majunya ekonomi Indonesia di tahun 2030, tentu menjadi perhatian para ekonom seperti Faisal Basri dari Universitas Indonesia. Bahkan dia secara khusus mempresentasikan hal ini dengan judul Indonesia Kini dan Kesiapan Menuju 2030.

Menurut Faisal Basri bahkan di tahun 2017 saja PDB Indonesia sudah tidak tertandingi di kawasan ASEAN. Sebab sudah menembus satu triliun Dolar Amerika. Dalam rentang sampai 2019, Indonesia juga akan menjadi negara kelima penyumbang pertumbuhan ekonomi dunia.

Namun Faisal Basri mengingatkan bahwa ekonomi Indonesia hanya sehat jika dilihat dari luarnya saja. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan untuk benar-benar siap menuju 2030.

Dengan mengutip data World Bank, dia mengatakan bahwa sampai medio 2017 sudah tiga tahun berturut-turut pendapat per kapita Indonesia turun. Hanya berkisar 3.400 Dolar Amerika. Indonesia besar secara PDB sebab jumlah penduduknya yang banyak. Namun apabila dihitung secara individu, Indonesia baru mencapai peringkat 116 dunia.

Dia menyarankan bahwa sebagai jalan menuju 2030 nan gemilang, Indonesia harus kembali ke jati dirinya. Budaya maritim harus diperkuat. Menjadikan laut sebagai faktor pengintegrasi perekonomian nasional.

Selain itu pertanian juga harus direvitalisasi melalui mekanisasi dan industrialiasi pedesaan. Termasuk juga menjadikan budaya sebagai basis industri.

Membangun Bersama-sama, Jangan Saling Menakuti

Perihal ekonomi sengaja disampaikan, karena faktor itulah yang banyak menyebabkan kekacauan sebuah bangsa. Mulai dari sekedar demonstrasi rusuh hingga perang saudara karena berebut sumber daya material.

Sebenarnya Prabowo selaku pimpinan oposisi mampu melakukan kritiknya terhadap pemerintah dengan rujukan yang jelas. Termasuk juga bidang mana yang berpotensi mengancam keutuhan Republik ini.

Apakah Indonesia akan hilang karena faktor geopolitik berupa pertarungan negara adidaya, ataukah potensi perang sipil yang muncul dihadapan mata akibat massifnya informasi hoaks bin provokatif.

Kalau mau lebih jauh tawarkan program tandingan kepada pemerintah untuk menjaga supaya itu tidak terjadi.  Jadi jangan menakuti masyarakat dengan retorika menarik tanpa data yang konkrit.

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Pengamat Psikologi Sosial dan Penikmat Studi Islam

Add comment

Tentang Penulis

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Pengamat Psikologi Sosial dan Penikmat Studi Islam

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.