Locita

Menyelamatkan Indonesia dari Difteri Bukan Hanya Lewat Vaksin

INDONESIA darurat difteri. Kementerian Kesehatan bahkan sudah menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) karena penyakit yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium Diptheriae ini telah menelan puluhan korban jiwa.

Seperti dilansir oleh BBC, data Kementerian Kesehatan menujukkan sampai dengan November 2017, ada 95 kabupaten dan kota dari 20 provinsi yang mencatat pasien dengan kasus difteri.

Secara umum, terdapat 622 kasus, 32 diantaranya meninggal dunia. Sementara pada kurun waktu Oktober hingga November 2017, ada 11 Provinsi yang melaporkan terjadinya KLB difteri, seperti di Sumatra Barat, Jawa Tengah, Aceh, Sumatra Selatan, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Riau, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Timur.

Indonesia Pernah Selamat Dari Difteri

Difteri adalah penyakit akut yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae. Nama penyakit ini berasal dari bahasa Yunani, yang berarti tersembunyi di balik kulit. Lantas, penyakit ini dijelaskan pada abad ke 5 SM oleh Hippocrates, dan penyebarannnya dapat dijelaskan pada abad ke 6 Masehi oleh Aetius. Difteri ini menyerang anak-anak.

Dunia sudah merekam bagaimana penyakit ini menjadi momok bagi masyarakat. Semua tercatat dimulai pada tahun 1613, di mana anak-anak di Spanyol menjadi korbannya. Hingga saat itu disebutkan istilah El Año de los Garrotillos—tahun yang mencekik. Di Negeri Paman Sam, Difteria itu pernah lebih mencekik lagi. Tahun 1920-an, difteri menjadikan sekitar 100 ribu hingga 200 ribu anak, dengan kematian sebanyak 13 ribu hingga 15 ribu anak per tahun.

Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan, sejak tahun 1990-an, kasus difteri di Indonesia ini sudah hampir tidak ada dan baru muncul lagi pada tahun 2009. Entah mengapa, di tahun 2017 ini, penyakit ini merebak kembali. Menariknya fenomena ini terjadi di beberapa negara berkembang  dalam setahun ini, sebut saja Venezuela, Yaman, hingga yang terbaru para pengungsi Rohingya di Bangladesh. Kesemua negara itu hampir memiliki kesamaan: sanitasi yang buruk dan gejolak sosial politik.

Dari Masalah Kependudukan Hingga GERMAS

Betul, vaksin adalah salah satu opsi terbaik dari menghantam kehadiran penyakit yang disebabkan bakteri ini. Posisi saya jelas bahwa vaksinasi merupakan fardhu ain untuk semua.

Sayangnya, Isu vaksin bisa dibilang cukup sensitif di beberapa kalangan. Bahkan publik figur seperti Oki Setiana Dewi salah seorang diantara yang menolak vaksin. Di linimasa mudah ditemukan perdebatan vaksin dan anti vaksin, salah satunya adalah kerusakan otak yang disebabkan oleh vaksin DPT ini. Isu vaksinasi sering dihungkan dengan isu agama.

Kesan yang timbul saat pemerintah menggalakkan program imunisasi untuk difteri ini layaknya blame the victim, menyalahkan atas apa yang terjadi atas mereka yang menolak atau belum melakukan imunisasi DPT. Untuk menjembatani itu tentu diperlukan strategi komunikasi yang efektif. Pengetahuan imunisasi tentu perlu diberikan kepada masyarakat awam, dengan menggunakan para tokoh-tokoh masyarakat—salah satunya adalah tokoh agama.

Selain dari vaksinasi, perlu dilihat bahwa difteri ini dibawa oleh bakteri, Corynebacterium Diptheriae. Prinsipnya, bakteri ini hidup di dalam lingkungan dan medium yang memungkinkan untuk berkembang biak. Keberlangsungan bakteri sebagai patogen ini tergantung pada host (kekebalan tubuh individu) dan environment (lingkungan).

Terlepas dari faktor epidemik alias penyebaran penyakit ini yang masih belum jelas. Asumsi besar bahwa penyebaran penyakit ini yang melalui udara, di mana udara ini dapat masuk ke segala macam medium: air, makanan, dan lain sebagainya.

GP Talwar dalam bukunya, Progress in Vaccinology menduga bahwa difteri ini disebabkan oleh kepadatan penduduk. Kepadatan penduduk ini utamanya terjadi di kawasan urban; di mana sanitasi, kemiskinan menjadi problem.

Hal yang serupa juga diamati oleh Artur Galazka dan Sieghart Dittman. Dia meneliti bagaimana perubahan pola penyebaran penyakit ini di era vaksinasi merebak. Nyatanya, di tahun 1989, Lesotho dan Algeria yang telah memasifkan imunisasi kepada warganya, masih juga ditemukan outbreak difteri. Bahkan Rusia di tahun 90-an (setelah runtuhnya Uni Soviet), difteri menyebar kembali, dua dekade setelah program imunisasi anak dilakukan secara massal.

Temuan dari kembalinya sang difteri di tanah Balkan itu adalah saat dimana girah urbanisasi—juga kepadatan penduduk—dan kurang higienisnya gaya hidup juga sanitasi yang buruk warga di sana. Fenomena ini hampir sama dengan di Indonesia, di mana KLB ditemukan pada provinsi-provinsi dengan populasi padat penduduk.

Dari fenomena itu, seharusnya pencegahan difteri ini harusnya diikuti dengan program Gerakan Masyarakat Sehat GERMAS yang dicanangkan oleh pemerintah saat ini. Gerakan ini harusnya berpadu dengan vaksinasi massal yang dilakukan, terlebih GERMAS ini memang fokus di ranah promotif dan preventif.

Lebih dari itu kenyataannya bahwa Difteri ini adalah isu multi sektor, bukan hanya isu kesehatan. Epidemik ini adalah isu sosial, budaya, agama yang membutuhkan penyelesaian secara holistik. Okelah, hari ini mungkin kita bisa saja membasmi penyakit ini, tapi entah apa dia datang kembali. Yang pasti kita harus siap kala itu.

Dhihram Tenrisau

Dhihram Tenrisau

Dokter gigi di klinik BPJS

Tentang Penulis

Dhihram Tenrisau

Dhihram Tenrisau

Dokter gigi di klinik BPJS

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.