Locita

Menunggu Gebrakan Jokowi

Ilustrasi: Luki Ahmadi Hari Wardoyo

Putusan Mahkamah Konstitusi [MK] telah usai, seluruh gugatan  Badan Pemenangan  Nasional [BPN] Probowo-Sandi, ditolak secara keseluruhan. Diktum kemenangan dan kekalahan lewat pidato disorakkan kedua kubu; Jokowi-Makruf menyerukan persatuan Indonesia dan Prabowo-Sandi separuh hati menerima kekalahan, menanti jalan hukum yang lain. Polemik pun,  tidak pernah minggat di kepala para cebong dan kampret, mereka masih membelah diri : kebenaran kampret dan kebenaran cebong. Publik tetap disuguhkan menu hiburan yang menduri [sarkastis] : ejekan, sinis, lelucon, hoax, dan klaim “kebenaran dan kepahlawanan” sebagai santapan paling lezat dan menggiurkan.

Panggung publik adalah pentas politik yang tidak berkesudahan dan persilatan kepentingan. Riak membangun Indonesia hanya sekadar jualan politik. Dari debat calon presiden [capres] sampai drama di MK, tidak satu pun calon presiden menunjukkan gagasan kebangsaan membangun Indonesia, mereka hanya mendebatkan teknikalisasi penyelesaian masalah lingkungan, kesehatan, pendidikan, ekonomi, dan kebudayaan. Emil Salim (Mitchel, Setiawan, Rahmi 2000) mengibaratkan Indonesia sebagai kapal yang segera berlayar. Tapi, kapalnya masih dirakit. Emil Salim ingin menegaskan bahwa kita telat berpikir dalam merespons berbagai persoalan dan masalah kebangsaan.

Pemimpin yang terpilih pun dituntut memberikan gebrakan dalam membangun Indonesia. Pemimpin yang baru berasa lama [Jokowi-Ma’aruf], harus menghadirkan konsep baru dalam membangun Indonesia pasca gagasan nawacita dan revolusi mental. Setelah ini,  apalagi ? apakah Indonesia sekadar wahana pembangunan infrastruktur atau panggung politik ? rakyat Indonesia menanti Indonesia yang baru di tengah geliat serba gawai, internet, dan kecerdasan artifisial [society 4.0 dan 5.0]. Di tengah perubahan yang berlangsung cepat dan permasalahan yang kompleks, rakyat membutuhkan kehadiran negara di tengah kesulitan yang mereka hadapi.

Pemimpin terpilih perlu melakukan gebrakan menyongsong Indonesia yang lebih baik. Gebrakan tersebut untuk menjawab keraguan publik, Jokowi yang dianggap gagal membangun Indonesia. Langkah progres itu untuk menjawab keraguan tersebut Jokowi-Ma’aruf harus melakukan langkah berikut dalam menjalankan tugas awalnya :

Langkah pertama yang harus dilakukan pemimpin terpilih mempertahankan perombakan keseluruhan kabinet dengan menempatkan para kaum muda. Indonesia butuh penyegaran dari kaum tua dengan gagasan yang usang. Saatnya, yang muda, yang berkarya dengan ide-ide yang baru, khususnya dari kalangan profesional.

Langkah kedua penguatan sumber daya manusia dengan mendorong inovasi teknologi, peningkatan pemberian beasiswa kepada para pelajar Indonesia, peningkatan hasil riset dan implementasinya,  peningkatan pemberdayaan masyarakat, penguatan kearifan lokal, peningkatan kapasitas adaptasi teknologi, dan pembukaan lapangan pekerjaan.

Langkah ketiga revolusi pertanian, langkah ini saya kira sangat penting, mengingat bahwa pertanian menyangkut hajat hidup orang banyak, dan keberlangsungan suatu bangsa. Indonesia sebagai negara agraris dan maritim. Seharusnya, menjadi kiblat ketahanan pangan yang menyediakan pangan secara mandiri bagi rakyatnya. Perlu menghadirkan gebrakan kebijakan yang membumi dan berpihak pada para petani Indonesia.

Tugas utama pemimpin yang terpilih mengembalikan para pemuda Indonesia untuk bertani dan memutarbalikkan stigma negatif status para petani sebagai profesi rendahan. Langkah tersebut ditempuh melalui revolusi pertanian dengan menghadirkan sistem pertanian yang baru dengan teknologi terbarukan mulai dari hulu sampai hilir [persiapan lahan, penggarapan, pemeliharaan, pemanenan, dan pengelolaan], yang selama ini dilakukan dengan serba traktorisasi, pajaleisme, dan koorporatisasi].

Pada revolusi pertanian kali ini, pemerintah harus menghadirkan komputerisasi pertanian dan pengembangan usaha tani dikelola secara rumah tangga. Komputerisasi pertanian dilakukan melalui pemanfaatan gawai atau komputer dalam menjalankan teknologi pertanian, misalnya traktor yang dikendalikan sistem komputer, pembibitan, pemupukan, dan penyemprotan dibantu dengan drone. Program itu bisa diimplementasikan melalui satu drone satu kelompok tani. Drone hanya satu dari sekian banyak teknologi yang harus diberikan kepada petani.

Langkah keempat adalah pengentasan kemiskinan, ketimpangan, dan pengangguran. Permasalahan ini merupakan masalah paling klasik yang tidak kunjung teratasi dari masa ke masa dan tetap jadi jualan politik. Permasalahan ini kita menanti gebrakan Jokowi-Ma’aruf dalam menangani kemiskinan dan pengangguran seusai janji Jokowi – Ma’aruf, pemberian gaji atau tunjangan bagi pengangguran.

Sekiranya, paket gebrakan ini perlu dilakukan untuk menyegarkan pikiran publik dari debat yang menjenuhkan kalangan Cebong dan Kampret. Indonesia bukan hanya panggung mereka, Indonesia perlu penyegaran wacana dengan Indonesia membangun.

sampean Dali

Penyuka bacaan filsafat, sosial, dan budaya.

Add comment

Tentang Penulis

sampean Dali

Penyuka bacaan filsafat, sosial, dan budaya.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.