Locita

Menolak Jenazah

Kyai Saleh terkesiap membaca pesan singkat di ponselnya.

Kabar duka menghampirnya di pagi hari. Daeng Jarre, salah seorang pedagang sukses meninggal dunia. Setahu Kyai Saleh, Daeng Jarre memang telah menderita penyakit paru beberapa tahun belakangan.

Sepulang umrah, Daeng Jarre mengalami demam dan dibawa ke rumah sakit. Hanya beberapa hari di rumah sakit, Daeng Jarre meninggal dunia. Kabar media menyebutkan, Daeng Jarre terkena Covid-19.

Daeng Jarre pernah tinggal di Kampung Kalimana dan menjadi salah satu satu santri awal Kyai Saleh. Beberapa tahun belakangan, Daeng Jarre pindah ke perumahan pinggiran kota. Meski telah pindah, namun Daeng Jarre tak pernah melupakan Kampung Kalimana. Daeng Jarre rutin mengirimkan beras dan bantuan lain kepada Kyai Saleh.

Inna lillah wa inna ilaihi rajiun” ucap Kyai Saleh lirih. Selarik doa dilantunkan pelan. Doa pengharapan untuk menemani perjalanan Daeng Jarre menuju titian untuk kembali ke Tuhan, setelah 50 tahun lebih menikmati hidup sebagai manusia bumi.

Kring kring kring ! Ponsel Kyai Saleh berdering. Dahinya mengkerut. Panggilan yang datang berasal dari nomor atasnama Daeng Jarre.

“Assalamu alaikum!” Sapa Kyai Saleh dengan pelan.

“Wa alaikum salam. Tabe kyai. Saya Aisyah, anaknya Daeng Jarre. Bisaki datang shalati jenazahnya tetta-ku. Ini pesannya dulu. Kalau dia meninggal dunia dan Kyai masih hidup. Dia ingin jenazahnya diimami oleh pak Kyai.”

Kyai Saleh hanya terdiam sejenak. Tarikan nafasnya terdengar berat.

“Baiklah. Tungguma! Sudah ada kah jenazah di rumah?”

“Sedang menuju dari rumah sakit, Kyai!”

Kyai Saleh lalu meminta Sampara memanggil Tesa untuk menemaninya ke rumah Daeng Jarre.

******
Jenazah yang ditunggu telah tiba. Tangisan keluarga Daeng Jarre pecah. Mereka bersedih karena tidak bisa melihat wajah Daeng Jarre untuk terakhir kali. Berdasarkan penjelasan pihak rumah sakit, peti mati Daeng Jarre tidak boleh dibuka. Untuk menghindari penularan virus kepada keluarga.

Rumah Daeng Jarre cukup luas. Peti jenazah diletakkan di ruang tengah, yang sejak tadi telah dikosongkan. Kyai Saleh meminta orang-orang yang ikut salat tidak lebih dari 10 orang dan mengatur jarak. Kyai Saleh segera memimpin Salat Jenazah. Tesa dan Sampara menunggu Kyai Saleh di area parkir, sesuai dengan perintah sang Kyai.

Usai salat Jenazah, ambulans segera membawa jenazah ke areal pekuburan. Kyai Saleh ikut dalam iringan. Tidak seperti biasanya, iringan jenazah hanya tiga mobil. Mobil jenazah, mobil anak Daeng Jarre, dan mobil tua Kyai Saleh.

Menjelang area pekuburan, laju mobil ambulans tiba-tiba berhenti. Sekelompok warga menghadang. Tesa hampir saja kehilangan kendali. Untung saja, dia dengan sigap menginjak rem ketika mobil di depannya mendadak berhenti. Tubuh Kyai Saleh tersentak ke depan.

“Ada apa Tesa?”

“Berhenti mendadak mobil depanta, Kyai.”

Kyai Saleh segera turun melihat situasi. Tampak serombongan orang menghadang laju mobil ambulans.

Mereka berteriak keras.

“Kami tidak mau di sini dikuburkan itu orang yang kena corona!” Salah seorang pria berteriak keras.

“Iya. Iya! Kami tidak mau ikut kena celaka di sini.” Satu suara menyusul

“Betul. Kalau kalian mau bawa ke tempat lain. Pokoknya kami tidak mau ada persoalan di tempat tinggal kami.” Suara lain ikut meriuh. Suasana menjadi tidak terkendali.

Supir ambulans bingung. Kemarahan warga membuat nyalinya ciut.

Kyai Saleh mendekati kerumunan warga.

“Ada apa ini?”

Salah seorang warga menjelaskan alasan penolakannya.

“Saudaraku semua. Mayat ini harus segera dikuburkan. Kalau tidak justru itu bisa membawa malapetaka yang lebih besar.”

“Kalau bapak mau kuburkan, bawa ke tempat lain. Kami tidak mau dikuburkan disini. Bapak enak bicara. Kalau kami kena virus, siapa yang mau tanggung jawab.” Salah seorang warga menyanggah Kyai Saleh.

Anak Daeng Jarre tak kuasa menahan air mata. Dia sangat sedih dengan nasib ayahnya. Entah dosa apa yang dilakukannya hingga sulit dikuburkan.

“Saudaraku. Dalam hadis Nabi disebutkan, orang yang meninggal dalam wabah penyakit adalah seorang mati syahid. Nabi memberi penghargaan yang tinggi kepada jenazah yang terkena wabah, mengapa kalian menolaknya?”

Warga terdiam mendengar penjelasan Kyai Saleh.

“Begini, pak. Kami hanya menyelamatkan diri kami. Kami tidak mau terkena virus corona.”

“Darimana kalian bisa yakin virus ini menular dari orang meninggal. Bukankah orang meninggal tidak bisa lagi bersin?” Kata Kyai Saleh.

“Tapi ada yang bilang, bisa menular lewat tanah.”

“Kalian jangan cepat menyimpulkan karena dugaan. Ini petugas rumah sakit bisa jelaskan.” Kata Kyai Saleh sembari meminta kode kepada petugas dari rumah sakit yang mendampingi mayat itu.

“Begini, bapak. Mayat ini dimakamkan sesuai dengan standar kesehatan. Setelah dikafani, mayatnya dibungkus plastik dan dibuatkan peti. Berdasarkan standar kesehatan, virus ini tidak bisa menembus plastik. Dan, setelah dikuburkan justru lebih aman karena virus tidak bisa menembus lewat tanah dan virus juga akan hancur dalam waktu beberapa hari, karena tubuh manusia yang meninggal akan membeku kaku dan perlahan-lahan hancur. Tidak akan ada virus yang menyebar ketika sudah dikuburkan.”

Warga yang menghadang mulai kehilangan kata-kata. Tetapi mereka tampaknya masih enggan memberi jalan.

“Saudaraku. Islam sangat menghormati manusia. Ketika seorang meninggal dunia, kita diminta menghormati dan menghibur keluargnya. Keluarga yang ditinggalkan sudah sangat bersedih. Mereka bersedih karena tidak bisa melihat wajah orang yang disayangi. Sekarang mereka sedih karena kita memperlakukannya seperti kutukan. Virus ini bukan kutukan. Ini adalah penyakit yang mengintai kita semua. Saya paham mengapa bapak-bapak menolak? Tetapi percayalah, rumah sakit telah memperhitungkan itu semua.”

“Kami belum yakin, pak”

“Begini. Mengapa kalian percaya ada corona?” Tanya Kyai Saleh dengan nada memancing.

“Karena ada kejadiannya pak. Ada beritanya, banyak juga orang yang kena di rumah sakit. Setiap saat di media sosial, ada beritanya.”

“Bagaimana cara menghindarinya?”

“Rajin-rajin cuci tangan, pakai masker, dan tidak boleh bersentuhan.”

“Darimana bapak bisa tahu itu cara untuk menghindarinya?”

“Deeh, pak. Banyaknyami penjelasan tentang itu semua.”

Kyai Saleh mengangguk-angguk.

“Lalu, adakah dokter atau siapa saja di media sosial yang pernah bilang kalau korona bisa menular lewat tanah?”

“Tidak ada, Pak!”

“Lalu, kenapa kalian menolak dikuburkan.”

“Karena dekatmi dari kami pak. Kami takut!”

“Itu dia. Penyakit ini telah menimbulkan ketakutan berlebihan. Hingga membuat banyak orang tidak bisa berfikir. Bapak-bapak semua. Penjelasan dari pihak rumah sakit sudah jelas. Jenazah orang yang positif corona tidak akan menulari kalau sudah dikuburkan karena semuanya dikremasi sesuai dengan standar rumah sakit.”

Para warga yang menghadang terdiam.

“Saudaraku, virus ini telah membuat kita kehilangan banyak hal. Kita kehilangan kerabat. Kita kehilangan pekerjaan. Jangan sampai kita juga kehilangan rasa kemanusiaan. Kalau itu terjadi, ini tragedi yang jauh lebih buruk daripada virus itu sendiri.”

Setelah tidak punya lagi alasan, warga akhirnya berkenan membuka blockade dan membiarkan ambulans masuk ke area pekuburan.

******

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

Tentang Penulis

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.