EsaiFeatured

Menjaga Pikiran dari Otak Mesum dan Sok Moralis

AL-ARIQY, seorang mahasiswa dari Yaman, menjabat tangan seorang rekannya dari Arab selepas Salat Jumat. Lalu mereka saling cipika cipiki disertai dengan sedikit bunyi kecupan. Bukan cuma ia, jemaah lain yang mayoritas dari negeri Timur Tengah melakukan hal yang sama. Kedua pipi yang brewok itu saling ditempelkan. Saling berpegangan tangan cukup lama sambil berbincang,

“Masya Allah….Masya Allah….”

Seringkali diselingi tawa.

Mohamed, teman akrab saya dari Mesir, jika ketemu dengan saya juga merangkul dan berjalan sambil memegang tangan saya, bertanya banyak hal tentang kabar dan studi saya.

Ia juga sering memanggil “Dear” baik ketika bicara langsung atau lewat teks di sosial media. “Dear, saudara-saudara” yang artinya “Sayang”.

Kebiasaan ini saya pelajari ketika baru tiba terutama saat Salat Idul Adha. Mereka saling cipika cipiki dan berpegangan tangan cukup lama saat berjumpa. Semakin akrab, nampaknya semakin lama pula mereka berpelukan.

Di kampus saya, cukup banyak mahasiswa dari negara-negara dari Arab. Masjid kecil di dekat apartemen dibuat oleh mahasiswa dari Arab. Saya sering salat disitu sebab jadwal kuliah selalu bertabrakan dengan jadwal di masjid besar yang agak jauh. Alhasil sayapun tak seutuhnya paham dengan isi kutbah yang seluruhnya berbahasa Arab. Sisi baiknya, saya semakin tahu budaya cipika dan cipiki dan bergandengan tangan sebagai bagian dari budaya Arab.

Tak terbayangkan jika seandainya ada seorang yang mudah berpiktor (pikiran kotor), mungkin dari negeri yang jauh itu, merekam dan memposting beritanya di sosial media. Apalagi jika kameranya berhasil merekam saya sedang bergandengan tangan dengan teman lelaki dari Mesir.

Video cipika dan cipika dan bergandengan tangan akan dishare oleh akun sosial media. Akan muncul di Instagram dan dipelopori oleh akun @muslimfact, ‘Astagfirullah….Kiamat sudah dekat.” Lalu, muncul juga di Youtube, “Asu!Bangsat!”

Dan tak ada yang lebih celaka jika video itu hanya menyorot saya. Bertebaranlah media-media online dengan judul-judul provokasi.

“Seorang mahasiswa Indonesia bernama Arief Balla ditemukan berpegangan tangan dengan sesama pria. Diduga ia gay.” Media online berikutnya akan memuat lagi, “Terciduk, seorang Indonesia kedapatan begitu….Astagfirullah.” Datang lagi media online abal-abal, “Ternyata Arief Balla yang ditemukan gay itu adalah alumni UIN Alauddin. Begini ternyata alumni UIN…” Media lebih abal-abal lagi menulis, “Astagfirullah, seorang gay ditemukan begituan di dalam salah satu masjid di Amerika.”

Berita-berita itupun menggelinding hebat. Dibagikan sepuas-puasnya disertai berbagai caption. Barisan pembenci Jokowi akan menulis, “Ini semua salah Jokowi”. Barisan pendukung khilafah akan mencak-mencak, “Beginilah akibat demokrasi, pemerintahan thogut. Solusinya hanya satu, khilafah”. Caption lainnya akan menulis, “Amrik telah berhasil menyebarkan propaganda LGBT secara masif dan sistematis.”

Tapi yah, upaya untuk menanamkan kepercayaan LGBT sebagai sebuah hal normal bahkan harus dihormati akan selalu disebarkan oleh mereka yang mengakomodir LGBT.

Di sebuah materi, ajakan untuk menerima perbedaan orientasi seks termasuk gay dan lesbian akan digaungkan. Saya dan bersama beberapa teman Afghanistan dengan mudah menangkap ini sebagai upaya menyebarkan paham LGBT. Istilah kerennya brain wash.

Hanya saja, kami juga tak sebodoh itu. Maka materi tersebut hanya masuk di telinga kiri dan keluar di telinga kanan. Perihal menghormati mereka sebagai manusia yes. Kita harus melihatnya sebagai manusia bukan sebagai setan yang patut dicaci maki.

Walau begitu tak ada tempat untuk memberikan ruang, baik dilihat segi agama maupun kesehatan. Isu-isu LGBT harus dikritisi tapi bukan berarti kita menjadi bego dan main serang seenak perut. Hanya dengan bermodalkan desas desus dan sebuah gambar disertai sebaris kalimat provokasi di social media.

Kasus persekusi yang dialami oleh sepasang kekasih beberapa waktu lalu ternyata tak cukup membuat kita belajar. Mereka harus menanggung malu ditelanjangi warga dipimpin oleh ketua RT-nya sendiri dengan dalih yang mereka tidak lakukan.

Mereka yang berotak mesum memaksa membuka bajunya sampai nyaris telanjang. Barangkali hanya untuk memuaskan nafsu birahinya melihat payudara atau bahkan menyentuhnya dengan didorong-dorong. Apa bedanya isi otaknya dengan otak binatang yang hanya penuh nafsu?

Tetapi barangkali memang sebagian dari kita otaknya sudah mesum sejak dari alam pikiran. Saat saya mengupload foto bersama teman-teman mahasiswa Amrik dengan pakaian yang sama sekali tidak seksi.

Ada saja teman yang berkomentar tanpa malu, “Wah anunya besar bro. Lahannya besar yahh.” Dan ia adalah lelaki yang biasa menulis status penuh kata-kata Islami.

Saat mereka tahu musim panas dimana banyak mahasiswi berpakaian seksi, ada saja yang berkata, “Wah asik dong bisa lihat paha dan dada gratis.” Nyatanya tidak semudah itu.

Kampus sangat melindungi mahasiswa, baik cowok atau cewek, bahkan dilindungi undang-undang. Perempuan yang merasa dilecehkan walau sekedar ditatap punya hak melaporkan ke pihak berwenang dan akan diproses pidana.

Sebaliknya di tanah air, kita dengan bebasnya menatap tubuh perempuan. Tak perlu khwatir. Kalaupun perempuan melapor, yang salah adalah perempuan apalagi jika dianggap berpakaian seksi. Tak heran jika meskipun perempuannya berhijab, otak laki-lakinya tetap saja ngeres.

Dalam hal melindungi perempuan, saya kira kampus-kampus di Indonesia mesti belajar dari kampus-kampus Amrik. Tetapi tentu saja tidak dalam menyepakati LGBT. Agama dan budaya Indonesia tidak akan cocok dengan LGBT.

Maka peliharalah pikiran yang jernih tanpa penuh buruk sangka, seenaknya menuduh dan memfitnah. LGBT sama menjijikkannya dengan otak mesum.

Arief Balla

Arief Balla

Sedang menempuh studi master TESOL and Applied Linguistics di Southern Illinois University Carbondale, Amerika Serikat dengan beasiswa Fulbright.

Previous post

Berkat Jadi Korban Tukang Gigi, Sukses Jadi Model

Next post

Parpol, Direkrut atau Merekrut?