Locita

Menguji Dua Keistimewaan: Tionghoa dan Yogyakarta

Ilustrasi: Luki Ahmadi Hari Wardoyo

PUTUSAN majelis hakim Pengadilan Negeri Yogyakarta yang menolak gugatan Handoko patut kita renungkan. Pengacara muda berdarah Tionghoa ini mencoba merobohkan sekat diskriminasi kepemilikan tanah di kota suci peradaban Jawa. Etnis Tionghoa yang hidup di Yogya memang “istimewa” karena menjadi satu-satunya kelompok yang tidak boleh memiliki hak atas tanah.

Rekaman historik menunjukan, elit Yogyakarta menyematkan “keistimewaan” bagi Tionghoa didasarkan atas tindakan masa lalu sekelompok orang Tionghoa yang dianggap membantu musuh Republik. Jika dosa Tertuduh 65 pernah diwariskan pada keturunannya dan sekarang mulai dikikis, maka Tionghoa di daerah ini tetap harus memikul dosa orang yang sama etnisnya.

“Keistimewaan” Tionghoa Yogyakarta juga dibalut oleh sebuah prasangka jahat yang menyebar luas; bahwa etnis ini tergolong sebagai manusia rakus bin tamak. Jika dibiarkan punya hak, bisa jadi seluruh tanah Yogyakarta akan dikuasainya.

Prasangka dan stereotipe ini sangat berbau Orde Baru. Prasangka ini, sekali lagi, mengingatkan saya pada kegusaran Pangeran Diponegoro terhadap seorang perempuan yang memijitinya malam hari sebelum turun di medan perang. Amoy Tionghoa ini dianggap sebagai penyebab kekalahan Diponegoro di pertempuran Gowok. Pria ini kemudian melarang seluruh pasukannya berelasi dengan perempuan Tionghoa. Pembawa sial, katanya (Carey, 2011).

Yogyakarta memang berstatus sebagai daerah istimewa. Saking istimewanya, para aktifis SDA yang biasanya aktif membela hak tanah di Kulonprogo dalam pembangunan bandara menjadi keki. Juga, lidah para aktifis lintas iman dan etnis kota ini seperti kelu menyerukan pembelaan.

Sangat mungkin mereka masih belum lurus logika berfikirnya dalam memaknai diskriminasi; masih bias etnis. Atau, jangan-jangan mereka ikut-ikutan galau terusir dari Yogya, sebagaimana ultimatum KRT Poerbokusumo, cucu Hamengkubuwono VIII di BBC,”Kita akan turun ke jalan. Kalau perlu kita akan usir dari Jogja.”

Mereka sepertinya telah nyaman berlindung dibalik status keistimewaan provinsial yang dimiliki Yogyakarta.

“An, aku bisa memahami kenapa hakim menolak gugatan Hartono. Yogya punya keistimewaan, seperti halnya Aceh. Jadi menurutku putusan hakim bisa dipahami,” kata seorang kawan aktivis. Saya cukup terperanjat mendengarnya.

Ya, Aceh memang memiliki keistimewaan sebagaimana Yogya. Di kawasan ini, kelompok minoritas agama (non-muslim) serasa hidup pada zaman kegelapan, berstatus dhimmi — label non-muslim di wilayah kekuasaan Islam.

Status yang artinya “terlindungi” ini mendorong non-muslim di Aceh terlucuti hak politiknya. Jabatan publik yang awalnya bisa diduduki siapa saja tanpa membedakan agama, sebagaimana jaminan konstitusi, kini bubrah atas nama keistimewaan. Bagaimana mungkin non-muslim dapat menduduki puncak jabatan publik  jika ada syarat mampu baca Al-Quran?

Keistimewaan bagi Aceh dan Yogya adalah serasa duri bagi konstitusi negara ini. Alih-alih digunakan untuk lebih mempromosikan kesetaraan dan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia, status ini justru mengamputasinya, secara kasat mata.

Kita barangkali bisa berdebat panjang mengenai hal ini. Namun, keistimewaan dalam konteks dua provinsi ini mengandung kuasa gelap; superioritas agama/etnis tertentu atas agama/etnis yang lain.

Sebagai pengagum Gus Dur, saya diajari untuk tunduk pada keadilan dan kesetaraan. Pun, Islam telah mewanti-wanti agar tidak memperlakukan orang lain secara tidak adil, hanya karena alasan kebencian.

Dalam kehidupan berbangsa yang beridentitas majemuk, Islam tidaklah boleh merasa tinggi hati, mengklaim dirinya lebih unggul ketimbang agama atau kepercayaan lain. Etnis non-Tionghoa juga akan nampak rendah diri jika terus-terusan memaksa Tionghoa mengakui keunggulan mereka dengan cara sewenang-wenang.

Dulu, saya meyakini keunggulan bangsa Aria yang ditegakkan Hitler dengan sokongan militer telah lama terkubur. Kini keyakinan itu diuji lagi oleh status “keistimewaan” Tionghoa dalam keistimewaan Yogya.

Aan Anshori

Kordinator Jaringan Islam Antidiskriminasi (JIAD), tengah nyantri di S2 Hukum Keluarga Islam Univ. Hasyim Asy'ari Tebuireng Jombang, twitter @aananshori

14 comments

  • Heya just wanted to give you a brief heads up and let you know a few of the pictures aren’t loading correctly. I’m not sure why but I think its a linking issue. I’ve tried it in two different internet browsers and both show the same outcome.

  • I simply want to tell you that I am just very new to blogging and site-building and definitely enjoyed your web page. Almost certainly I’m going to bookmark your blog . You actually have beneficial posts. Many thanks for sharing your blog site.

  • Hey there! Quick question that’s totally off topic. Do you know how to make your site mobile friendly? My site looks weird when viewing from my iphone. I’m trying to find a template or plugin that might be able to resolve this issue. If you have any suggestions, please share. Cheers!

  • I’m not that much of a online reader to be honest but your sites really nice, keep it up! I’ll go ahead and bookmark your site to come back later. All the best

  • Just desire to say your article is as astounding. The clarity in your post is just excellent and i could assume you are an expert on this subject. Well with your permission allow me to grab your RSS feed to keep updated with forthcoming post. Thanks a million and please carry on the enjoyable work.

  • There are some interesting cut-off dates on this article but I don know if I see all of them center to heart. There is some validity however I will take maintain opinion until I look into it further. Good article , thanks and we want extra! Added to FeedBurner as effectively

  • WordPress is up and running on my host — but it completely mismatches my site’s existing theme/CSS. How hard would it be to modify/write a new theme to make it fit in? Is there an easier way to do this?.

  • I have actually come across blogs as well as kind of recognize what they are. My inquiry is what do you create on a blog site, like things thats on your mind or just whatever? As well as what websites can i logon to to start blog sites?.

  • I am helping some buddies obtain their shop on the map as well as saw. They have a website. One of the methods my research study to maximize a website is to use a blog. I am not blog savvy and also neither are they so require a little aid as to great sites to position there blog site to make sure that they obtain discovered.

Tentang Penulis

Aan Anshori

Kordinator Jaringan Islam Antidiskriminasi (JIAD), tengah nyantri di S2 Hukum Keluarga Islam Univ. Hasyim Asy'ari Tebuireng Jombang, twitter @aananshori

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.