Locita

Mengenakan Pakaian Traditional pada Perayaan Halloween, Etiskah? Kostum tradisional harus dikenakan sesuai dengan konteksnya

Mita, teman saya, sedang berjalan-jalan di New York ketika bertepatan dengan perayaan Halloween tahun lalu. Dilihatnya seorang Indonesia yang sedang mengenakan baju traditional Jawa ketika mengikuti perayaan Halloween. Dan Mita bertanya tepatkah baju tradisional dari etnik/suku tertentu dipakai dalam acara tertentu seperti Halloween?

Apa yang disaksikan dan menggelisahkan Mita, sebenarnya, juga telah lama menjadi satu isu identitas etnik di Amerika Serikat. Tahun 2011, Ohio University membuat poster kampanye berjudul “ We’re a culture, not a costume.”

Kampanye ini kemudian diikuti University of Colorado Boulder, the University of Oregon, dan the University of Denver, yang bahkan kemudian ditindaklanjuti dengan program training agar memahami lebih jauh tentang isu sensitivitas ini.

“A culture, not a costume” kemudian menjadi salah satu artikel di laman The Washington Post. Halloween memang sangat ikonik dengan penampilan kostum. Kostum yang biasa digunakan selalu kostum yang menampilkan penampakan seram atau menakutkan.

Biasa pula kostum tokoh-tokoh di film seperti Harry Potter. Atau dalam konteks kekinian, wajah Joker menjadi salah satu kostum favorit.
Meski kesannya menakut-nakuti, mengenakan kostum seperti itu pada saat Halloween sekedar untuk lucu-lucuan alih-alih benar-benar menakut-nakutkan. Justru sebaliknya momen-momen Halloween selalu dinantikan, terutama anak-anak, karena mereka bisa meminta permen, cokelat, atau hadiah lainnya dari tetangga atau dari orang lain.

Dua tahun tinggal di Amerika Serikat dan merasakan suasana Halloween juga memberikan kesan tersendiri bagi saya. Ketika hari Halloween tiba, yang biasanya jatuh pada 31 Oktober, beberapa teman sekelas saya berdandan dengan kostum ciri khas Halloween. Ada pula yang sekadar meriasi wajah ala Halloween. Dengan lipstik hitam, penuh darah, sekaligus pucat misalnya. Sebuah upaya menyeramkan.

Namun, yang pasti momen Halloween bagi saya adalah momen mendapatkan banyak cokelat. Pun begitu dengan yang lain. Biasanya pada malam hari, orang-orang Amerika atau mereka yang ingin merayakannya keluar dari rumah dan mengenakan berupa-rupa kostum yang dianggapnya menyeramkan.

Sebagai sebuah perayaan budaya yang diikuti dengan bersenang-senang tentu tidaklah wajar rasanya jika perayaan Halloween justru menciderai etnik atau segolongan orang tertentu. Kostum-kostum Halloween adalah kostum representatif, misalnya, kostum nenek penyihir berarti merepresentasikan karakter si nenek penyihir. Kostum-kostum tersebut seperti halnya kostum-kostum hantu sampai sehantu-hantunya bersifat umum dan tidak secara inklusif menggambarkan satu ras, etnis, atau suku tertentu.

Tetapi hal inilah yang pernah (dan mungkin masih akan) terjadi di Amerika Serikat sendiri. Persoalan identitas dan etnis adalah isu panjang dan sensitif di Amerika Serikat terutama jika ditilik jauh ke dalam ruang sejarah Amerika Serikat, dan lebih terutama lagi jika dikaitkan dengan Suku Indian, suku pribumi sebelum Columbus dan rombongan datang. Mereka yang kemudian melakukan tindakan represif terhadap Indian.

Poster “We’re a culture, not a costume” dilatarbelakangi oleh kelatahan beberapa orang Amerika yang mengenakan kostum suku Indian dalam perayaan Halloween. Tak pelak tindakan ini memancing kemarahan beberapa orang Indian atau memiliki pertalian darah dan hubungan emosional dengan etnis tersebut.

Beberapa sekolah atau kampus, terutama yang digerakkan oleh orang-orang yang menaruh kepedulian pada isu-isu identitas, mengadakan workshop dan edukasi untuk memahamkan ke orang-orang sebelum mengenakan atribut etnis tertentu. Sebab bisa jadi mereka adalah orang-orang baik namun tidak menyadari bahwa tindakannya melukai perasaan orang lain.
Seorang yang bukan asli dari suku tersebut sah-sah saja ketika orang lain mengenakan kostum tersebut. Justru orang-orang tersebut merasa terhormat jika orang lain mengenakan pakaiannya. Apalagi jika yang menggunakannya adalah figur terkenal semisal.

Namun, bisa jadi penggunaan kostum tersebut tidak dalam konteks yang sesuai. Sepertinya halnya orang-orang yang menggunakan kostum suku Indian dalam perayaan Halloween.

Pakaian adat atau traditional memiliki seperangkat nilai dan filosofi hidup yang dianut teguh oleh orang-orangnya. Dan ketika kostum tersebut dikenakan pada tempat yang tidak sesuai, pengenaan kostum tersebut bisa dipahami berbeda nilainya dengan orang lain.

Hal yang sama bisa terjadi dengan orang Indonesia yang menggunakan kostum orang Jawa, terlepas apakah ia orang Jawa atau bukan. Namun, seperti halnya Mita, saya meyakini jika bisa jadi akan banyak orang Jawa yang keberatan dengan tindakan tersebut.

Sayang, Mita mungkin tidak sempat memotretnya dan membuatnya viral.

Avatar

Arief Balla

Sedang menempuh studi master TESOL and Applied Linguistics di Southern Illinois University Carbondale, Amerika Serikat dengan beasiswa Fulbright.

Tentang Penulis

Avatar

Arief Balla

Sedang menempuh studi master TESOL and Applied Linguistics di Southern Illinois University Carbondale, Amerika Serikat dengan beasiswa Fulbright.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.