Locita

Mengapa Orang Indonesia Tidak Disiplin PSBB?

Ilustrasi (Foto: Grid.id)

Bukan makanan yang membuat saya “shock” atau lazim disebut “reverse-culture shock” saat kembali ke tanah air. Di Amerika Serikat (Amrik) saya terbiasa masak sendiri makanan Indonesia sehingga makanan soal tidak jadi soal, meski saya harus tetap menahan beberapa hari sebelum menyantap Coto Makassar dan teman-temannya.

Yang tidak saya antisipasi adalah kedisiplinan. Bukan kedisiplinan aturan untuk menaati isyarat lampu lalu lintas yang sedikit banyaknya telah saya antisipasi. Tetapi ketidaksiplinan perihal waktu. Untuk beberapa waktu lamanya, saya lebih memilih untuk menggunakan mobil sewa. Saya sudah berjaga-jaga jika supirnya bisa terlambat 10-15 menit.

Sial, ternyata keterlambatannya bisa menjadi 30 menit, 1 jam, bahkan 2 jam. Pernah pula dibatalkan tiba-tiba setelah menunggu 5 jam. Semua hal itu membuat jengkel bukan main dan merasa stres menghadapi kebiasaan buruk ini.

Dan ternyata ketidaksiplinan juga masih terjadi saat mengisi beberapa acara. Saat balik saya memang diundang selalu membawakan materi untuk seminar, talkshow, atau workshop. Saya tentu hadir sesuai waktu yang telah ditentukan. Saya selalu mendisiplinkan diri untuk hadir paling telat 10 menit sebelum acara dimulai.

Meski adalah normal di negeri ini jika pemateri yang membuat peserta menunggu, tetap saja ada perasaan bersalah jika membuat peserta harus membuang waktunya menunggu. Sementara sebenarnya mereka mungkin bisa menggunakan waktu itu untuk hal produktif yang lain. Sayangnya, terlalu sering saya menghadiri acara dan saya harus menunggu 15 menit, 30 menit bahkan satu jam. Waktu selama itu bisa saya gunakan untuk mengetik atau hal bermanfaat yang lain.

Kejadiannya berkali-kali sehingga sedikit banyaknya mempengaruhi mental saya. Saya mulai tidak secepat seperti dulu ketika menghadiri acara. Hal ini membuat saya sadar bahwa betapa pun disiplinnya saya namun jika lingkungan tidak mendukung maka lambat laun saya pun akan turut terpengaruhi.

Cerita ini hanya pengantar saja. Tetapi bisa jadi menjadi pengalaman bagi kebanyakan bagi kita. Manusia –terlepas dari apapun bangsanya- bisa bersikap dan menyesuaikan diri sesuai dengan kondisi tempatnya berada. Betapa pun disiplinnya atau betapa pun tidak disiplinnya. Saya memahami diri sebagai orang yang sangat disiplin, terutama setelah kembali dari negara yang juga disiplin seperti Amrik, tetapi kedisiplinan saya bisa saja digerus oleh keadaan yang terus menerus berulang. Hal sebaliknya juga seperti itu.

Orang Indonesia –sebandel apapun- ketika ia di Tokyo maka ia akan tetap membuang sampah pada tempatnya. Kalau ia berjalan-jalan di Singapura maka ia tidak akan meludah ke sembarang tempat. Kalau di Washington maka ia akan datang tepat waktu sesuai dengan jadwal yang disepakati. Mengapa mereka bisa sedisiplin itu?

Sebab mereka sadar konsekuensinya. Hukumannya. Kita pinggirkan dulu sebab kesadarannya karena kesadaran diri memang selalu butuh waktu. Setidak-tidaknya untuk jangka pendek mereka sadar selain karena hukum pidana atau denda yang tidak main-main dan yang terpenting mereka pasti diproses jika melanggar.

Salah satu alasan mengapa aturan di negara-negara maju bisa ditaati oleh semua orang sebab aturannya jelas dan hukum pasti berlaku kepada mereka. Siapapun dia. Mereka tidak memiliki hak veto jika kedapatan melanggar. Suatu hal yang sangat mewah di Indonesia. Di negara di mana kita sering mengutuk penjajah yang melanggar tetapi kita sendiri sering melanggar dan menjajah sesama dalam bentuk yang lain.

Orang-orang yang tahu aturannya, tahu konsekuensinya, tahu kepastian aturan dan pelaksanaan hukumannya akan sadar
bahwa pelanggarannya –jika tidak membuatnya sadar—maka tidak akan membuatnya cukup berani melanggar. Satu jenis kesadaran kelas bawah yang cukup membuatnya mematuhi aturan.

Elemen-elemen tersebutlah yang tidak kita miliki sehingga PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) tidak berjalan efektif. Di Makassar, bahkan PSBB hanya seperti dongeng. Kenyataannya sehari setelah pemberlakuan PSBB, Makassar tetap saja macet. Orang-orang tetap berkerumun di luar. ‘Gayana ji’.Orang Bugis-Makassar menyebutnya demikian.

Dan kita tahu sebelum lebaran. Orang-orang menyerbu mal-mal dan tempat-tempat perbelanjaan. Protokol kesehatan adalah omong kosong belaka. Tidak ada ‘physical distancing’. Tidak semua memakai masker. Dan kita tahu besoknya. Jumlah kasus bertambah. Di Sulawesi Selatan, jumlah kasus telah melampaui jumlah Jawa Tengah, yang penduduknya berkali-kali lebih banyak dari Sulsel.

Kepatuhan terhadap aturan belum menjadi sistem di negara ini. Di Amrik ada beberapa yang melanggar juga. Tidak membuang sampah pada tempatnya. Melanggar lalu lintas dan batas kecepatan. Tetapi jumlahnya jauh lebih sedikit dibandingkan mereka yang patuh. Di Indonesia, saya percaya ada yang patuh membuat sampah pada seharusnya, disiplin berlalu lintas dan tepat waktu tetapi jumlahnya jauh lebih sedikit dibandingkan mereka yang melanggar.

Kedisiplinan belum menjadi sistem. Belum menjadi karakter. Belum menjadi kebiasaan sebagai bangsa bangsa, kelompok, dan keluarga. Baru sebatas kedisiplinan pribadi atau paling tinggi komunitas, itu pun seringkali hanya pada waktu tertentu. Tidak terus menerus.

Pemerintah dengan seperangkat kewenangannya bisa mendisiplinkan dan membuat lebih banyak orang patuh. Sistem akan lebih mudah dibentuk dari atas. Kenyataannya pemerintah tampaknya tidak tegas. Setengah-setengah dan lamban. Aturan tidak jelas. Tidak satu komando dari pusat.

Masyarakat menjadi bingung sendiri. MUI Daerah melarang berjamaah di masjid, tetapi ada pula aturan atas nama MUI membolehkan pada kondisi tertentu. Pemerintah menghimbau tinggal di rumah tetapi justru mengizinkan mal dan pusat perbelanjaan dibuka. Pemerintah seperti pura-pura tidak tahu watak masyarakat kita seperti apa.

Dan ketika kasus semakin bertambah. Pemerintah berlagak seperti negara-negara lain yang lebih disiplin. Pemerintah menyebutnya ‘new normal’ dengan protokol kesehatan yang tetap padahal pemerintah tahu sedang PSBB saja banyak masyarakat tidak mematuhi. Jumlah yang banyak melanggar ini kemudian bisa mempengaruhi mereka yang sebenarnya disiplin pada mulanya. Protokol kesehatan hanya menjadi simbol belaka.

Masyarakat yang selama ini telah disiplin mematuhi aturan kemudian kesal dan kemudian berubah menjadi marah, seperti yang saya rasakan misalnya.

Arief Balla

Arief Balla

Pengajar tetap di Institut Parahikma Indonesia/Wakil Direktur Lembaga Literasi KNPI Sulawesi Selatan

Tentang Penulis

Arief Balla

Arief Balla

Pengajar tetap di Institut Parahikma Indonesia/Wakil Direktur Lembaga Literasi KNPI Sulawesi Selatan

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.