Locita

Mengapa Mereka Membakar Mira, Hidup-hidup?

Ilustrasi (Foto: Istimewa)

Mira, seorang waria dari Makassar merantau ke Jakarta. Di Cilincing, ia dibakar hidup-hidup. Polisi menangkap pelakunya dengan tuduhan pengeroyokan, bukan pembunuhan. Keadilan selalu saja tidak berpihak pada mereka yang minoritas.

Siapa Mira? Mira memang bukan orang penting! Karena itu barangkali Anda juga bertanya-tanya dengan malas siapakah dia? Mira seorang waria dari Makassar yang merantau ke Jakarta. Tanpa KTP. Tanpa pendidikan. Tanpa nasib jelas. Bertahun-tahun dahulu. Tetapi suatu saat bisa jadi ia mewakili ketidakadilan yang Anda alami di negeri ini. Mudah-mudahan saya keliru. 

Di tengah ketakutan kepada virus pembunuh corona, berita kematian pembunuhan Mira menjadi tidak penting. Ah dari dulu penindasan dan ketidakadilan kepada waria memang tidak pernah penting di negeri ini. Mungkin karena kita memang hanya melihatnya setengah manusia. Separuh perempuan, separuh laki-laki. Tetapi nyawa tetaplah nyawa. Nyawa tetaplah satu. Tidak tergantikan.

Jika saya menulis ini bukan semata-mata karena saya membela Mira. Bukan bentuk pembelaan saya pada mereka waria.  Kelompok yang belum diterima di masyarakat Indonesia, bahkan keluarganya sendiri.

Bukan pula karena saya pernah bersekolah di Amerika Serikat. Negara di mana kamu bisa melakukan apapun itu sepanjang tidak merugikan orang lain.

Di minggu pertama orientasi akademik di California, materi yang diberikan adalah LGBT. Bahkan di akhir kelas ada semacam janji untuk mengakui orientasi seks yang berbeda dari yang lazim tersebut. Saya menulis, mengucapkan, dan menandatangani semata-mata karena formalitas belaka. Bukan itu yang membuat saya menaruh simpati pada Mira dan menuliskan esai ini.

Bukan pula karena di kampus saya di Amrik sana, saya mengenal seorang aktivis LGBT. Setiap hari –ya setiap hari—ke mana pun dia pergi – ke kantin, kelas dan perpus- ia akan membawa bendera yang cukup besar, berbentuk strip dan berwarna merah jambu dan biru berselang-seling.

“Itu bendera pegiat LGBT.” Kata Khalid, kata teman Arab saya.

Sesekali kami membincangkan mereka. Bahwa kami sampai kapan pun tidak akan pernah membenarkan pilihan mereka itu.

“Tetapi kita menghormati pilihannya. Menghargainya sebagai manusia.” Kata Khalid dan itu poin yang kami sepakati.

Bahwa ia adalah gay adalah satu hal. Aktivis itu adalah seorang staf perpustakaan. Dari jauh ia sudah tersenyum. Menyapa. Memberikan ucapan selamat belajar dan terutama di minggu final penghujung semester dia akan menyemangati. Beberapa kali saya merasa terharu mendapatkan dukungan moral seperti itu. Yah namanya juga hidup sendiri di tanah rantau.

Sikap saya pada Mira, sama halnya sikap saya pada perempuan dalam beberapa hal. Bukan karena saya pegiat feminisme lantas saya membela perempuan. Saya beberapa kali menulis tentang perempuan bukan karena saya adalah pengikut feminisme. Bukan karena saya membela mereka. Saya melakukannya karena saya membela nilai-nilai yang saya yakini. Bahwa keadilan harus ditegakkan, siapa pun dia, apapun jenis kelaminnya.

Mira juga adalah hal yang sama. Bahwa ia adalah waria, alias bencong, adalah satu hal. Kita bisa setuju dan berdebat panjang soal ini.

Tetapi bahwa MIra dikeroyok sekitar 25 orang, disiram bensin, dibakar, lalu api menjalari tubuhnya sampai rambutnya habis dan hangus, dijerembabkan ke got, lalu berusaha bangkit menyelamatkan nyawanya, ditolong beberapa orang di dekat Mushala, beberapa orang menolongnya ke rumah sakit, dan takdir kemudian mengakhiri hidupnya. Dan kita tahu kisah ini bukan di novel atau film horor. Kenyataan ini terjadi di Cilincing.

Ada 25 orang yang memiliki segumpal hati itu ternyata tidak bisa menyelamatkan seorang yang lemah tak berdaya. Mereka justru membantu dan tidak melakukan apa-apa ketika Mira tidak lagi dapat menyelamatkan dirinya. Tragis dan biadab. Apakah bedanya mereka dengan virus corona? Oh virus corona bisa jadi sedikit lebih baik. Paling tidak, ia tidak membakar manusia hidup-hidup.  

Polisi bertindak dan menahan beberapa pelaku yang dicurigai. Mereka ditahan dan dikenai pasal pengeroyokan. Iya pengeroyokan. Bukan pembunuhan. Apakah arti sebuah nyawa seorang waria seorang manusia bagi polisi?

Barangkali nyawa seorang waria berbeda dengan seorang laki-laki dan perempuan. Nyawanya mungkin berbeda dari nyawa istri anaknya atau nyawanya sendiri. Bahwa nyawa ternyata punya harga sendiri, yang berbeda satu sama lain. Bahwa semua sama di depan hukum, tetapi belum tentu sama di depan aparat: polisi, pengacara, dan jaksa.

Kasus kematian seperti itu begitu mudah diselesaikan tanpa harus berpikir dan menimbangnya di hati. Kematian orang-orang pinggiran dan dipinggirkan seperti Mira. Orang-orang minoritas –apalagi jika minoritas ganda seperti Mira (waria dan tua)–. Mereka tidak dapat membela Mira keadilan karena hati yang mereka miliki semata-mata hanya segumpal darah dan daging untuk hidup. Tidak lebih.

New York Time mewartakan berita ini dengan sedih. Bahwa Kepolisian Indonesia tidak mengenakan pasal pembunuhan kepada  Mira. Pembunuhan mungkin berbeda arti dan definisinya kepada setiap orang, tergantung statusnya. Polisi yang menentukannya. Dan semua bisa diatur. Sebab siapa dan apalah artinya dia.

Mira yang telah malang selama hidupnya, ditolak masyarakat dan keluarganya karena orientasi seksualnya itu, merantau ke Jakarta, menjadi pekerja di salon, tukang penjaja seks, karena negara barangkali tidak dapat membantunya –untuk tidak menyebutnya telah mengucilkannya–. Tetapi ia tetap berjuang, mempertahankan hidup dengan sisa-sisa yang dimilikinya.

Saya tidak bisa membayangkan Mira melewati tahap demi tahap dalam hidupnya. Bukan persoalan mudah bertahan dengan situasi kejiwaan dan goncangan kebatinan. Depresi adalah pembunuh tanpa wajah yang selalu berjalan di sampingmu dan bisa membunuhmu kapan dan di mana saja. Mira berhasil mempertahankan diri dan memenangkan semua pertarungan dalam jiwanya.

Ia bertahan hidup, mempertahankan nyawanya, satu-satu harta yang mungkin dimilikinya itu, dengan melakukan apa yang bisa diperbuatnya. Hingga tahun demi tahun berganti dan usia menguras tubuhnya. Usianya pun tidak diketahui pasti. Ada yang menyebutnya 42 tahun. New York Times menulis 43 tahun. Dia memang tidak memiliki KTP. Keluarga bahkan tidak mengakuinya. Sekali lagi. Dia bukan siapa-siapa.

Dan kita tahu kisah akhirnya, ternyata bukan depresi yang membunuhnya. Tetapi orang-orang yang tidak berperasaan itu. Dan polisi –yang dibayar negara itu—mengurus kasusnya untuk melengkapi ketidakadilan di negeri ini.

Mira, pulanglah. Entah di manapun kamu ditempatkan, neraka atau surga, kamu kini bisa mengadu terhadap Tuhan yang maha adil, yang mungkin tidak sempat menyelamatkanmu malam itu.

Arief Balla

Arief Balla

Pengajar tetap di Institut Parahikma Indonesia/Wakil Direktur Lembaga Literasi KNPI Sulawesi Selatan

Add comment

Tentang Penulis

Arief Balla

Arief Balla

Pengajar tetap di Institut Parahikma Indonesia/Wakil Direktur Lembaga Literasi KNPI Sulawesi Selatan

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.