Locita

Mengapa Ibu-Ibu Pengajian Perlu Mempelajari Sastra

EKA Kurniawan pernah hampir mati berdiri, ketika seorang ibu berkata kepadanya seperti ini “Sebagai orang Indonesia, kenapa Mas Eka nulis novel dalam bahasa Inggris, enggak dalam Bahasa Indonesia saja?” Setelah itu kalimat selanjutnya bisa menjadi “Ketidakpedulian itu kunci bertahan hidup, kawan.” Hahahaha.

Saya yakin tidak semua ibu-ibu memiliki ketidakpedulian seperti yang Eka Kurniawan pernah temukan. Masih ada, masih banyak ibu yang punya stok kepedulian, ibu-ibu yang aktif dalam pengajian misalnya.

***

Begitu banyak pertanyaan memutari lapangan kesusastraan, mulai dari persoalan berbentuk teori, struktur, dan sejarah sastra hingga pertanyaan yang paling sering ditujukan, “Apa pentingnya mempelajari sastra?”

Seorang negarawan, John F. Kennedy pernah mengatakan Jika politik itu kotor, puisi akan membersihkannya. Jika politik itu bengkok, sastra akan meluruskannya.” Jika merujuk pada kata-kata tersebut, sastra bukanlah karya yang hanya berbentuk dongeng dan puisi malam. Tapi berhubungan dengan politik bahkan lebih besar lagi pada sebuah revolusi. Sudah tentu pengajaran tentang sastra sangat penting dan dibutuhkan oleh suatu negara.

Sejak saya mengenal tembok sekolah dari Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah. Guru-guru mengajarkan pelajaran mengarang dengan tema Liburan ke Rumah Nenek. Kita tidak pernah dijelaskan mengapa liburan ke rumah nenek itu perlu dituliskan. Atau mengapa temanya selalu berlibur ke rumah nenek. Mengapa temanya tidak diganti dengan yang lain, misalnya “Gigi Palsu Nenekku Jatuh di Bawah Pohon Rambutan” atau “Kakekku Memelihara Harimau di Kukunya”. Mengapa oh mengapa tema “Liburan ke Rumah Nenek” selalu menjadi favorit?

Dulu saat sekolah, sulit untuk menemukan buku-buku sastra di perpustakaan. Bahkan saat SMA saya harus merelakan diri masuk IPA karena jurusan Bahasa ditutup. Memang tidak ada cela untuk mempertahankan jurusan tersebut. Jurusan itu tidak memiliki peminat, tidak ada pengajar yang berkompeten untuk mengajarkan dan kepustakaan tentang bahasa dan sastra yang sangat minim.

Pengajaran sastra sejak kecil bisa menghilangkan ruang-ruang eksklusif bahwa sastra hanya bisa dinikmati oleh para penulis dan pembaca sastra. Sehubungan dengan itu banyak yang belum mafhum jika pengajaran sastra adalah salah satu ikhtiar dari perubahan karakter bangsa. Tetapi satu hal yang tidak lagi ditolak adalah proposisi yang menyatakan: manusia ditemukan oleh kata, oleh bahasa.

Sastrawan dan budayawan, Radhar Panca Dahana mengatakan bahkan sebagian pemikiran, purba maupun modern mengafirmasi bagaimana semesta ini ada melalui kata-kata. Dalam arti, bermakna ketika ada kata-kata yang memberinya sambutan, memberi nama dan makna. Bukan hanya kata kutip ”kun” (jadilah) tapi ada mantra yang menjadikan semesta ini terbentuk.

Ayat pertama dari kitab suci Islam pun menyebutkan “ Iqra’” (bacalah), yang menjadi inspirasi manusia untuk memahami bahasa (kalam) yang tersebar di setiap inci semesta ini. Sebagai perangkat dasar manusia untuk mengetahui makna, menyadari keberadaannya. Begitu pentingnya pengajaran sastra, bahasa dan aksara sebagai bagian dari kebudayaan manusia.

Hal itu tidak terlepas dari keinginan dan tanggung jawab kita. Juga orang tua utamanya tenaga pendidik, Mama Dedeh, Kyai Saleh, dan ibu-ibu pengajian.

Saya berdoa dengan sungguh-sungguh semoga saja tokoh Elias Rukla dalam novel Aib dan Martabat karangan Dag Solstad ada dalam kehidupan nyata. Seorang guru sastra yang penuh penghayatan mengajarkan teks-teks sastra. Drama Itik Liar salah satunya.

Namun ditengah anggapannya bahwa sastra adalah temuan besar peradaban manusia, ternyata para siswa tidak bisa mengerti itu. Mereka belajar di kelas Elias dengan penuh kebencian, dan ketika lonceng berbunyi mereka berhamburan keluar kelas dengan gembira.

Mungkin mereka akan mengerti sastra saat para ibu mengajarkannya sejak kecil membaca cerita, dongeng, atau teks sastra lainnya. Saya berpikir bagaimana jika pelajaran sastra ini diperuntukkan untuk ibu-ibu pengajian yang sadar betul tentang kemanusiaan dan keilahian. Yah, seandainya Mama Dedeh mau membaca Eka Kurniawan Cantik itu Luka atau Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas kemudian menceramahkannya di depan ibu-ibu anggota pengajian.

Jika terlalu jauh, pilihan lainnya membaca novel Calabai karya Pepi Al Bayqunie. Dalam Islam, status Calabai itu ditempatkan seperti apa? Dengan seperti itu, anggota pengajian justru diajak berpikir jika ada realitas yang lebih kompleks yang perlu dijawab ummat Islam. Tentunya, selain meninabobokan mereka dengan zikir.

Saya yakin Mama Dedeh bisa membuat jamaahnya lebih mudah mafhum tentang ilmu fiqh dan hadis-hadis tentang perempuan. Bagaimana jika ada perempuan yang membunuh laki-laki karena laki-laki tersebut memperkosanya? Dalam Islam seperti apa hukumnya?

Realitas sosial dan masalah keumatan bisa dibongkar dalam teks-teks sastra. Tidak ada yang bisa mewujudkan dan mengembalikan sastra hari ini dari anggapan bahwa sastra adalah salah satu penemuan peradaban manusia terbesar, selain ibu-ibu pengajian.Sekalipun itu mahasiswa-mahasiswa yang mengambil jurusan sastra dan masih mempertanyakan apa tujuannya mempelajari sastra.

Ibu-ibu pengajian justru memiliki semangat juang, keberanian untuk melakukan apa saja yang dicita-citakannya. Bahkan bisa menghabiskan waktu yang lama untuk membuat baju seragam majelis ta’lim, mereka sanggup melakukannya.

Yudi Latief pernah mengatakan jika perubahan kebudayaan dalam menyemai karakter bangsa Indonesia harus dimulai dengan revolusi kata, bahasa, dan sastra. Sebab manusia bermula pada sumbu kata dan akan berakhir pada kata pula. Jika ada yang tidak beres dalam hidup kita, kita bisa tengok, mungkin ada yang salah dari kata-kata yang kita tuturkan.

Ais Nurbiyah Al-Jum’ah

Ukhti Garis Seberang.

Add comment

Tentang Penulis

Ais Nurbiyah Al-Jum’ah

Ukhti Garis Seberang.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.