Esai

Mengapa Alumni 212 “Pecah”?

BEBERAPA hari terakhir ini kembali pemberitaan tentang dinamika kelompok 212. Kelompok tersebut mempunyai beberapa nama sekaligus sama-sama menggunakan embel-embel 212. Sebagaimana jamak diketahui, istilah 212 muncul dari Aksi Bela Islam pada 2 Desember 2016 yang lalu.

Beberapa nama terkait adalah Presidium Alumni 212, Persaudaraan Alumni 212 dan Garda 212. Pada awalnya hanya muncul nama Presidium Alumni 212. Belakangan diganti dengan Persaudaraan Alumni 212, namun terakhir, ada lagi kelompok yang tidak menyetujui pertukaran nama ini.

Akan halnya Garda 212, dibentuk dengan tujuan menyalurkan orang-orang yang berminat masuk ke dunia politik praktis. Partai yang dikatakan sudah berkoordinasi adalah Gerindra, PKS, PBB dan PAN. Akan tetapi, seperti diberitakan Detik.com kelompok Persaudaraan Alumni 212 menyatakan bahwa Garda 212 bukanlah bagian dari mereka.

Tokoh alumni 212 menolak bahwa situasi ini adalah perpecahan. “Banyak jalan menuju Mekkah,” seperti yang dikatakan Aminuddin, juru bicara Presidium Alumni 212.

Meskipun demikian, kalau dicermati,  kenyataan ini sebetulnya cukup miris. Sebab istilah Aksi Bela Islam yang digunakan tempo hari, ternyata menghasilkan faksi-faksi peserta kegiatan tersebut. Alih-alih membela Islam sesuai namanya, kenyataan ini memperlihatkan betapa tidak bersatunya umat Islam.

Hanya saja pada waktu kegiatan tersebut berlangsung, klaim pemersatu umat Islam adalah isu Ahok. Itupun tidak semua umat Islam Indonesia yang menyepakati.

Pertanyaan yang menggelitik adalah, mengapa mereka pada akhirnya menjadi beberapa kelompok? Kalau jawabannya perbedaan kepentingan, itu adalah hal yang lumrah. Kalau sama, tentu mereka tidak akan mempunyai banyak faksi. Kepentingannya apa tentu harus ditelusuri lebih lanjut.

Bagi saya, kenyataan ini dapat terjadi karena mereka kehilangan misi bersama. Ya, dulu ada Ahok yang dikatakan telah melakukan penistaan terhadap agama Islam. Kata “penistaan” ini lalu disebarluaskan dan menjadi kekuatan untuk menggalang massa aksi dari berbagai penjuru. Aksi ini berhasil dan seputaran Monas menjadi lautan manusia untuk menuntuk Ahok supaya dihukum.

Kini Ahok sudah di balik terali penjara. Kalau aksi demonstrasinya seperti yang lazim dilakukan, tentu akan berakhir. Namun 212 lain. Momentum ini dieksploitasi sedemikian rupa hingga menghadirkan alumni dan bahkan reuni.

Akibat tidak adanya isu bersama yang mempersatukan, jadilah para alumni tersebut terkotak-kotak. Reuni yang sering membuat cinta lama bersemi kembali, malah menghasilkan tiga kelompok alumni.

Isu asing-aseng yang sempat hadir waktu reuni juga tidak mampu menyatukan mereka. Mungkin terlalu abstrak, sehingga butuh penelitian yang mendalam untuk mencermatinya supaya tidak rasis. Serta, harus mempunyai argumentasi yang dalam karena dialamatkan kepada Presiden Jokowi.

Selain kehilangan misi bersama, fragmentasi kelompok ini terjadi akibat hilangnya tokoh kharismatik yang mempersatukan mereka, Habib Muhammad Rizieq Shibab. Imam Besar FPI itu hingga kini belum kembali pulang ke Indonesia. Meskipun sudah berkali-kali tersiar kabar mengenai kepulangannya.

Menunggu kepulangan Habib Rizieq cukup sulit. Dan juga tidak diketahui alasan sebenarnya mengapa tokoh tersebut berlama-lama di luar negeri. Namun yang pasti, beberapa kasus sudah menunggunya kalau pulang. Mulai dari kasus Jenderal otak Hansip, Pancasila Soekarno yang Ketuhanan ada di pantat, hingga kasus bidan kelahiran Tuhan yang dianggap umat Kristiani menodai agama mereka.

Tidak adanya tokoh ini membuat fungsi koordinasi dan konsolidasi gerakan tidak berjalan dengan baik. Efeknya, beberapa orang mencoba mengambil peran itu melalui kelompok yang dibuat. Ternyata kharisma mereka belum sekelas Habib Rizieq. Hasilnya bukanlah konsolidasi, namun fragmentasi.

Memang ada beberapa tokoh lain yang ikut menjadi punggawa aksi 212 seperti Ustas Bachtiar Nasir dan Prof. Amien Rais. Namun Ustadz Bachtiar Natsir tidak muncul dalam dinamika kelompok alumni 212 itu. Akan halnya Amien Rais, mendapat posisi sebagai ketua Penasihat Persaudaraan Alumni 212. Meskipun tokoh reformasi, Amien Rais juga tidak bisa menggantikan posisi Habib Rizieq sebagai figur kharismatik pemersatu alumni 212. Nampaknya kharisma Amien Rais sudah redup seiring usia semakin senja.

Kondisi adanya faksi dalam alumni 212 sedikit banyak membenarkan anggapan bahwa aksi tersebut sebetulnya tidak murni alasan agama. Namun ada unsur politiknya dengan istilah kelompok Islam Politik. Apalagi dengan kehadiran Garda 212 yang siap menyalurkan calon politisi berbakat kedalam empat partai.

Dalam Garda 212, uniknya, keempat partai tempat penyaluran alumni 212 bukanlah semuanya partai Islam. Hanya PBB dan PKS yang merupakan partai Islam. Gerindra dan PAN berasaskan Pancasila. Ada kontradiksi cita-cita Islam politik ketika melihat kenyataan ini. Sebab, apabila sudah masuk kedalam partai, negosiasi dan kompromi akan berlangsung.

Situasi ini pada akhirnya juga akan menambah pusing massa peserta aksi 212 yang datang dari daerah. Bagi mereka aksi tersebut murni urusan keagamaan. Kenyataan paska aksi yang mereka saksikan, wajar kalau mereka berpikir tidak ada bedanya antara elit alumni 212 dengan partai politik yang kadang kala berkubu dan kemudian menyatu lagi.

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

M Farid Salman Alfarisi RM

Pengamat Psikologi Sosial dan Penikmat Studi Islam

Previous post

Becak Hidup Lagi, Siapa Pebisnis Diuntungkan Anies?

Next post

Kenapa, Jika Anak Saya Sekolah di PAUD